Aku
menggigiti kuku. Entah untuk yang keberapa kali dalam satu jam ini. Kebiasaan
buruk bila kegelisahan mulai menyergap. Di sampingku, Embun setia duduk
bersedekap. Tatapannya lurus, memandang jejeran nisan dengan ilalang yang kian
meninggi.
“Aku
sudah membaca suratmu.” Ujarnya memecah kesunyian. Aku menghela napas, sudah
menduga kalimatnya. Yah… sebentar lagi dia pasti akan tertawa. Aku memang
konyol, bercerita tentang kisah cinta melankolis seperti dalam drama-drama FTV
padanya. Kisah cinta yang berakhir pada dua kata. Patah hati.
Huft…aku
memang bukan Cinderella si memikat pangeran di pesta topeng. Aku juga bukan
Snow White yang dibebaskan pria tampan dari sihir jahat. Bukan pula Dayang
Sumbi, gadis cantik nan menawan Bandung Bondowoso. Mungkin benar kata seorang
temanku, pria baik memang hanya ada dalam dongeng pengantar tidur.
“Kau
ini suka sekali melamunkan hal-hal tak penting!” tegur Embun membuatku
tergeragap. Kembali ke dunia nyata. Aku nyengir menatap Embun yang tampak
kesal. Ups, jangan-jangan karena terlalu
asyik melamun aku tak mendengar kata-kata ataupun pertanyaannya lagi. Seperti
biasa.
“Jadi,
apa tujuanmu menulis surat itu? Aku yakin bukan sekadar ingin curhat tentang
patah hatimu. “ tanya Embun serius.
Aku
tergelak. Inilah bedanya Embun dengan kawan-kawanku. Siapapun yang membaca
suratku akan berpikir itu tak lebih dari tulisan kesedihan seorang gadis patah
hati. Namun, Embun mampu melihat hal lain dari coretanku.
“Banyak
yang bilang cinta itu absurd. Aku percaya itu, tapi aku juga yakin kalau cinta
itu konkret. Dia nyata, tak hanya dirasakan, bisa pula kita lihat. Dan, cintaku
pada orang itu membuatku melihat cinta yang lain. Cinta yang jauh lebih hebat.
Cinta yang menjadikan air mata tak semata bentuk emosi. Cinta yang mampu
menggetarkan semesta ini. Cinta yang…”
“Cinta
yang membuatmu merasa seperti seorang pengkhianat,” tukas Embun cepat. Aku
terpana menatapnya. Ya, dia benar. Tepat seperti yang kutulis. Aku memang
merasa seperti pengkhianat. Semakin nyata cinta itu, semakin besar rasa
bersalah bersarang di hatiku.
“Lupakan
tentang pengkhianat atau apapun istilah yang kau ciptakan. Jatuh cinta bukan
kesalahan. Kau sendiri menulis bahwa itu fitrah. Jadi, kenapa harus merasa
berkhianat?” Embun menggenggam jemariku lembut.
“Kesalahan
terbesar manusia ketika ia jatuh cinta adalah dia lupa siapa pencipta cinta
sesungguhnya. Dia lupa seperti apa cinta sejati itu. Dia hanya menatap apa yang
ada di hadapannya, bukan siapa yang ada di baliknya. Dan, aku yakin hatimu tak
memilih jalan itu.”
Aku
menghela napas. “Aku hanya perlu belajar. Belajar memaknai cinta dari sudut
pandang lain hingga tak perlu merasa seperti pengkhianat. Begitukah?”
Embun
tersenyum.
“Kau
punya PR lain yang perlu kaupikirkan. Hmm… bagaimana bila dia yang membuatmu
patah hati ternyata membaca surat itu?” tanya Embun seraya mengerling jenaka.
Aku
tercengang. Samar kulihat Tuan Kabut mulai mendekat.