Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Rabu, 16 September 2015

MY DREAM: 14

And who do you think you are?
Running round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart

“Bahasa Inggrismu jelek!”

Aku tersentak. Sontak menoleh. Di sampingku, ia tegap berdiri. Bibirnya mengulas senyum. Senyum yang seolah bertahun-tahun tak kulihat. Pun begitu dengan sepasang mata teduhnya. Ah, sejak kapan ia di sini? Kenapa aku tak menyadarinya?

“Aku ‘kan sudah berkali-kali bilang jangan menyanyi di sini dengan suara paraumu itu. Mereka bisa terbangun,” ujarnya seraya menunjuk deretan nisan di hadapan kami. Tangannya sigap meraih gitar yang sedari tadi kumainkan.

Aku mendengus. “Setelah sekian lama tak bertemu, apa itu satu-satunya kalimat yang bisa kau ucapkan?”

Ia tergelak. Sebelah tangannya mengacak rambutku pelan. “Maaf. Perasaanmu sepertinya sedang tidak baik,”

Aku menghela napas. Pasti dia sudah tahu masalah apa yang kubawa kali ini. Dia hanya menungguku bercerita. Sesuatu yang benar-benar kubutuhkan saat ini. Ya karena tak mungkin bercerita kepada ibu. Apalagi Kak Shin. Kakakku itu pasti akan berceramah panjang lebar bahkan sebelum ceritaku usai. Seakan aku ini anak umur enam tahun yang tak tahu apa-apa. Membosankan!

“Apa yang kau lakukan kalau orang yang kau percaya ternyata berbohong bahkan tega mengkhianatimu? Sahabatmu, misalnya.”

Kutatap Embun. Keningnya berkerut. “Hmm… apa, ya? Kau sendiri, apa yang akan kau lakukan?”

Aku cemberut. Selalu begitu. Pertanyaanku akan ia kembalikan padaku. Ia selalu memintaku berpikir atau mungkin itu cara dia agar aku lebih banyak bercerita.

Aku mengembuskan napas.

“Sekali dua kali aku masih bisa menerima sebuah kebohongan. Aku selalu berpikir setiap orang punya alasan hingga mereka bisa berbohong. Mereka pasti punya sesuatu yang ingin dilindungi hingga harus berbohong. Jadi, aku pun memilih diam dan memaafkan kebohongan itu,…”

Embun terdiam. Sepasang mata hitamnya menatapku lembut. “Lalu?”

“Namun, ketika kebohongan itu lagi-lagi terjadi, bahkan dibarengi dengan pengkhianatan, aku tak tahu harus bagaimana menghadapinya? Apa aku masih bisa percaya? Kalau iya, mengapa itu justru terasa menyakitkan?”

Suaraku mendadak serak. Ada yang menyeruak di dadaku. Pedih. Sesak. Aku baru tahu kalau dibohongi sahabatmu jauh lebih mengerikan daripada patah hati karena ditolak orang yang kau suka.

“Melankolis. Kau masih saja begitu.” Tukas Embun dingin.

Aku berdecak sebal. Terserah apa katanya. Saat ini aku hanya ingin bercerita, menumpahkan segala yang kurasakan.

“Cepatlah menjauh! Kalau kau merasa itu menyakitkan, maka cepatlah menjauh! Tak ada gunanya bertahan. Itu hanya akan membuatmu terus hidup dalam kepura-puraan.”

Aku tercengang. “Hei! Apa kau baru saja menyuruhku untuk melarikan diri? Menghindar dari masalah?”

Embun memandangku lekat. “Menjauh tak selalu berarti melarikan diri, Kawan. Apalagi melupakan dia. Anggap saja kau sedang mengambil jeda. Berusaha kembali menata keping hatimu. Entah pada akhirnya kau akan menerima ia lagi atau justru benar-benar pergi dari hidupnya, itu pilihanmu.”

“Kalau aku menerima ia sebagai sahabat lalu ia kembali berbohong dan mngkhianatiku bagaimana?”

Embun tersenyum. Bangkit dari tempatnya.

“Saat itu terjadi, maka kau akan tahu apa jawabannya.” Ujarnya seraya menepuk bahuku perlahan. Detik berikutnya, kaki Embun melangkah. Gegas menyambut Tuan Kabut yang menyapanya dari kejauhan.

Aku tercenung.


“O iya… jangan lupa perbaiki bahasa Inggrismu!” seru Embun sebelum benar-benar menghilang dari hadapanku.