Aku mendengus. Embun tersenyum seperti biasa. Mata beningnya yang sedari tadi menatapku beralih mengamati beberapa nisan yang mulai ditumbuhi rumput liar. Di ufuk timur, semburat merah mulai nampak.
“Tuhan itu nggak adil!” ucapku setelah lama terdiam.
Embun sontak menatapku kembali. Lagi-lagi seperti biasa, mengernyit. Ia diam menunggu penjelasan. Beda jauh dengan Kak Shin ataupun Ibu yang langsung menghardikku kemarin.
“Siapa yang ngajarin kamu bicara kurang ajar seperti itu?!” kata-kata Kak Shin terngiang. Dia memang kakak paling menyebalkan sedunia. Pekerjaannya cuma satu, memarahiku. Seolah Tuhan menciptakan dia untuk itu.
“Aku baru saja bertemu seorang kawan lama. Nggak terlalu dekat sih, tapi aku sedikit banyak tahu siapa dia. Anak yang ramah juga baik,” aku balas memandang Embun.
”Lalu?”
Aku diam. Perlahan menghirup sejuknya fajar.
”Dia.... sakit. Parah mungkin,” jawabku setelah beberapa menit membisu. Kini, gantian Embun menghela nafas.
”Aku nggak ngerti kenapa Tuhan kasih cobaan seberat ini padanya. Dia anak baik. Selalu membuat orang lain tersenyum bahkan waktu aku menjenguknya pun, dia malah asyik bercanda. Seakan nggak merasakan sakit.”
Embun tersenyum, ”Itu bagus,”
Aku membelalak.
”Apanya yang bagus??”
”Ya iyalah, daripada nangis-nangis melulu ’kan mending senyum, bercanda, tertawa,”
Aku melongo.
Kali ini, Embun terbahak. Sementara aku, tentu saja mengernyit.
”Di dunia ini nggak banyak orang bisa tersenyum saat sakit. Jarang banget ada orang yang bersyukur waktu duka melanda,”
Aku makin tak mengerti. Atau jangan-jangan selama ini aku memang terlalu tulalit untuk memahami setiap perkataannya? Emang salah nangis waktu sakit atau meratap di kala duka?
”Nggak salah kalau kita menangis ataupun meratap saat kesusahan menimpa. Itu wajar. Manusiawi. Hanya saja kadang itu membuat kita lupa satu hal.” tutur Embun seolah tahu apa yang kini kupikirkan.
”Apa?”
”Lupa kalau Tuhan sesungguhnya sangat mencintai kita. Lupa kalau apapun yang Tuhan berikan tak pernah sia-sia. Entah itu suka maupun duka. Anugerah atau bencana,”
”Omong kosong!” tukasku seketika, ”....kalau Tuhan mencintai kita, nggak mungkin ada kesedihan di dunia ini. Semua pasti dibuat bahagia. Hidup damai tanpa air mata. Nggak ada tuh namanya perang!” lanjutku.
Embun menggeleng-gelengkan kepala. Dia pasti hafal sifatku yang keras kepala, selalu merasa benar sendiri. Plus gampang tersulut emosi.
”Justru itulah bukti cinta Tuhan. Kalau kita terus-terusan bahagia, kita nggak ‘kan pernah tahu seperti apa itu sedih. Kita nggak ’kan pernah ngerti gimana rasanya berharap kala susah. Dan akhirnya, kita akan merasa tak membutuhkan siapa pun di dunia ini, bahkan Tuhan, karena hidup kita aman-aman saja. Bahagia bebas dari kesusahan.” jelas Embun panjang lebar.
Aku menggaruk-garuk kepala, coba mencerna kata-katanya.
”Hmm... gitu ya? Oke, aku bisa terima itu, tapi menurutku Tuhan tetap saja nggak adil!” aku kembali ke pendapatku semula.
”Begitu ya? Alasannya?” Embun mengukir senyum.
Aku cepat mengangguk. Namun, detik berikutnya terdiam. Apa ya alasannya? Terlalu banyak contoh di sekitar yang membuatku berpikir Tuhan nggak adil.
”Tuhan itu adil. Coba saja kamu lihat ada siang, ada malam. Pernah membayangkan kalo dunia ini siang melulu. Panas banget ’kan? Atau terus-terusan malam? Pasti dingin banget. Kita juga nggak akan mungkin bisa ketemu begini. Aku ’kan cuma bisa datang sebelum pagi,” Embun nyengir.
Aku mendengus. Kata-katanya memang benar, tapi entah kenapa aku masih belum bisa menerimanya.
”Bukan cuma kamu yang berkata kalau Tuhan nggak adil. Hampir semua orang pasti pernah begitu. Meski mungkin hanya dalam hati atau pikiran mereka. Menurutmu kenapa?”
Embun menatapku lekat. Keningku seketika berkerut.
”Nggak tahu. Tapi, kalau aku karena merasa hidupku terlalu susah. Rumit. Ketika teman-temanku bahagia dengan dunia mereka, aku justru tersingkir. Jadi pengangguran tanpa impian. Sulit rasanya untuk bertahan,” aku menghela nafas berat.
”Itu benar. Mungkin semua orang juga berpikiran sama denganmu,” timpal Embun.
”Tapi, bukan itu ’kan alasannya?”
Aku coba menebak. Setahuku Embun selalu punya alasan yang lebih logis. Mungkin saja bisa kuterima.
Dia tertawa. Pandangannya kembali beralih ke nisan-nisan di hadapan kami.
”Kenapa kita berpikir kalau Tuhan itu nggak adil? Karena kita terlalu mudah mengeluh. Keluhan itu sedikit demi sedikit membuat kita tak mampu melihat cinta Tuhan dan jalan terbaik yang telah Ia pilihkan dalam hidup ini. Gimana menurutmu?” Embun balik menatapku lagi.
Aku diam.
Perlahan, ia meraih gitar yang sedari tadi tersandar di antara kami. Jari-jarinya mulai memainkan satu nada. Sembari menanti Tuan Kabut yang akan menjemputnya.
Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk di sampingku, Kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar