Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)
Tampilkan postingan dengan label fic story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fic story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juni 2012

Shelter 043



Vio’s note:
“Apa?! Dia? Senior nggak salah?”
Aku menatap sosok di depanku tak percaya. Bergantian dengan file yang baru saja kuterima beberapa detik lalu di commu-net, sejenis handphone tapi dilengkapi kompas, peta, prakiraan cuaca, plus aplikasi message dan internet. Di sana terbaca jelas satu nama. Reynald Adrian. Berikut data-data penting, seperti usia, alamat, sekolah, juga hobi yang harus segera kuingat. Sekilas mengamati, aku langsung tahu kalau cowok itu pasti setipe dengan satu lagi sosok paling menyebalkan dalam hidupku. Apatis, angkuh, dan sok misterius.
“Tentu saja!” serunya tanpa keraguan. Sontak aku mengeluh pendek.
“Tapi, selama ini klien-ku selalu cewek. Kenapa sekarang harus cowok sih?”
“Kau ini…. Kapan sih nggak protes kalo dikasih tugas? Kerjakan saja! Itu sudah perjanjian! Lagipula kau bilang ingin tugas yang jauh lebih menantang daripada sebelumnya. Sama seperti biasa waktumu tujuh hari. Lebih dari itu….”
Aku menghela napas. “Iya iya aku tahu! Oke, lalu di mana dia?”
Senior Jev tersenyum. “Shelter 043.”
***
Rey’s note:
Distrik 06, Conan International Senior High School
Aku melirik Casio-86 di pergelangan tangan kiri. Pukul 22.00. Bagus, desisku. Segera kuraih ransel lantas perlahan melangkah keluar. Tak perlu mematikan lampu karena kelas otomatis akan gelap begitu tak ada siapapun di dalamnya.
Sunyi. Seorang diri kulalui lorong demi lorong, kelas per kelas. Tentu saja. Bodoh sekali kalau aku berharap tempat ini masih ramai. Di sini semua kegiatan berakhir tepat pukul 18.30. Itu sudah termasuk agenda untuk ekskul. Hanya beberapa orang saja yang tetap bertahan hingga larut malam. Sebagian biasanya para guru yang sibuk memberikan tambahan materi bagi beberapa siswa. Sisanya, anak-anak bandel seperti diriku ini yang sengaja menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di salah satu ruang ber-AC sambil menyesap secangkir coklat panas.
Bosan. Mungkin itulah yang kurasakan. Hidup di abad 22 yang serba otomatis terasa sangat monoton. Semua sudah diatur komputer. Contoh nyatanya, sekolah ini. Tak ada buku pelajaran karena seluruh materi tersimpan dalam bentuk file komputer. Cukup menguntungkan. Setidaknya kami, para siswa, tak perlu lagi membawa beban berat buku-buku pelajaran tiap pagi ke sekolah. Saat masuk kelas, tinggal klik subject yang akan dipelajari hari itu dan mendengarkan sekilas penjelasan guru.
Di era ini, penugasan atau yang dulu disebut PR bukan dalam bentuk soal-soal tentang pengertian, istilah, maupun contoh. Setiap akhir bulan, kami hanya perlu menciptakan satu produk baru berkaitan dengan materi dari guru. Misalnya, Matematika. Bab Bangun Ruang. Yang kuingat, saat itu aku membuat hologram tentang prisma dengan menyertakan efek pencahayaan tujuh warna pelangi. Sayang, aku belum sejenius Mark. Top Ten Students di sekolahku itu sudah mampu mengurai plus menciptakan rumus baru perhitungan Trigonometri. Jangan tanya padaku seperti apa rumus ciptaan Mark karena sampai detik ini otakku belum mampu mencernanya.
Huft… aku mengembuskan napas. Coba mengusir kebosanan yang akhir-akhir ini makin mencekik. Tanpa terasa, gerbang sekolah sudah di depan mata. Bergegas kukeluarkan PIC(Personal Identity Card), semacam kartu siswa merangkap identitas diri, dari saku lantas memasukkannya ke mesin berbentuk box persis di samping kiri gerbang. Prosedur standar saat keluar masuk sekolah. Begitu terdengar bunyi ‘pipp’, gerbang otomatis terbuka dan aku pun melenggang keluar.
Conan International Senior High School, sekolahku, terletak sekitar 500 meter dari jalan raya. Terbagi atas empat gedung utama. Dua untuk ruang kelas dengan rincian kelas satu dan dua di sayap kanan, sementara kelas tiga di sayap kiri. Masing-masing jenjang memiliki laboratorium yang ada di lantai dua. Sementara itu, dua gedung sisanya dimanfaatkan sebagai ruang guru, aula utama, dan fasilitas penunjang siswa mulai dari bagian tengah, memanjang hingga ke belakang sekolah. Semua dilengkapi sistem pendingin ruangan ramah lingkungan, satu set LED plus komputer teknologi terbaru.
Posisi sekolah yang agak menjorok ke dalam, sengaja dipilih demi kenyamanan belajar para siswa. Hal itulah yang kini membuatku masih harus berjalan menuju satu tempat. Tidak terlalu jauh. Aku hanya perlu menyeberang lalu melewati jajaran pertokoan dan sampailah ke tempat itu. Sebuah bangunan berbentuk setengah lingkaran yang dikelilingi kaca-kaca besar transparan. Konstruksi pilar-pilarnya yang kokoh sanggup bertahan menghadapi gempa berkekuatan lebih dari 9 Skala Richter. Kudengar arsitekturnya merupakan hasil perpaduan gaya Jepang, Dubai, dan Jawa. Entah di bagian mana. Satu-satunya yang bisa kulihat dari luar adalah jejeran kursi berwarna biru dengan motif batik, memanjang mirip di peron-peron kereta.
Shelter 043.
Aku membaca plang nama digital yang terpasang di bagian atas pintu masuk. Entah untuk ke berapa kalinya. Di sanalah setiap hari aku menunggu bus pulang. Rumahku berada di distrik 04. Hampir dua puluh kilometer dari sekolah. Sebetulnya, bisa saja aku menggunakan kereta bawah tanah. Letaknya juga tak terlalu jauh dari sekolah, tepat di samping pertokoan.  Soal tarif, sama. Hanya saja, tak tahu kenapa aku merasa lebih nyaman berada dalam bus. Setidaknya, aku masih bisa melihat keramaian kota di malam hari. Sesuatu yang tak mungkin ada di rute kereta bawah tanah.  Yah…meskipun itu berarti aku baru akan sampai di rumah tiga puluh menit lebih lama dibanding bila menggunakan jasa kereta.
Begitu sampai di depan pintu masuk, aku kembali mengeluarkan PIC lalu memasukkannya ke automatic bus destination machine. Sebuah mesin yang memuat rute perjalanan berikut tarif dan jadwal kedatangan bus. Kita hanya perlu menekan tombol penunjuk tempat tujuan lalu menunggu kartu dan tiket bus keluar dari mesin. Seperti yang kini ada di tanganku. Oya, sekadar pemberitahuan, kartu PIC selain digunakan sebagai presensi masuk sekolah, juga bisa untuk membayar tiket bus atau kereta api. Semacam kartu kredit begitu. Contohnya, ya di shelter ini. Proses pembayaran tagihannya pun sangat mudah. Bisa dilakukan lewat komputer yang kini ada di setiap rumah.
“Hai, apa kabar?” sebuah suara ramah menyapa begitu aku memasuki shelter yang lengang. Seorang cewek berkuncir satu tersenyum seraya melambai ke arahku. Dia lagi, bisik hatiku. Malam ini, untuk keempat kalinya dalam seminggu aku melihat cewek itu. Masih dengan penampilan sama seperti saat kami bertemu. Sweater hijau toska, tas jinjing hitam, plus sepatu flat yang juga hitam.  Harus kuakui dia cukup cantik. Apalagi dipadu wajah oval dan kulit kuning langsatnya. Belum lagi postur tubuhnya yang tinggi langsing. Mungkin dia hanya 15 sentimeter lebih pendek dibandingkan aku. Mirip model-model catwalk di majalah-majalah remaja yang sering kujumpai di counter-counter buku. Eh, salah. Mungkin dia lebih mirip manekin di etalase butik ataupun mal. Tanpa sadar, aku memperhatikannya. Entah kenapa ada yang aneh dengan cewek itu. Cantik, tapi….
Kelebatan pertemuanku dengannya tiga hari lalu pun kembali hadir.
***


(bersambung)



Kamis, 15 September 2011

Rei


” Hah???” aku terbelalak tak percaya.
” Kenapa? Emang ga boleh, ya?” kening gadis itu berkerut seraya menatapku heran.
” Boleh, kok, cuma aneh aja. Kita ’kan lagi pusing mikir ujian tapi kamu malah bicara soal perasaan.” tuturku masih tak percaya pada apa yang baru saja diungkapkan gadis itu.
” Emang perasaan kenal ma ujian? Kalo iya, pasti dia toleran dan ga ’kan menghantuiku seperti saat ini.” aku terbahak mendengar ucapannya. Ada-ada saja!
” Tenang aja. Ujianku ga ’kan terganggu, kok”
” Ya ya ya. Oke, jadi siapa dia?” tanyaku penuh selidik sekaligus harap cemas. Ini penting bagiku. Tapi, dia lagi-lagi mengeluarkan jurus andalannya. Tersenyum.
” Waktumu sampai jam lima sore untuk menebaknya. Kutunggu di tempat biasa.” dia berdiri dan melangkah meninggalkanku.
“ Hei, Rei tunggu! Mau kemana?”
” Ta’lim. ”
***

Reindita Meredian, kenapa kau harus berteka-teki seperti ini? Katakan saja dan masalahnya akan beres. Toh, tak ada ruginya bagimu bila berterus terang. Marah? Tentu aku tidak akan bersikap sebodoh itu. Memang siapa aku? Satrio Adityawarman hanyalah satu di antara sekian banyak kawanmu. Lagipula kau ’kan tahu kalau aku tidak suka main tebak-tebakan. Aku tak seperti kau yang hobi memecahkan misteri layaknya Detektif Conan atau Sherlock Holmes.
25 menit menjelang pukul 5 sore
            ” Rio!! Dari tadi melamun terus! Kita ni lagi persiapan buat turnamen basket minggu depan. Serius dong!!” sebuah suara membuyarkan pikiranku tentang Rei. Chris, kapten basket di sekolah ini berdiri garang di hadapanku. Aku tersenyum kecut seraya mengucap maaf dan mulai kembali berlatih. Namun, ketika memandang bola, yang tampak justru wajah Rei.  Huuh!!! Siapa, sih yang dia cinta?
            Otakku mulai mendaftar sederetan nama yang mungkin masuk kategori cowok idaman gadis itu. Pekerjaan bodoh memang, tapi aku harus menjawab tantangan ini. Tatapanku mengarah ke Chris. Ya, bukankah dia cowok paling populer di sekolah ini? Wajahnya yang tampan dengan tinggi badan mencapai 170 cm membuat cowok berdarah  Prancis-Padang itu digilai hampir semua cewek di sekolah ini. Dia juga kaya. Belum lagi kepintaran dan kredibilitasnya sebagai ketua OSIS yang tak diragukan oleh siapapun. Dari segi ketenaran di sekolah ini mungkin dia bisa disejajarkan dengan Christian Bautista atau Lee Min Ho.
Yup, mungkin saja dia yang disukai Rei, tapi tunggu dulu! Benar Chris tampan, kaya, dan punya kuasa. Idaman hampir semua cewek di sekitarku. Namun, siapa yang tak tahu kalau dia juga cowok paling palyboy di seantero SMA 128 ini. Waktu kelas II, setahuku dia sudah lebih dari 20 kali pacaran. Dan itu bukan hanya dengan siswi sekolah ini saja. Bagi Chris, pacar adalah hiburan di kala bosan, tempat buat having fun. Begitulah saat kutanya tentang hobinya gonta-ganti pacar. So, tak mungkin Rei menyerahkan hatinya kepada cowok tipikal Chris karena gadis itu sangat membenci playboy. Buat Rei, playboy adalah makhluk paling menyedihkan di dunia ini.
Kucoret nama Chris dari pikiranku dan mulai mendata nama lainnya. Hmm... bagaimana dengan Febru. Anak kelas I, junior Rei di ekskul Paskibra. Bukankah Rei pernah bercerita kalau cowok itu mengingatkannya pada Reza, sang cinta pertama ketika SMP? Lagipula Febru juga seolah menaruh hati pada sahabatku ini. Sikap dan perhatian cowok berlesung pipi itu juga seringkali berlebihan manakala berdekatan dengan Rei. Sesuatu yang seringkali membuatku... cemburu. Ups!!
Mungkinkah dia yang dipilih Rei??
***
5 menit menjelang pukul 5 sore
            Latihanku gagal total. Konsentrasiku buyar karena tantangan Rei. Masih kuingat kata-kata Chris sebelum ekskul bubar, ”Aku tak mau tahu!! Kalau besok kau begini lagi, lebih baik keluar!!” Lihatlah Rei, gara-gara kau karirku di dunia basket terancam hancur. Bukan hanya aku, tapi juga sekolah ini. Wajar Chris marah, turnamen minggu depan adalah pertaruhan besar bagi sekolah kami yang selalu menjadi juara bertahan tiap tahun. Sebagai salah satu pemain inti, tanggung jawabku sungguh besar bagi tim. Huff!! Salahku juga yang terlalu memikirkan Rei.
            Selesai latihan, kutunggu Rei di tempat favorit kami. Bangku depan pos satpam sekolah. Sebentar lagi dia datang dan aku telah mengantongi satu nama sebagai jawaban walau tak terlalu yakin. O ya, sebaiknya kupikirkan nama lain. Hitung-hitung cadangan.
            Sembari menyeleksi, ingatanku melayang pada perubahan sikap Rei. Akhir-akhir ini, tiba-tiba saja dia rajin ke mushola. Awalnya kupikir itu wajar. Paling-paling salat. Keanehan mulai kurasakan ketika dia makin dekat bergaul dengan gadis-gadis berjilbab di sekolahku yang notabene anak-anak Rohis. Entah virus apa yang mereka suntikkan ke otak gadis itu hingga Rei pun mengikuti gaya mereka. Berjilbab.
            ” Kenapa? Ini ’kan syariat.” tutur Rei saat kutanya alasannya berubah penampilan. Tak masalah sebetulnya, tapi kenapa tiba-tiba saja seolah ada jarak antara kita. Sejak dekat mereka, kita jarang pulang bersama seperti masa SMP dulu. Kau selalu saja beralasan. Ta’limlah, syuro’, men..menor... eh, mentoring apalah namanya kutak paham. Bersamamu kini menjadi peristiwa langka dalam hari-hariku.
            Oo, tunggu sebentar! Kenapa hal ini luput dari pikiranku? Jangan-jangan perubahan sikapmu terkait dengan perasaan. Ya! Jangan-jangan di antara anak-anak Rohis itu ada seseorang yang mencuri hatimu, Kawan. Siapa? Mungkinkah dia yang sering kau ajak bicara sebelum meninggalkan mushola?
            ” Rio! Udah lama, ya di sini. Maaf, tadi aku ngobrol dulu dengan Mbak Eni,” Rei tiba-tiba saja sudah berdiri di depanku. Senyum menghias wajah bulat telurnya.
            ” Jadi, apa jawabanmu?”
            ” Ha?? Eh... a... apa?? ” aku tergagap.
            ” Itu, lho. Jawaban tebakanku tadi? Menurutmu siapa dia?”
            ” Ooh, itu. Sorry, deh. Ng… emm... Febru ‘kan?” Rei sontak tergelak.
Aku salah.
            ” Masa’ Febru, sih. Dia itu cuma kuanggap adik.”
            “ Oke. Kalau begitu .... pasti Afwan, si ketua Rohis itu ‘kan?” kali ini kulihat kau tercenung. Ternyata benar, dialah jawabannya. Ya, bukankah kau kini lebih sering berdiskusi dengan cowok berjenggot itu daripada denganku. Entah apa yang kalian bahas, tapi raut wajahmu selalu berbinar jika bercerita tentang Afwan padaku. Tapi apa, sih yang menarik dari orang seperti dia? Setahuku Afwan termasuk kategori cowok biasa-biasa saja di sekolah ini. Wajahnya tak semenawan Chris, prestasi akademik pun cenderung pas-pasan. Kawan-kawannya juga terbatas kalangan sesama anak Rohis. Kaum ekstrimis yang idealis, begitulah aku dan kawan-kawanku menyebut mereka. Dan Rei, sahabatku tersayang, kau jatuh hati pada cowok seperti itu? Cowok yang ketika bicara, menatapmu pun enggan? Cowok yang selalu membawa-bawa nama Tuhan dan moralitas agama dalam tiap perkataannya. Cowok yang demografi masa depannya hanya terdiri dari satu kata. Penceramah. Bagaimana bisa??
            ” Rio, Rio .... kok, sampai ke Afwan segala, sih?” Rei menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan tawa.
            ” Salah lagi, ya?”
            ” Ya iyalah. Ngapain juga aku suka sama Afwan. Yang kumaksud itu....” kalimat Rei terhenti.
            ” Hmm....” kutatap dia penuh tanya.
            ” Rio, aku .... yang kumaksud itu sebenarnya....”
            ” Hmmmm.... Rei....” tiba-tiba saja aku mulai bosan melihat makhluk di depanku ini. Jenuh dengan gaya berteka-teki dibalik senyumannya.
            ” Ngg.... jadi gini.... maksudku sebenarnya....”
            ” Rei! Stop berteka-teki! Jujur aja deh!” Duh, Rei kuharap itu aku. Sungguh. Katakanlah kalau dia yang kau maksud aku.
            ” Tuhan.”
Aku terpana.

Senin, 13 Juni 2011

APPLE = STRAWBERRY ON A SHORTCAKE??



Kalo kamu makan cake berhiaskan strawberry,
Mana yang kamu makan duluan, cake atau strawberry-nya?     
      
“Ehem… Har!....”

Sunyi. Tak ada jawaban. Cowok berkacamata itu mengernyit. Pandangannya yang semula tertuju pada tuts-tuts keyboard beralih lurus ke depan. Ini sudah keempat kalinya ia melakukan hal senada, menghentikan permainan karena sosok jangkung itu. Bedanya, orang yang ia panggil tak menoleh sedikitpun seperti sebelumnya.

”Har!....” lagi-lagi dia berusaha memanggil. Kali ini lebih lantang berharap ada tanggapan. Tapi, nihil. Sosok itu masih saja termangu. Si kacamata menghela nafas panjang. Dia ganti menatap sekeliling. Kawan-kawan satu grupnya. Zen, gitaris mereka tampak ikut-ikutan mengernyit. Sementara Jun, drummer sekaligus anggota termuda di grup, mengangkat bahu. Sama seperti dia, keduanya juga memperhatikan sosok jangkung tak jauh dari mereka. Sekali lagi, cowok berkacamata itu menghela nafas sebelum akhirnya berjalan mendekati sang sosok.

”HARI ADIPURA!!!!....” lengking si kacamata membahana diiringi tepukan keras di pundak sosok yang sedari tadi mengacuhkannya.  Sontak, sosok itu tergeragap, menoleh.

”E.... eh.... Shin. Ke.... kenapa?” cowok yang dipanggil Hari itu terbata bertanya. Dia memandang bingung. Wajah ovalnya kini tampak seperti bayi. Polos. Seolah tanpa dosa. Padahal, dia baru saja melanggar undang-undang nomor satu di grup mereka: Dilarang melamun saat latihan, apapun bentuknya!

Si kacamata alias Shin mendengus sebal. Tangannya bersidekap. Pose yang sudah sangat dihafal anak-anak satu grup. Artinya kira-kira begini, Kamu tahu apa yang kamu lakukan?

”Serius dikit dong! Waktu kita tinggal tiga hari lagi. Ngelamun apa sih?” tanya Shin penuh selidik. Setahu dia, Hari bukan tipe orang yang suka melamun. Seberat apapun masalah yang sedang dihadapi kawannya itu, selalu ditanggapi dengan tawa. Jarang menampakkan wajah murung bin melamun seperti saat ini.

”Ngelamun? Nggak kok. Mana mungkin aku ngelamun waktu latihan,”

”Nggak ngelamun? Empat kali salah lirik plus chord kamu bilang nggak ngelamun?? Ritme gitar kamu dari tadi berantakan, Bro. Ckckck....” cowok berkacamata itu menggerutu.  Sementara Hari cuma garuk-garuk kepala sambil nyengir. Baru sadar akan kesalahannya. Wajar kalau Shin yang notabene leader band kesal karena ulahnya. Tiga hari lagi mereka bakal unjuk gigi di hadapan ribuan orang. Java Indie Music Festival. Ajang paling bergengsi bagi para pemusik indie yang tentu saja bisa jadi media promosi gratis grup mereka.

”Masa’ sih? Sory deh, sory....”

”Huft.... kamu ini! Oke, kita break dulu. Lanjut besok pagi aja, aku ada kuliah!” Shin melirik Swiss Army di tangan kirinya. Pukul 15.45. Lima belas menit lagi dia sudah harus ada di kelas Bu Diah, dosen Sistem Basis Data yang terkenal disiplin dan sering memberi kuis dadakan. Tentu saja kalau tak ingin dapat tugas tambahan membuat Parser ataupun Query Tree yang naudzubillah njlimet cuma gara-gara terlambat masuk.

”Oya, Har....”, langkah Shin tertahan di ambang pintu studio. Tatapannya tajam mengarah ke Hari yang setia nyengir, ”.... aku nggak mau tahu, besok kamu harus lebih serius. Gak usah mikir macem-macem dulu! Terutama tentang si Nicky!” kalimat terakhir Shin kontan membuat Hari tercekat. Cengirannya seketika lenyap.
***
“Dia ngomong sekeras itu masa’ kita nggak denger sih? Nggak mungkin, Har!” Zen angkat bicara. Mereka tengah menikmati bakso Mbah Man di depan studio. Jun malah hampir menghabiskan mangkok keduanya. Bagi dia yang memang doyan makan, satu porsi belumlah cukup.

”Hah?! Jadi kalian tahu?” Hari jadi salah tingkah. Tak menyangka kalau percakapannya dengan Nicky sebelum latihan tadi didengar kawan-kawannya.

”Ya iyalah.... udah nggak usah dipikir. Pertanyaan dia tuh gak butuh jawaban. Bener gak Jun? Jun? Hei, Jun?!!” Zen melempar pandang ke arah Jun yang tak juga menjawab.

”Hah? Ap.... apa? Baksonya enak banget kok, Mas. Hmm.... suedaapp....” Jun mengacungkan jempol lalu kembali menikmati bakso yang tinggal dua biji di mangkoknya.

Pletakk!!

“Uhuk.... uhuk.... Aduduh…. Aduuhh.... Mas Zen apa-apaan sih?! Ganggu orang makan aja!!” Jun meringis sembari mengelus kepala. Sebuah jitakan keras baru saja mendarat mulus di sana. Bakso yang hampir masuk mulutnya sukses menggelinding di kaki meja.

”Kamu tuh.... perut aja yang diurusin! Solider dikit napa?” Zen makin gemas.

”Solider? Aku solider kok, Mas. Sama perut aku hehehe....”

Zen bersiap hendak menjitak lagi adik tingkatnya itu. Tangannya terangkat ke atas, tapi batal saat melihat Hari yang beranjak.

”Aku duluan. Oya, kamu yang traktir ’kan Zen? Makasih yo....” ujarnya seraya menyeruput es teh. Baksonya baru berkurang seperempat mangkok.

”Hah? Apa?! Eh, Har.... tunggu!”

Hari tetap melenggang, tak peduli panggilan sobatnya itu. Dia butuh istirahat. Mungkin tepatnya waktu untuk sendiri. Berpikir. Masih sempat didengarnya teriakan Jun.

”Mas Hariiii.... baksonya buat aku yaaa???”
***
Satu hal yang paling dibenci Hari di dunia ini: Jadi cowok melankolis!

Bagi dia itu tindakan memalukan plus menjatuhkan harga diri. Menurutnya, cowok harus selalu tegar apapun yang terjadi. Bisa menyelesaikan masalah dengan logika. Nggak kayak cewek yang selalu mengandalkan perasaan. Itu sebabnya, Hari illfeel  banget saat tahu kalau Adi, teman satu kamarnya, banjir air mata waktu adegan Shah Rukh Khan diusir Amitabh Bachan dalam film Kabhi Khushi Kabhi Gam. Atau ketika Rizky, sang adik, tiba-tiba mogok sekolah plus nangis empat hari tiga malam (yang semalam, mogok makan) cuma gara-gara putus sama cewek teman sekelasnya. Buat Hari, mereka berdua bukanlah cowok sejati. Terlalu mudah menangis untuk hal-hal remeh. Terlalu gampang terbawa perasaan. Namun, siapa sangka kalau akhirnya dia tanpa sadar terjebak pula pada kondisi serupa. Melankolis!

Semalaman mengurung diri di kamar. Berbaring sambil menerawang ke langit-langit. Sesekali memandang selembar foto lalu menghela nafas panjang. Melamun. Hal yang hampir tak pernah Hari lakukan. Cowok itu memang selalu tenggelam dalam kesibukan sepanjang hari, dari pagi hingga malam menjelang. Kuliah, latihan band, karate, memotret, dan seabreg kegiatan lainnya. Otomatis, tak ada waktu untuk duduk diam di kamar, kecuali kalau ada tugas kuliah.

Nicky Hikaru, desis Hari melafalkan satu nama.

Ya, nama itu! Dialah yang kini fotonya tengah Hari pegang erat. Dia pulalah penyebab situasi melankolis di hati cowok itu. Seorang gadis berlesung pipi yang ia kenal tiga tahun lalu saat tengah menikmati pameran foto di Ballroom Hotel Ciputra. Seorang gadis yang lantas menempati ruang tersendiri di sanubarinya. Seorang gadis yang tiba-tiba saja mengajukan pertanyaan paling aneh di tengah adem ayem hubungan mereka.

”Kalau kakak makan cake berhiaskan strawberry, mana yang kakak makan duluan? Cake? Atau strawberry-nya?” tanya gadis itu tiga hari lalu. Mereka tengah duduk di pelataran Perpustakan Wilayah Semarang, tempat favorit Nicky. Kalau bukan karena Nicky, Hari takkan pernah mau menginjakkan kaki ke tempat membosankan itu.

”Hah? Apa?” Hari balik tanya. Keningnya berkerut.

”Aku tanya, kalau kakak makan cake berhiaskan strawberry, maksudku bener-bener buah strawberry asli bukan plastik, mana yang kakak makan duluan? Cake? Atau strawberry-nya?” tanya Nicky kembali seraya menatap Hari. Kerutan di kening Hari makin bertambah.

”Serius?”

Nicky mengangguk mantap. Sontak, Hari terbahak.

”Konyol,”

”A.... apa?”

”Ya, pertanyaan kamu konyol. Nggak penting tahu,” ujar Hari sembari mengulas senyum. Dia sudah terlampau sering mendengar pujaan hatinya itu melontarkan aneka pertanyaan tak terduga. Hari masih ingat ketika sebulan lalu tiba-tiba Nicky bertanya: Mana yang lebih enak, jadi bintang, bulan, atau matahari? Saat itu, dia hanya tertawa.

”Jadi, menurut kakak, aku cuma boleh tanya hal-hal penting? Kakak selalu begitu!” ujar Nicky ketus. Dia berdiri.

”Lho, kok? Ky, ....”

”Aku nggak mau tahu. Pokoknya tiga hari lagi kakak harus jawab pertanyaanku. Titik!” potong gadis itu cepat, membuat Hari melongo.

Menurut Hari, pertanyaan Nicky konyol. Sangat. Nggak butuh jawaban. Dan nggak ada waktu buat dipikirkan. Dan itulah yang ia katakan ketika Nicky menemuinya di studio hari ini.

”Kalo Kak Hari nggak mau jawab, it’s okay. Kita putus!”

Hari terpana. Tak menyangka kekasihnya tiba-tiba mengeluarkan kalimat yang paling tidak ia inginkan.

”Putus? Hah? Yang beneran aja dong, Ky. Masa’ cuma gara-gara pertanyaan bodoh kayak gitu, kita putus?”

”Buat kakak, mungkin itu pertanyaan konyol, bodoh, apalah namanya. Tapi, buat aku.... penting banget. Ini soal kita! Oke, aku kasih kakak tiga hari lagi buat mikir jawabannya. Harus dijawab!” ultimatum Nicky tegas. Kali ini gadis itu tak main-main. Tak seperti sebelumnya.

Hari tercenung bahkan hingga Nicky lenyap dari pandangannya.

Duh, Ky.... kamu kenapa sih? Kamu ’kan tahu aku nggak suka cake ataupun strawberry.
***
Sementara itu, ....

Di sudut kamar kos lain, seorang cowok duduk terpekur di samping ranjang. Perlahan, dia bangkit, membuka laci mejanya. Diraihnya sebuah agenda berwarna ungu. Hati-hati dibukanya lembar demi lembar, coba mencari sesuatu yang pernah ia simpan di sana. Ketemu. Pelan, cowok itu mengusap benda yang ia temukan. Selembar foto. Seorang gadis berambut sebahu dengan lesung pipi yang membuat senyumnya memesona.

Kalo kamu makan apel, mana yang kamu pilih? Makan langsung dengan kulitnya? Atau dikupas dulu?

Cowok itu menghela nafas panjang.
***
”Gila kamu, Ky! Yang beneran aja dong!”

Nicky spontan menutup telinga. Suara enam oktaf Dwi mengobrak-abrik konsentrasinya yang serius membaca novel Padang Bulan. Gadis itu mendengus.

”Kamu ini kebiasaan deh! Kalo bertindak gak dipikirin dulu akibatnya. Kalo ternyata Kak Hari bener-bener gak peduli sama pertanyaan kamu gimana?” tanya Dwi masih dengan suara enam oktafnya. Kadang, Nicky berpikir kalau teman sekamarnya itu lebih baik minggat ke Inggris, ikut casting buat film Harry Potter and The Deathly Hollow part dua. Dia cocok buat menggantikan si wanita gemuk yang hobi nyanyi di pintu asrama Gryffindor. Yah.... daripada ikut IMB terus buat telinga Mas Addie M. S. harus direparasi ke dokter THT ’kan bisa runyam urusannya.

”Hei, Ky! Ditanya malah diem aja nih anak,”

”Yah.... putus,” jawab Nicky singkat. Pandangannya masih tertuju pada baris-baris novel Andrea Hirata itu.
”What?! Kamu udah bener-bener gila! Masa’ mau putus ma cowok keren, cakep, pinter, punya suara bagus kayak Kak Hari sih? Apa coba yang kurang dari dia? Perfect banget tahu!” Dwi melotot. Kalau jadi Nicky, dia tidak akan melepas cowok seperti Kak Hari cuma gara-gara pertanyaan konyol macam begitu.

Nicky menatap Dwi sekilas, ”Justru itu. Karena dia terlalu sempurna, aku seringkali merasa ragu. Jadi aku ajukan pertanyaan seperti itu,”

”Kamu sendiri kalo ditanya begitu bakal jawab apa? Cake atau strawberry?” tanya Dwi penuh selidik. Gadis di depannya terdiam.
***
”Putus aja, Mas,” kata-kata Jun membuat Hari dan Zen serentak berpaling dari gitar mereka. Latihan baru saja usai. Kali ini lumayan sukses. Setidaknya, Hari tidak melakukan kesalahan sebanyak kemarin. Hanya dua kali salah chord. Walau begitu, dia tetap kena tegur Shin. Maklum, si kacamata nan perfeksionis itu memang tak pernah menolerir kesalahan sekecil apapun.

”Hei, Jun! Jangan gitu dong! Kamu ’kan tahu si Hari cinta banget sama tuh cewek,” sanggah Zen.

”Lho, Mas Zen nih gimana tho? Kemarin katanya Mas Hari gak perlu mikirin jawaban Nicky. Itu artinya mending putus aja ’kan?”

Hari beralih memandang Zen penuh tanya. Dia memang mendengar Zen mengucapkan kata-kata itu. tapi, apakah artinya memang harus putus?

Zen melotot, ”Bukan itu maksudku! Kamu ini nggak pernah belajar tentang sintaksis ya?”

Jun nyengir sambil garuk-garuk kepala. Lagi-lagi seniornya saat SMA itu mengeluarkan istilah aneh. Tentu saja Jun tak tahu apa itu sintaksis. Dia ’kan bukan mahasiswa Sastra Indonesia. Kalau neraca perdagangan sih lain lagi. Itu makanan sehari-harinya sebagai anak Akuntansi.

Hari masih menatap Zen, membuat cowok itu salah tingkah.

”E... eh, bukan itu gitu, Har. Emang sih, aku bilang kamu nggak perlu mikir jawabannya. Tapi, gak berarti putus ’kan? Lagipula menurutku pertanyaan Nicky memang aneh. Emangnya kenapa kalo kita makan cake atau strawberry-nya duluan? Gak masalah juga ’kan? Toh sama saja, yang penting kenyang.”

Begitu mendengar kata kenyang, Jun langsung mengangguk-angguk setuju. Yupz, yang penting kenyang! Nggak jadi soal mau cake atau strawberry-nya dulu, sama saja!

Hari menghela nafas. Andai sesederhana itu, dia tak perlu pusing seperti saat ini. Nicky bukan tipe cewek yang sembarangan berucap. Setiap kata-katanya, entah itu pertanyaan ataupun pernyataan selalu mengandung maksud. Memang sih, kadang di satu sisi terasa begitu konyol, tak masuk akal, atau apalah namanya. Namun, di sisi lain Hari sadar. Dia belajar banyak hal dari gadis berlesung pipit itu. Tentang hidup, kesederhanaan, juga Tuhan. Sesuatu yang sudah lama ia lupakan. Dan ia, kali ini, sekali lagi harus berpikir keras demi pertanyaan yang selalu di luar dugaan.

”Pantesan aja sampai sekarang kalian gak punya cewek. Terlalu berpikir sempit!”

Hari, Zen, dan Jun serentak menoleh ke arah pintu masuk studio. Tampak seseorang berdiri tegap di sana. Sebelah tangannya menjinjing sebuah plastik putih bergambar seekor lebah. Logo minimarket cukup terkenal di dekat studio mereka.

”E.... Eh, Shin. Kapan dateng?” Zen gelagapan. Shin mendengus. Diletakkannya plastik yang ternyata berisi air mineral dan beberapa snack.

”Sejak kalian mulai ngomongin soal Nicky. Heran, seneng banget sih kalian ikut campur urusan Hari. Kalian ’kan gak punya pengalaman sama cewek,”

”Weits, siapa bilang? Aku ini jagonya soal cewek. Aku tahu tipe-tipe cewek di jagat ini. Aku juga punya pengetahuan luas tentang gimana cara menghadapi cewek,” ujar Zen seraya menepuk dada.

”Ya! Dari nonton FTV dan sinetron tiap malam? Atau Korean drama? ” tukas Shin membuat Zen seketika bungkam. Sobatnya itu tak salah tebak.

”Hehehe.... kalo aku sih jelas beda sama Mas Zen yang keseringan nonton TV,” Jun tak mau kalah, ”Aku punya segudang tips tentang teknik jitu putus sama cewek. Aku juga ahli dalam hal fashion favorit cewek. Selain itu, ....”

”Ya, ya, ya... aku tahu kok. Dari buku Raditya Dika ’kan? Itu gak cukup, Bro. Dan itu sebabnya sampai sekarang gak ada cewek simpatik sama kalian!” kata-kata Shin kontan membuat Jun mati kutu. Sekali lagi cowok berkacamata itu benar. Teori. Hanya itulah yang mereka tahu tentang cewek. Dan, seperti kata orang: praktik jauh lebih mengerikan.

”Tapi, Mas juga gak punya cewek ’kan? Berarti sama dong ma kita. Sama-sama berpikiran sempit,” celetuk Jun tiba-tiba. Rona wajah Shin spontan berubah. Tatapannya tajam, membuat juniornya serta merta menutup mulut. Hening. Terdengar helaan nafas panjang. Shin memandang tiga kawannya. Sesaat kemudian dia mengangguk.

”Kamu benar, Jun. Aku sama dengan kalian. Terlalu berpikir sempit. Bahkan, lebih parah dari itu. Maaf,” ujarnya lantas berdiri. Diraihnya ransel di atas meja lantas melenggang tanpa sepatah kata pun. Tinggallah Hari, Zen, dan Jun saling menatap. Bingung. Bagi mereka, Shin tipe cowok yang paling anti mengucap maaf. Dia tokoh super sarkastik dalam tiga tahun persahabatan mereka. Hampir tak pernah mengeluarkan pujian. Namun, di sisi lain juga sosok nan bijak di mata ketiganya. Setiap kali muncul masalah, entah dari masing-masing pribadi atau menyangkut kepentingan band, dialah orang yang paling bisa berpikir jernih. Yah.... walaupun kadang penyampaiannya seperti tadi, cenderung kasar dan terkesan merendahkan orang lain.
Sunyi.
***
Cowok itu menatap gadis di depannya lekat. Sejuta tanya tergambar jelas dari wajah tampannya. Sementara sang gadis, acuh saja. Malah tampak larut dalam baris-baris Drama Tiga Babak-nya Agatha Christie. Seri bacaan favoritnya sejak masih di bangku SMP. Tentu saja selain Detektive Conan, Sherlock Holmes, dan Harry Potter. Itu pulalah yang membuat sang cowok terpesona saat pertama kali mengenalnya. Unik. Gadis berambut sebahu itu tak suka jalan-jalan ke mal, berburu baju ataupun sepatu layaknya kaum cewek. Apalagi ke salon. Kalaupun ke mal, hanya dua tempat yang ia tuju. Bookstore dan bioskop. Hanya di waktu-waktu tertentu. Ketika komik Conan kesukaannya terbit atau bila sekuel Harry Potter tayang.

Si cowok mendengus, ”Hei, sampai kapan kamu diam begini?”

Hening. Cowok itu menghela nafas. Tatapannya berpaling ke jejeran palem di sekitar mereka. Coba menghapus kesal yang hinggap di hati semenjak tiba di tempat ini. Senja mulai menjelang bersama sepoi angin. Semburat jingganya mulai menggantung di cakrawala. Hampir satu jam ia dan sang gadis di sini, taman kota. Tempat pertama kali mereka bertemu.

”Sudah kubilang ’kan, pertanyaan kamu nggak butuh jawaban. Bodoh!” seru sang cowok ketus. Sedari tadi dia merasa hanya jadi patung pendamping, tak diajak bicara sepatah kata pun. Kalau tahu begitu, dia takkan sudi datang. Apalagi sengaja mengorbankan latihan tenis di tengah persiapan turnamen antarprovinsi begini.

Masih senyap. Cowok berambut cepak itu berdiri. Kesabarannya sudah habis. Dia bersiap melangkah ketika satu kalimat menusuk gendang telinganya.

”Shin.... Shin? Hei!” sebuah tepukan keras mendarat di bahu seorang cowok berkacamata. Dia tergeragap, menoleh. Satu sosok tersenyum memandang lantas duduk di sampingnya.

”Hari? Ngapain di sini?” tanyanya sambil balas tersenyum. Kelebatan memori  yang tadi melintas lenyap sudah.

”Jalan-jalan. Biasa, cari angle yang bagus. Gak tahunya ketemu kamu,” jawab Hari masih dengan senyum tersungging. Shin tertawa. Dia tahu pasti sobatnya berbohong. Meski tempat ia berada kini punya view cukup menarik, tapi Shin yakin Hari tak datang kesini untuk itu. Tak ada kamera yang biasanya terkalung di leher sang kawan.

”Cantik,” desis Hari perlahan, membuat Shin mengernyit. Cantik? Mana? Cowok berkacamata itu mengedarkan pandang ke sekeliling. Hanya ada beberapa anak kecil yang tengah bermain bulutangkis. Itupun cowok. Taman ini memang jarang dikunjungi orang.

”Itu lho sketsa kamu. Cantik. Siapa?” Hari melirik kertas di genggaman sobatnya penuh rasa ingin tahu. Maklum, baru kali ini dia melihat Shin menggambar wajah seorang gadis.

”Eh, i.... ini.... bukan apa-apa kok. Iseng.... ya cuma iseng aja,” Shin terbata. Buru-buru ia masukkan kertas di tangannya ke ransel. Cowok di sampingnya terkekeh.

“Udah, nggak usah bohong. Aku yakin aslinya lebih cantik,”

Terdengar helaan nafas panjang. Shin menatap Hari lekat. Perlahan, ia keluarkan kembali sketsa tadi. Raut wajahnya mendadak serius.

”Rine. Namanya Rine. Gadis khayalanku hehehe....” Shin berdiri. Tertawa puas. Sementara Hari melongo. Tergesa ia bangkit, mengejar langkah-langkah panjang si kacamata.

”Bohong!! Dia bukan gadis khayalan kamu. Iya ’kan?” tanya Hari penuh selidik. Melihat ekspresi serius di wajah sobatnya, Shin kontan tertawa kembali. Dia terus melangkah, tak peduli panggilan cowok jangkung yang masih berusaha menggali informasi darinya.

Thanks, Har, batinnya berbisik pelan.
***
Hari mengamati apa yang ada di genggaman tangannya. Sebuah foto. Mata elangnya menekuri tiap sudut dalam foto itu. Entah kenapa ia merasa tak asing dengan wajah yang terpampang di sana.

Sesaat, dia tertegun. Tunggu dulu! Tak salah lagi! Ini ’kan cewek yang digambar Shin tadi. Siapa ya? Hatinya berkata. Diamatinya lagi lembaran itu.

Shin pasti kenal banget sama cewek ini. Tapi, siapa? Apa pacarnya ya? Ah, nggak mungkin! Sejak kapan dia mau pacaran? Hari menggeleng-gelengkan kepala tak mengerti. Dia tak sengaja menemukan foto itu di buku lirik milik Shin yang dipinjamnya saat latihan. Foto seorang gadis berambut sebahu dengan lesung pipi yang memesona. Hari menghela nafas. Dimasukkannya benda itu kembali ke buku Shin. Dia harus mengembalikannya.

***
”Akan kuberitahu jawabannya,”

Suara lembut itu kembali memenuhi rongga pikiran Shin untuk kesekian kalinya. Dia memejamkan mata.

”A.... apa??” Shin menoleh. Gadis yang sedari tadi larut dalam alur Drama Tiga Babak Agatha Christie itu tahu-tahu sudah berdiri. Tatapannya lurus.

”Kalo kamu makan apel, mana yang kamu pilih? Makan langsung dengan kulitnya atau dikupas dulu? Kamu bilang itu pertanyaan bodoh ’kan?” gadis itu tersenyum.

”Tentu saja. Itu ’kan cuma masalah selera. Gak ada pilihan yang benar atau salah,” Shin bergeming.
”Ya.... nggak ada yang benar atau salah. Tapi, bukan itu maksud pertanyaanku,”

Kata-kata sang gadis membuat Shin mengernyit.

”Apel terkadang bisa menipu. Harum tapi belum tentu manis. Permukaannya halus tapi belum tentu bagian dalamnya putih bersih. Ketika kita makan apel dengan kulitnya, kita tak pernah tahu apakah ada bagian yang berwarna kecoklatan di permukaan kulit buahnya atau tidak. Tanda awal apel yang rusak,” gadis itu menghela nafas. Rambut sebahunya yang dibiarkan tergerai tertiup sepoi angin.
”Tapi, saat kita kupas dulu, maka bagian itu akan tampak. Kita bisa dengan mudah menghilangkannya. Makan apel sama seperti menjalani hidup. Tentang bagaimana kamu menilai seseorang. Apakah hanya dari penampilan luarnya atau kepribadian di dalamnya? Dan ternyata kamu belum bisa memahaminya,”

Shin tercengang. Gadis di depannya tersenyum. Perlahan membalikkan badan, berjalan menjauh darinya.
”Tu.... tunggu! Rine! Maksud kamu apa?! Rine!!” serunya memanggil. Nihil. Gadis yang dipanggil Rine itu tetap melangkah. Tak pernah menoleh lagi padanya.

Shin terhenyak. Handphone­ cowok berambut cepak itu bergetar. Satu pesan masuk.
***
Hari menghela nafas.

”Jadi begitu. Kenapa kamu nggak pernah cerita?” tanyanya pelan. Bartahun-tahun mereka bersahabat, baru kali ini dia mendengar Shin bercerita sebanyak itu. Tentang gadis dalam foto yang ia temukan. Shin mengulas senyum.

”Aku akan terlihat sangat bodoh jika menceritakannya. Bayangkan, seorang Shine Zulfikar yang dianggap jenius semua orang tak bisa menjawab pertanyaan konyol begitu,”

Hari tertawa.

Keduanya menegadahkan kepala, menatap langit malam bertabur bintang. Bulan tak muncul. Namun, justru itulah yang lebih mereka sukai karena cahaya bintang terlihat lebih memesona. Taman itu masih sama seperti tadi sore. Hening.

”Aku memang bodoh,” ujar Shin memecah kesunyian. Tangannya menggenggam selembar foto. Rine. Shin tak tahu di mana gadis itu saat ini.

”Sudahlah....” lembut suara Hari menyahut. Pelan ditepuknya bahu sang sobat. Keduanya kembali membisu.

”Har....”

”Hmmm....”

”Tentang pertanyaan Nicky. Kau sudah punya jawabannya?”

Hari menghela nafas panjang, ”Ya.”

Kalau kamu makan cake berhiaskan strawberry, mana yang kamu makan duluan? Cake atau strawberry-nya?

Bukan masalah cara kita memakan atau mana yang harus kita makan duluan. Tapi ini tentang kebahagiaan dan penderitaan. Apakah kamu lebih suka menikmati kebahagiaan dulu baru penderitaan atau sebaliknya?


[ akhirnya selesai juga.... See you J ]