Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Sabtu, 28 September 2013

MY DREAM: 12


Dia tersenyum. Seperti biasa. Sepasang mata hitamnya yang sejuk lembut menatapku. Tatapan yang justru membuatku kikuk, serba salah. Ah, aku ini masih saja mengulang kesalahan yang sama. Datang padanya ketika merasa dunia tak lagi peduli padaku. Saat semua orang menganggapku sebagai bayangan yang ‘kan hilang seiring padamnya cahaya.

“Kau ini selalu lupa. Bukankah sudah kukatakan, aku tak pernah peduli alasanmu datang kesini!” serunya seraya memasang raut cemberut. Bibirnya mengerucut. Ekspresi yang baru pertama kali ia tampilkan padaku.

Aku tergelak. Gegas menghampiri bangku panjang di bawah rindang cemara tempatnya bersandar.

“Lucu.” Ujarku di sela tawa. Dia tersenyum. Teduh.

“Yah… setidaknya itu membuatmu merasa lebih santai ‘kan?”

Keningku berkerut. “Maksudmu?”

“Entah benar atau tidak, tapi mungkin saja kau merasa sebuah perubahan besar sedang terjadi dalam dirimu,”

Ekspresiku masih sama.

Perlahan tangannya terulur, mengusap lembut kepalaku.

“Bukankah akhir-akhir ini seseorang membuatmu seringkali menangis? Kau merasa ditinggalkan, kecewa, kesal, bahkan marah karena dia tak pernah mau memahamimu juga orang-orang di sekelilingmu?”

Mataku melebar.

“Tiba-tiba saja kau menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Tanpa senyum, dingin, lebih memilih diam justru ketika orang menginginkan kau berkata-kata.”

Aku menghela napas. Dia selalu tahu tentangku. “Jadi, menurutmu aku pasti salah ‘kan?”

Dia berdecak pelan. “Kekanak-kanakan.”

Aku membisu. Jejeran nisan seolah menertawakanku dalam beku. Sementara tak jauh dari tempatku, Tuan Angin melempar senyum yang bagiku tampak seperti seringai di gulitanya malam. Dan, demi melihat semua itu, mataku berkaca-kaca. Situasi yang sungguh menyebalkan!

Embun kembali mengusap kepalaku. Perlahan.

“Tak ada yang salah. Ketika kau kecewa, kesal, bahkan marah, itu wajar. Kau manusia, punya emosi, punya hati. Jangan disesali.”

“Tapi, tadi kau bilang aku….”

“Yap…. Kekanak-kanakan. Kekanak-kanakan karena kekesalan juga amarah seringkali kau tunjukkan tidak pada waktunya. Kekanak-kanakan karena kau lebih sering mendengarkan suara-suara yang seringkali membawamu pada prasangka yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Satu lagi,  kau juga memilih tempat yang salah. Itu takkan pernah menyelesaikan masalah.” tuturnya lembut.

Aku menatap matanya. “Lalu, menurutmu apa yang harus kulakukan? Berpura-pura tersenyum, menyembunyikan semua emosi yang bergejolak di hati? Atau lebih baik tak usah peduli? Menganggap kalau sumber dari semua sikap kekanak-kanakkanku itu tak ada?”

Dia tergelak. Lantas berdiri seraya menatap semesta yang mulai menggeliat bangun.

“Bukankah hidup itu sandiwara? Jadi, bersandiwaralah di saat dan tempat yang tepat.”

Embun berjalan menjauh, merangkul Tuan Angin, lalu perlahan menghilang.


Tatapanku kabur.