Dia
tersenyum. Seperti biasa. Sepasang mata hitamnya yang sejuk lembut menatapku.
Tatapan yang justru membuatku kikuk, serba salah. Ah, aku ini masih saja
mengulang kesalahan yang sama. Datang padanya ketika merasa dunia tak lagi
peduli padaku. Saat semua orang menganggapku sebagai bayangan yang ‘kan hilang
seiring padamnya cahaya.
“Kau
ini selalu lupa. Bukankah sudah kukatakan, aku tak pernah peduli alasanmu
datang kesini!” serunya seraya memasang raut cemberut. Bibirnya mengerucut. Ekspresi
yang baru pertama kali ia tampilkan padaku.
Aku
tergelak. Gegas menghampiri bangku panjang di bawah rindang cemara tempatnya
bersandar.
“Lucu.”
Ujarku di sela tawa. Dia tersenyum. Teduh.
“Yah…
setidaknya itu membuatmu merasa lebih santai ‘kan?”
Keningku
berkerut. “Maksudmu?”
“Entah
benar atau tidak, tapi mungkin saja kau merasa sebuah perubahan besar sedang
terjadi dalam dirimu,”
Ekspresiku
masih sama.
Perlahan
tangannya terulur, mengusap lembut kepalaku.
“Bukankah
akhir-akhir ini seseorang membuatmu seringkali menangis? Kau merasa
ditinggalkan, kecewa, kesal, bahkan marah karena dia tak pernah mau memahamimu
juga orang-orang di sekelilingmu?”
Mataku
melebar.
“Tiba-tiba
saja kau menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Tanpa senyum, dingin,
lebih memilih diam justru ketika orang menginginkan kau berkata-kata.”
Aku
menghela napas. Dia selalu tahu tentangku. “Jadi, menurutmu aku pasti salah ‘kan?”
Dia
berdecak pelan. “Kekanak-kanakan.”
Aku
membisu. Jejeran nisan seolah menertawakanku dalam beku. Sementara tak jauh
dari tempatku, Tuan Angin melempar senyum yang bagiku tampak seperti seringai di
gulitanya malam. Dan, demi melihat semua itu, mataku berkaca-kaca. Situasi yang
sungguh menyebalkan!
Embun
kembali mengusap kepalaku. Perlahan.
“Tak
ada yang salah. Ketika kau kecewa, kesal, bahkan marah, itu wajar. Kau manusia,
punya emosi, punya hati. Jangan disesali.”
“Tapi,
tadi kau bilang aku….”
“Yap….
Kekanak-kanakan. Kekanak-kanakan karena kekesalan juga amarah seringkali kau
tunjukkan tidak pada waktunya. Kekanak-kanakan karena kau lebih sering
mendengarkan suara-suara yang seringkali membawamu pada prasangka yang tak bisa
dipertanggungjawabkan. Satu lagi, kau juga
memilih tempat yang salah. Itu takkan pernah menyelesaikan masalah.” tuturnya
lembut.
Aku
menatap matanya. “Lalu, menurutmu apa yang harus kulakukan? Berpura-pura
tersenyum, menyembunyikan semua emosi yang bergejolak di hati? Atau lebih baik
tak usah peduli? Menganggap kalau sumber dari semua sikap kekanak-kanakkanku itu
tak ada?”
Dia
tergelak. Lantas berdiri seraya menatap semesta yang mulai menggeliat bangun.
“Bukankah
hidup itu sandiwara? Jadi, bersandiwaralah di saat dan tempat yang tepat.”
Embun
berjalan menjauh, merangkul Tuan Angin, lalu perlahan menghilang.
Tatapanku
kabur.