Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Selasa, 22 Mei 2012

My Dream: 8


MY DREAM: 8

Kapan terakhir kali aku kesini?

Lirih batinku bertanya. Entahlah. Mungkin sebulan atau dua bulan. Ah, tidak! Sepertinya hampir setahun aku tak menjejakkan kaki ke tempat ini. Selama itukah?

Aku mengembuskan nafas keras-keras. Tatapku menjelajah. Tempat ini masih sama. Jejeran nisan yang rapuh, ilalang yang meninggi, harum melati, juga bangku taman di bawah rindang cemara.

Sepoi angin kurasa sejuk menembus kulit. Aku tersenyum. Tuan Angin masih saja menyambutku dengan cara seperti ini. Tanpa kata. Namun, keramahannya tetap kurasakan. Keramahan yang selalu membuatku ingin dan ingin selalu berkunjung kesini. Tentu saja selain karena alasan lain. Embun.

Embun? Apa dia masih mengingatku? Sekian lama aku tak menyapanya. Apalagi mengunjunginya. Betapa teganya diriku, tak menjumpainya hanya karena sibuk dengan duniaku.

Sebuah sesal menyergap nurani. Ternyata aku sama saja seperti manusia-manusia lainnya. Egois. Hanya datang padanya ketika dunia seolah tak lagi membutuhkan diri ini.

“Egois itu memang sifat alami manusia. Jadi, buat apa kau menyesalinya?”

Aku terhentak. Sontak menoleh. Tak jauh dariku, satu sosok perlahan menghampiri. Bibirnya menyunggingkan sebentuk senyuman yang begitu kurindukan. Senyum nan menyejukan. Binar matanya tak berubah. Meneduhkan.

Embun. Dia masih sama. Tubuhku tiba-tiba kaku. Lidah pun kelu. Sesal kembali menyergap.

“Ayo, duduk! Kau bisa mati kedinginan kalau berdiri begini.” ujarnya seraya menarik tanganku. Bergegas menuju bangku tempat biasa kami bercerita.

“Maaf,” ujarku tertunduk. Seperti biasa pula, kami duduk berdampingan.

“Oya, kau mau bercerita apa kali ini? Kawan-kawanmu, orang-orang di negeri ini, atau… orang tuamu?” kata-kata terakhir Embun seketika membuatku mendongak, memandangnya terpana. Dia… darimana tahu tentang masalahku saat ini?

“Kau lupa, ya? Tuan Angin selalu menyampaikan kabar tentangmu. Jadi, bagaimana orang tuamu sekarang?” sekali lagi Embun bertanya.

Aku membisu, lantas perlahan kalimat itu keluar juga. Kalimat paling kubenci sekaligus amat kuinginkan akhir-akhir ini.

“Aku berharap bisa lenyap dari hadapan mereka.”

Embun mengernyit. “Hmm… begitu, ya?”

“Itu jauh lebih baik ‘kan daripada aku harus selalu melihat kenyataan kalau tidak ada yang baik-baik saja. Semua kamuflase. Seperti bayang-bayang senja yang hilang perlahan ditelan malam. Layaknya keramik yang tercerai-berai. Namun, terpaksa direkatkan agar terlihat kembali cantik.”

“Maksudmu?”

Pertanyaan Embun kali ini membuatku diam. Kenapa dia masih bertanya begitu? Bukankah dia tahu segalanya tentang hidupku juga keluargaku?

“Orang tuaku, mereka selalu saja berkata ‘Semua demi kamu, Nak.’ Ketika memilihkan sekolah untukku, saat menentukan siapa yang pantas dekat denganku, bahkan hingga baju apa yang harus kupakai. Mereka tak pernah memberiku satu saja kesempatan untuk memutuskan sendiri apa yang kumau. Bila aku menolak, maka semua takkan baik-baik lagi. Hancur. Seperti keramik yang jatuh.”

Aku menghela nafas. Berat rasanya bercerita tentang mereka. Tatapanku tertuju pada deretan nisan di hadapan kami. Ah, andai saja kematian menjemputku, mungkin ‘kan terasa lebih menyenangkan.

“Jangan bodoh! Kematian bukanlah akhir dari segalanya. Lagipula tidak ada orang tua yang menginginkan hal buruk untuk anaknya,” kata-kata Embun membuatku mendengus. Mudah sekali baginya mengatakan itu. Memang benar, semua orang tua selalu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya, tapi apa lantas mereka berhak mengatur hidupku. Sesuai yang mereka mau? Lalu, apa bedanya aku dengan boneka atau robot yang telah diprogram?

“Kau tahu… sebagai anak, ada kalanya kita memang tak ditakdirkan untuk memilih sesuai hati nurani. Namun, kita juga harus mulai belajar meyakini bahwa pilihan mereka tak selamanya buruk. Anggap saja itu salah satu jalan bagi kita untuk menemukan lentera jiwa,”

Kini, aku megernyit. Lentera jiwa?

“Ya, lentera jiwa. Ibarat lilin kecil di kegelapan. Cahaya yang akan membuatmu tahu apa itu bahagia,”
Embun bangkit dari bangku, memandangku sekilas lantas berbalik. Berjalan menjauh. Di ufuk timur, semburat merah mulai tampak. Lamat-lamat kudengar ia berdendang. Satu lagu yang amat ia suka.

Hitam kini…hitam nanti
Gelap kini akankah berganti…
Dan kau lilin-lilin kecil…
Sanggupkah kau berpijar