Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Kamis, 09 Agustus 2012

MY DREAM:9



“Aku ingin menghilang.”

Aku tersentak. Apa yang baru saja kuucapkan?

Di sisiku, Embun menghela napas. Pandangannya lurus, menatap jejeran nisan yang membisu. Aku tahu dia pasti bosan mendengarku mengatakan hal yang sama tiap kali kami bertemu. Aku sendiri juga sudah bosan, tapi entah kenapa bibirku tak mau berkompromi. Apakah aku sedemikian putus asa dengan hidup ini hingga selalu berpikir untuk lenyap?

“Kenapa?” tanyanya lirih.

“Entahlah. Mungkin karena aku selalu merasa sendirian. Kesepian itu telah menjadi penjara yang mengurungku dari waktu ke waktu,” jawabku seraya memandangnya.

“Kau yakin?” tanpa menoleh padaku, kembali ia bertanya.

Aku mengangguk pasti, “Tentu saja. Memang begitu ‘kan?”

“Tidak.”

Hening.

“Tak ada seorang pun yang perlu merasa sendirian, kecuali kalau dia sendirilah yang memilihnya,” ucapannya membuatku mengernyit.

“Maksudmu akulah yang memilih untuk sendiri, menjauh dari duniaku. Begitu? Buat apa aku memilih sesuatu yang justru akan merugikan diriku?”

Embun diam. “Karena kau takut,”

“Lebih tepatnya, kau takut pada masa lalu. Dan, itu membuatmu memilih untuk sendirian.”

Aku terhenyak. Masa lalu? Bayang-bayang yang selalu ingin kuhindari itu tiba-tiba saja berkelebat. Aku takut pada masa lalu?

“Kau takut orang-orang di sekitar tahu seperti apa masa lalumu karena itu tanpa sadar kau memilih menghindar dari mereka. Berlari menjauh. Lalu saat tersadar, tiba-tiba kau merasa sendirian. Begitu kesepian. Bagaimana menurutmu?”

Kali ini aku terdiam. Sunyi kembali menyergap. Hanya desau Tuan Angin yang terdengar di antara dedaunan.
“Tak perlu dijawab. Benar atau tidak hanya hatimu yang tahu. Dan, hanya hatimu pula yang mampu membuat rasa kesepian itu menghilang,”

Fajar mulai merekah. Bersama menghilangnya gemintang di karpet malam. Embun bangkit dari bangku, memandangku lekat.

“Meski begitu, kau tahu… kita juga perlu rasa kesepian. Kesendirian akan membuat kita tahu apa makna hidup ini. Kesunyian lambat laun ‘kan mengobati apa yang terjadi di masa lalu. Pada akhirnya, kita ‘kan jadi lebih dewasa menjalani hidup ini,”

Embun tersenyum sekilas, sebelum akhirnya berjalan meninggalkanku yang setia termenung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar