Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Jumat, 18 Januari 2013

MY DREAM:11



Aku menggigiti kuku. Entah untuk yang keberapa kali dalam satu jam ini. Kebiasaan buruk bila kegelisahan mulai menyergap. Di sampingku, Embun setia duduk bersedekap. Tatapannya lurus, memandang jejeran nisan dengan ilalang yang kian meninggi.

“Aku sudah membaca suratmu.” Ujarnya memecah kesunyian. Aku menghela napas, sudah menduga kalimatnya. Yah… sebentar lagi dia pasti akan tertawa. Aku memang konyol, bercerita tentang kisah cinta melankolis seperti dalam drama-drama FTV padanya. Kisah cinta yang berakhir pada dua kata. Patah hati.

Huft…aku memang bukan Cinderella si memikat pangeran di pesta topeng. Aku juga bukan Snow White yang dibebaskan pria tampan dari sihir jahat. Bukan pula Dayang Sumbi, gadis cantik nan menawan Bandung Bondowoso. Mungkin benar kata seorang temanku, pria baik memang hanya ada dalam dongeng pengantar tidur.

“Kau ini suka sekali melamunkan hal-hal tak penting!” tegur Embun membuatku tergeragap. Kembali ke dunia nyata. Aku nyengir menatap Embun yang tampak kesal. Ups, jangan-jangan karena terlalu asyik melamun aku tak mendengar kata-kata ataupun pertanyaannya lagi. Seperti biasa.

“Jadi, apa tujuanmu menulis surat itu? Aku yakin bukan sekadar ingin curhat tentang patah hatimu. “ tanya Embun serius.

Aku tergelak. Inilah bedanya Embun dengan kawan-kawanku. Siapapun yang membaca suratku akan berpikir itu tak lebih dari tulisan kesedihan seorang gadis patah hati. Namun, Embun mampu melihat hal lain dari coretanku.

“Banyak yang bilang cinta itu absurd. Aku percaya itu, tapi aku juga yakin kalau cinta itu konkret. Dia nyata, tak hanya dirasakan, bisa pula kita lihat. Dan, cintaku pada orang itu membuatku melihat cinta yang lain. Cinta yang jauh lebih hebat. Cinta yang menjadikan air mata tak semata bentuk emosi. Cinta yang mampu menggetarkan semesta ini. Cinta yang…”

“Cinta yang membuatmu merasa seperti seorang pengkhianat,” tukas Embun cepat. Aku terpana menatapnya. Ya, dia benar. Tepat seperti yang kutulis. Aku memang merasa seperti pengkhianat. Semakin nyata cinta itu, semakin besar rasa bersalah bersarang di hatiku.

“Lupakan tentang pengkhianat atau apapun istilah yang kau ciptakan. Jatuh cinta bukan kesalahan. Kau sendiri menulis bahwa itu fitrah. Jadi, kenapa harus merasa berkhianat?” Embun menggenggam jemariku lembut.

“Kesalahan terbesar manusia ketika ia jatuh cinta adalah dia lupa siapa pencipta cinta sesungguhnya. Dia lupa seperti apa cinta sejati itu. Dia hanya menatap apa yang ada di hadapannya, bukan siapa yang ada di baliknya. Dan, aku yakin hatimu tak memilih jalan itu.”

Aku menghela napas. “Aku hanya perlu belajar. Belajar memaknai cinta dari sudut pandang lain hingga tak perlu merasa seperti pengkhianat. Begitukah?”

Embun tersenyum.

“Kau punya PR lain yang perlu kaupikirkan. Hmm… bagaimana bila dia yang membuatmu patah hati ternyata membaca surat itu?” tanya Embun seraya mengerling jenaka.

Aku tercengang. Samar kulihat Tuan Kabut mulai mendekat.