“Aku
ingin menghilang.”
Aku
tersentak. Apa yang baru saja kuucapkan?
Di
sisiku, Embun menghela napas. Pandangannya lurus, menatap jejeran nisan yang
membisu. Aku tahu dia pasti bosan mendengarku mengatakan hal yang sama tiap
kali kami bertemu. Aku sendiri juga sudah bosan, tapi entah kenapa bibirku tak
mau berkompromi. Apakah aku sedemikian
putus asa dengan hidup ini hingga selalu berpikir untuk lenyap?
“Kenapa?”
tanyanya lirih.
“Entahlah.
Mungkin karena aku selalu merasa sendirian. Kesepian itu telah menjadi penjara
yang mengurungku dari waktu ke waktu,” jawabku seraya memandangnya.
“Kau
yakin?” tanpa menoleh padaku, kembali ia bertanya.
Aku
mengangguk pasti, “Tentu saja. Memang begitu ‘kan?”
“Tidak.”
Hening.
“Tak
ada seorang pun yang perlu merasa sendirian, kecuali kalau dia sendirilah yang
memilihnya,” ucapannya membuatku mengernyit.
“Maksudmu
akulah yang memilih untuk sendiri, menjauh dari duniaku. Begitu? Buat apa aku
memilih sesuatu yang justru akan merugikan diriku?”
Embun
diam. “Karena kau takut,”
“Lebih
tepatnya, kau takut pada masa lalu. Dan, itu membuatmu memilih untuk
sendirian.”
Aku
terhenyak. Masa lalu? Bayang-bayang yang selalu ingin kuhindari itu tiba-tiba
saja berkelebat. Aku takut pada masa lalu?
“Kau
takut orang-orang di sekitar tahu seperti apa masa lalumu karena itu tanpa
sadar kau memilih menghindar dari mereka. Berlari menjauh. Lalu saat tersadar,
tiba-tiba kau merasa sendirian. Begitu kesepian. Bagaimana menurutmu?”
Kali
ini aku terdiam. Sunyi kembali menyergap. Hanya desau Tuan Angin yang terdengar
di antara dedaunan.
“Tak
perlu dijawab. Benar atau tidak hanya hatimu yang tahu. Dan, hanya hatimu pula
yang mampu membuat rasa kesepian itu menghilang,”
Fajar
mulai merekah. Bersama menghilangnya gemintang di karpet malam. Embun bangkit
dari bangku, memandangku lekat.
“Meski
begitu, kau tahu… kita juga perlu rasa kesepian. Kesendirian akan membuat kita
tahu apa makna hidup ini. Kesunyian lambat laun ‘kan mengobati apa yang terjadi
di masa lalu. Pada akhirnya, kita ‘kan jadi lebih dewasa menjalani hidup ini,”
Embun
tersenyum sekilas, sebelum akhirnya berjalan meninggalkanku yang setia
termenung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar