MY
DREAM: 8
Kapan terakhir kali aku kesini?
Lirih
batinku bertanya. Entahlah. Mungkin sebulan atau dua bulan. Ah, tidak!
Sepertinya hampir setahun aku tak menjejakkan kaki ke tempat ini. Selama
itukah?
Aku
mengembuskan nafas keras-keras. Tatapku menjelajah. Tempat ini masih sama.
Jejeran nisan yang rapuh, ilalang yang meninggi, harum melati, juga bangku
taman di bawah rindang cemara.
Sepoi
angin kurasa sejuk menembus kulit. Aku tersenyum. Tuan Angin masih saja
menyambutku dengan cara seperti ini. Tanpa kata. Namun, keramahannya tetap
kurasakan. Keramahan yang selalu membuatku ingin dan ingin selalu berkunjung
kesini. Tentu saja selain karena alasan lain. Embun.
Embun? Apa dia masih mengingatku?
Sekian lama aku tak menyapanya. Apalagi mengunjunginya. Betapa teganya diriku,
tak menjumpainya hanya karena sibuk dengan duniaku.
Sebuah
sesal menyergap nurani. Ternyata aku sama saja seperti manusia-manusia lainnya.
Egois. Hanya datang padanya ketika dunia seolah tak lagi membutuhkan diri ini.
“Egois
itu memang sifat alami manusia. Jadi, buat apa kau menyesalinya?”
Aku
terhentak. Sontak menoleh. Tak jauh dariku, satu sosok perlahan menghampiri.
Bibirnya menyunggingkan sebentuk senyuman yang begitu kurindukan. Senyum nan
menyejukan. Binar matanya tak berubah. Meneduhkan.
Embun.
Dia masih sama. Tubuhku tiba-tiba kaku. Lidah pun kelu. Sesal kembali
menyergap.
“Ayo,
duduk! Kau bisa mati kedinginan kalau berdiri begini.” ujarnya seraya menarik
tanganku. Bergegas menuju bangku tempat biasa kami bercerita.
“Maaf,”
ujarku tertunduk. Seperti biasa pula, kami duduk berdampingan.
“Oya,
kau mau bercerita apa kali ini? Kawan-kawanmu, orang-orang di negeri ini, atau…
orang tuamu?” kata-kata terakhir Embun seketika membuatku mendongak, memandangnya
terpana. Dia… darimana tahu tentang masalahku saat ini?
“Kau
lupa, ya? Tuan Angin selalu menyampaikan kabar tentangmu. Jadi, bagaimana orang
tuamu sekarang?” sekali lagi Embun bertanya.
Aku
membisu, lantas perlahan kalimat itu keluar juga. Kalimat paling kubenci
sekaligus amat kuinginkan akhir-akhir ini.
“Aku
berharap bisa lenyap dari hadapan mereka.”
Embun
mengernyit. “Hmm… begitu, ya?”
“Itu
jauh lebih baik ‘kan daripada aku harus selalu melihat kenyataan kalau tidak
ada yang baik-baik saja. Semua kamuflase. Seperti bayang-bayang senja yang
hilang perlahan ditelan malam. Layaknya keramik yang tercerai-berai. Namun,
terpaksa direkatkan agar terlihat kembali cantik.”
“Maksudmu?”
Pertanyaan
Embun kali ini membuatku diam. Kenapa dia
masih bertanya begitu? Bukankah dia tahu segalanya tentang hidupku juga
keluargaku?
“Orang
tuaku, mereka selalu saja berkata ‘Semua demi kamu, Nak.’ Ketika memilihkan
sekolah untukku, saat menentukan siapa yang pantas dekat denganku, bahkan
hingga baju apa yang harus kupakai. Mereka tak pernah memberiku satu saja
kesempatan untuk memutuskan sendiri apa yang kumau. Bila aku menolak, maka
semua takkan baik-baik lagi. Hancur. Seperti keramik yang jatuh.”
Aku
menghela nafas. Berat rasanya bercerita tentang mereka. Tatapanku tertuju pada
deretan nisan di hadapan kami. Ah, andai saja kematian menjemputku, mungkin
‘kan terasa lebih menyenangkan.
“Jangan
bodoh! Kematian bukanlah akhir dari segalanya. Lagipula tidak ada orang tua
yang menginginkan hal buruk untuk anaknya,” kata-kata Embun membuatku
mendengus. Mudah sekali baginya mengatakan itu. Memang benar, semua orang tua
selalu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya, tapi apa lantas mereka berhak
mengatur hidupku. Sesuai yang mereka mau? Lalu, apa bedanya aku dengan boneka
atau robot yang telah diprogram?
“Kau
tahu… sebagai anak, ada kalanya kita memang tak ditakdirkan untuk memilih
sesuai hati nurani. Namun, kita juga harus mulai belajar meyakini bahwa pilihan
mereka tak selamanya buruk. Anggap saja itu salah satu jalan bagi kita untuk
menemukan lentera jiwa,”
Kini,
aku megernyit. Lentera jiwa?
“Ya,
lentera jiwa. Ibarat lilin kecil di kegelapan. Cahaya yang akan membuatmu tahu
apa itu bahagia,”
Embun
bangkit dari bangku, memandangku sekilas lantas berbalik. Berjalan menjauh. Di ufuk
timur, semburat merah mulai tampak. Lamat-lamat kudengar ia berdendang. Satu lagu
yang amat ia suka.
Hitam kini…hitam nanti
Gelap kini akankah berganti…
Dan kau lilin-lilin kecil…
Sanggupkah kau berpijar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar