Aku merindukanmu,
Ingin kutitipkan itu pada derasnya hujan dan guntur yang bersahutan. Dalam temaram petang juga kelabunya awan. Tahukah kau? Aku selalu berharap kau melihat hujan yang sama denganku, merasakan sejuk tiap butirannya menembus kulit hingga ke relung hatimu, agar kau tahu dua kata yang selalu ingin kusampaikan padamu.
Ya, aku merindukanmu.
Entah sejak kapan. Mungkinkah sejak kulihat bening di matamu? Waktu kita pertama bertemu di awal semester, tujuh tahun lalu? Ataukah... tiga tahun lalu? Ketika tanpa sengaja kau dan aku bertemu.
Aku tak pernah menyangka akan bertemu lagi denganmu di tempat seperti itu. Apa kau tahu? Saat melihatmu di antara tumpukan buku, tubuhku seketika kaku. Lalu, ketika pandangan kita bertemu, detik seolah berhenti berpacu. Sesaat kita pun membisu dalam keterkejutan yang akhirnya pecah oleh sebentuk senyuman. Darimu, dariku.
Aku tak pernah mengerti. Setan mana yang membuatku begitu berani melangkah mendekatimu. Bahkan, bibirku dengan lancar menyapamu. Lima belas menit. Ya... hanya 15 menit kita bersama. Berjalan bersisian dari satu jejeran buku ke jejeran buku lainnya. Saling tersenyum, tertawa, berargumen soal tugas akhir kuliah yang mulai menghantui otak kita. Kau dengan idealisme religiusmu, dan aku di antara kebimbangan akan sebuah tujuan hidup.
Aku merindukanmu,
Sekali lagi entah sejak kapan. Mungkinkah rindu dan cinta adalah satu kesatuan, saling melengkapi, terkoneksi? Bagai obor dan api. Bintang dan rembulan di cakrawala malam. Setiap kali ada yang bertanya padaku, pernahkah aku jatuh cinta? Adakah seseorang yang kurindukan? Maka, cepat aku menggeleng.
Kenapa? Karena aku tak pernah yakin, rasaku padamu adalah sebentuk cinta ataupun bait sulaman kerinduan. Mungkin hanya sebatas simpati. Lagipula, jika benar adanya, aku sadar betul kalau itu akan menghancurkanku. Tidak. Bukan hanya aku, tapi kau juga. Sebab kau takkan pernah lebur ke duniaku. Begitu halnya diriku, yang takkan mampu bersentuhan dengan alam pikiranmu.
Kini ketika petang makin temaram. Saat hujan tinggal menyisakan rintik kecil di rimbun pepohonan. Dan, malam mulai menjelang. Biarlah kukatakan.... Aku merindukanmu, Kawan.