Vio’s note:
“Apa?! Dia? Senior nggak salah?”
Aku menatap sosok di depanku tak percaya. Bergantian dengan file yang baru saja kuterima beberapa detik lalu di commu-net, sejenis handphone tapi dilengkapi kompas, peta, prakiraan cuaca, plus aplikasi message dan internet. Di sana terbaca jelas satu nama. Reynald Adrian. Berikut data-data penting, seperti usia, alamat, sekolah, juga hobi yang harus segera kuingat. Sekilas mengamati, aku langsung tahu kalau cowok itu pasti setipe dengan satu lagi sosok paling menyebalkan dalam hidupku. Apatis, angkuh, dan sok misterius.
“Tentu saja!” serunya tanpa keraguan. Sontak aku mengeluh pendek.
“Tapi, selama ini klien-ku selalu cewek. Kenapa sekarang harus cowok sih?”
“Kau ini…. Kapan sih nggak protes kalo dikasih tugas? Kerjakan saja! Itu sudah perjanjian! Lagipula kau bilang ingin tugas yang jauh lebih menantang daripada sebelumnya. Sama seperti biasa waktumu tujuh hari. Lebih dari itu….”
Aku menghela napas. “Iya iya aku tahu! Oke, lalu di mana dia?”
Senior Jev tersenyum. “Shelter 043.”
***
Rey’s note:
Distrik 06, Conan International Senior High School
Aku melirik Casio-86 di pergelangan tangan kiri. Pukul 22.00. Bagus, desisku. Segera kuraih ransel lantas perlahan melangkah keluar. Tak perlu mematikan lampu karena kelas otomatis akan gelap begitu tak ada siapapun di dalamnya.
Sunyi. Seorang diri kulalui lorong demi lorong, kelas per kelas. Tentu saja. Bodoh sekali kalau aku berharap tempat ini masih ramai. Di sini semua kegiatan berakhir tepat pukul 18.30. Itu sudah termasuk agenda untuk ekskul. Hanya beberapa orang saja yang tetap bertahan hingga larut malam. Sebagian biasanya para guru yang sibuk memberikan tambahan materi bagi beberapa siswa. Sisanya, anak-anak bandel seperti diriku ini yang sengaja menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di salah satu ruang ber-AC sambil menyesap secangkir coklat panas.
Bosan. Mungkin itulah yang kurasakan. Hidup di abad 22 yang serba otomatis terasa sangat monoton. Semua sudah diatur komputer. Contoh nyatanya, sekolah ini. Tak ada buku pelajaran karena seluruh materi tersimpan dalam bentuk file komputer. Cukup menguntungkan. Setidaknya kami, para siswa, tak perlu lagi membawa beban berat buku-buku pelajaran tiap pagi ke sekolah. Saat masuk kelas, tinggal klik subject yang akan dipelajari hari itu dan mendengarkan sekilas penjelasan guru.
Di era ini, penugasan atau yang dulu disebut PR bukan dalam bentuk soal-soal tentang pengertian, istilah, maupun contoh. Setiap akhir bulan, kami hanya perlu menciptakan satu produk baru berkaitan dengan materi dari guru. Misalnya, Matematika. Bab Bangun Ruang. Yang kuingat, saat itu aku membuat hologram tentang prisma dengan menyertakan efek pencahayaan tujuh warna pelangi. Sayang, aku belum sejenius Mark. Top Ten Students di sekolahku itu sudah mampu mengurai plus menciptakan rumus baru perhitungan Trigonometri. Jangan tanya padaku seperti apa rumus ciptaan Mark karena sampai detik ini otakku belum mampu mencernanya.
Huft… aku mengembuskan napas. Coba mengusir kebosanan yang akhir-akhir ini makin mencekik. Tanpa terasa, gerbang sekolah sudah di depan mata. Bergegas kukeluarkan PIC(Personal Identity Card), semacam kartu siswa merangkap identitas diri, dari saku lantas memasukkannya ke mesin berbentuk box persis di samping kiri gerbang. Prosedur standar saat keluar masuk sekolah. Begitu terdengar bunyi ‘pipp’, gerbang otomatis terbuka dan aku pun melenggang keluar.
Conan International Senior High School, sekolahku, terletak sekitar 500 meter dari jalan raya. Terbagi atas empat gedung utama. Dua untuk ruang kelas dengan rincian kelas satu dan dua di sayap kanan, sementara kelas tiga di sayap kiri. Masing-masing jenjang memiliki laboratorium yang ada di lantai dua. Sementara itu, dua gedung sisanya dimanfaatkan sebagai ruang guru, aula utama, dan fasilitas penunjang siswa mulai dari bagian tengah, memanjang hingga ke belakang sekolah. Semua dilengkapi sistem pendingin ruangan ramah lingkungan, satu set LED plus komputer teknologi terbaru.
Posisi sekolah yang agak menjorok ke dalam, sengaja dipilih demi kenyamanan belajar para siswa. Hal itulah yang kini membuatku masih harus berjalan menuju satu tempat. Tidak terlalu jauh. Aku hanya perlu menyeberang lalu melewati jajaran pertokoan dan sampailah ke tempat itu. Sebuah bangunan berbentuk setengah lingkaran yang dikelilingi kaca-kaca besar transparan. Konstruksi pilar-pilarnya yang kokoh sanggup bertahan menghadapi gempa berkekuatan lebih dari 9 Skala Richter. Kudengar arsitekturnya merupakan hasil perpaduan gaya Jepang, Dubai, dan Jawa. Entah di bagian mana. Satu-satunya yang bisa kulihat dari luar adalah jejeran kursi berwarna biru dengan motif batik, memanjang mirip di peron-peron kereta.
Shelter 043.
Aku membaca plang nama digital yang terpasang di bagian atas pintu masuk. Entah untuk ke berapa kalinya. Di sanalah setiap hari aku menunggu bus pulang. Rumahku berada di distrik 04. Hampir dua puluh kilometer dari sekolah. Sebetulnya, bisa saja aku menggunakan kereta bawah tanah. Letaknya juga tak terlalu jauh dari sekolah, tepat di samping pertokoan. Soal tarif, sama. Hanya saja, tak tahu kenapa aku merasa lebih nyaman berada dalam bus. Setidaknya, aku masih bisa melihat keramaian kota di malam hari. Sesuatu yang tak mungkin ada di rute kereta bawah tanah. Yah…meskipun itu berarti aku baru akan sampai di rumah tiga puluh menit lebih lama dibanding bila menggunakan jasa kereta.
Begitu sampai di depan pintu masuk, aku kembali mengeluarkan PIC lalu memasukkannya ke automatic bus destination machine. Sebuah mesin yang memuat rute perjalanan berikut tarif dan jadwal kedatangan bus. Kita hanya perlu menekan tombol penunjuk tempat tujuan lalu menunggu kartu dan tiket bus keluar dari mesin. Seperti yang kini ada di tanganku. Oya, sekadar pemberitahuan, kartu PIC selain digunakan sebagai presensi masuk sekolah, juga bisa untuk membayar tiket bus atau kereta api. Semacam kartu kredit begitu. Contohnya, ya di shelter ini. Proses pembayaran tagihannya pun sangat mudah. Bisa dilakukan lewat komputer yang kini ada di setiap rumah.
“Hai, apa kabar?” sebuah suara ramah menyapa begitu aku memasuki shelter yang lengang. Seorang cewek berkuncir satu tersenyum seraya melambai ke arahku. Dia lagi, bisik hatiku. Malam ini, untuk keempat kalinya dalam seminggu aku melihat cewek itu. Masih dengan penampilan sama seperti saat kami bertemu. Sweater hijau toska, tas jinjing hitam, plus sepatu flat yang juga hitam. Harus kuakui dia cukup cantik. Apalagi dipadu wajah oval dan kulit kuning langsatnya. Belum lagi postur tubuhnya yang tinggi langsing. Mungkin dia hanya 15 sentimeter lebih pendek dibandingkan aku. Mirip model-model catwalk di majalah-majalah remaja yang sering kujumpai di counter-counter buku. Eh, salah. Mungkin dia lebih mirip manekin di etalase butik ataupun mal. Tanpa sadar, aku memperhatikannya. Entah kenapa ada yang aneh dengan cewek itu. Cantik, tapi….
Kelebatan pertemuanku dengannya tiga hari lalu pun kembali hadir.
***
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar