Running round leaving
scars
Collecting your jar of
hearts
And tearing love apart
“Bahasa
Inggrismu jelek!”
Aku
tersentak. Sontak menoleh. Di sampingku, ia tegap berdiri. Bibirnya mengulas
senyum. Senyum yang seolah bertahun-tahun tak kulihat. Pun begitu dengan
sepasang mata teduhnya. Ah, sejak kapan ia di sini? Kenapa aku tak menyadarinya?
“Aku
‘kan sudah berkali-kali bilang jangan menyanyi di sini dengan suara paraumu
itu. Mereka bisa terbangun,” ujarnya seraya menunjuk deretan nisan di hadapan
kami. Tangannya sigap meraih gitar yang sedari tadi kumainkan.
Aku
mendengus. “Setelah sekian lama tak bertemu, apa itu satu-satunya kalimat yang
bisa kau ucapkan?”
Ia
tergelak. Sebelah tangannya mengacak rambutku pelan. “Maaf. Perasaanmu
sepertinya sedang tidak baik,”
Aku
menghela napas. Pasti dia sudah tahu masalah apa yang kubawa kali ini. Dia
hanya menungguku bercerita. Sesuatu yang benar-benar kubutuhkan saat ini. Ya
karena tak mungkin bercerita kepada ibu. Apalagi Kak Shin. Kakakku itu pasti
akan berceramah panjang lebar bahkan sebelum ceritaku usai. Seakan aku ini anak
umur enam tahun yang tak tahu apa-apa. Membosankan!
“Apa
yang kau lakukan kalau orang yang kau percaya ternyata berbohong bahkan tega
mengkhianatimu? Sahabatmu, misalnya.”
Kutatap
Embun. Keningnya berkerut. “Hmm… apa, ya? Kau sendiri, apa yang akan kau
lakukan?”
Aku
cemberut. Selalu begitu. Pertanyaanku akan ia kembalikan padaku. Ia selalu
memintaku berpikir atau mungkin itu cara dia agar aku lebih banyak bercerita.
Aku
mengembuskan napas.
“Sekali
dua kali aku masih bisa menerima sebuah kebohongan. Aku selalu berpikir setiap
orang punya alasan hingga mereka bisa berbohong. Mereka pasti punya sesuatu
yang ingin dilindungi hingga harus berbohong. Jadi, aku pun memilih diam dan
memaafkan kebohongan itu,…”
Embun
terdiam. Sepasang mata hitamnya menatapku lembut. “Lalu?”
“Namun,
ketika kebohongan itu lagi-lagi terjadi, bahkan dibarengi dengan pengkhianatan,
aku tak tahu harus bagaimana menghadapinya? Apa aku masih bisa percaya? Kalau
iya, mengapa itu justru terasa menyakitkan?”
Suaraku
mendadak serak. Ada yang menyeruak di dadaku. Pedih. Sesak. Aku baru tahu kalau
dibohongi sahabatmu jauh lebih mengerikan daripada patah hati karena ditolak
orang yang kau suka.
“Melankolis.
Kau masih saja begitu.” Tukas Embun dingin.
Aku
berdecak sebal. Terserah apa katanya. Saat ini aku hanya ingin bercerita,
menumpahkan segala yang kurasakan.
“Cepatlah
menjauh! Kalau kau merasa itu menyakitkan, maka cepatlah menjauh! Tak ada
gunanya bertahan. Itu hanya akan membuatmu terus hidup dalam kepura-puraan.”
Aku
tercengang. “Hei! Apa kau baru saja menyuruhku untuk melarikan diri? Menghindar
dari masalah?”
Embun
memandangku lekat. “Menjauh tak selalu berarti melarikan diri, Kawan. Apalagi
melupakan dia. Anggap saja kau sedang mengambil jeda. Berusaha kembali menata
keping hatimu. Entah pada akhirnya kau akan menerima ia lagi atau justru
benar-benar pergi dari hidupnya, itu pilihanmu.”
“Kalau
aku menerima ia sebagai sahabat lalu ia kembali berbohong dan mngkhianatiku
bagaimana?”
Embun
tersenyum. Bangkit dari tempatnya.
“Saat
itu terjadi, maka kau akan tahu apa jawabannya.” Ujarnya seraya menepuk bahuku
perlahan. Detik berikutnya, kaki Embun melangkah. Gegas menyambut Tuan Kabut
yang menyapanya dari kejauhan.
Aku
tercenung.
“O
iya… jangan lupa perbaiki bahasa Inggrismu!” seru Embun sebelum benar-benar
menghilang dari hadapanku.
