Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Sabtu, 24 November 2012

5 Hal, Saya dan SM-3T




Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. SM-3T. Tiga huruf, satu angka yang tidak pernah saya sangka akan menjadi salah satu bagian penting dalam hidup ini. Bagian yang membuat saya belajar banyak hal. Sebuah babak baru dengan berjuta kenangan bertabur tawa juga air mata.

Bermula dari posting seorang kawan di sebuah jejaring sosial. Kira-kira bunyinya begini:”Bagi teman-teman yang ingin mbolang….” diikuti tautan ke laman kampus saya yang berisi info pendaftaran program mengajar di luar Jawa bagi lulusan kependidikan. Saat itu, saya hanya sepintas membaca. Sedikit tertarik, tapi belum terbersit minat untuk mendaftar. Keesokan paginya, salah seorang kawan mengirimkan SMS. Isinya, mengajak ikut bergabung dalam program tersebut. Saya masih ingat kata-katanya:”Kita coba saja jeng. Siapa tahu ini rezeki kita hehe….”

Dan, saya pun iseng mencoba bahkan tahu-tahu turut ‘ngomporin’ kawan-kawan seangkatan untuk mendaftar. Di tengah maraknya euforia SEA GAMES, galau karena dua tahun tak kunjung mendapat status strategis dalam dunia pekerjaan (ralat: saya cukup beruntung, masih menjadi guru les sih), dan bimbang tak jua dapat jodoh (alasan terakhir ini bercanda lho :D). 

Begitulah, setelah lolos seleksi administrasi, tes tulis, dan wawancara, saya pun menjadi salah satu di antara 294 peserta SM-3T dari kampus. Selama 12 hari, kami mendapat pembekalan tentang ketahanmalangan, Pramuka, dan praktik pembelajaran sebelum akhirnya diterjunkan ke lokasi penempatan.

Aceh Besar. Salah satu kabupaten di provinsi Aceh. Wilayah paling barat Republik Indonesia. Sungguh, dalam mimpi pun saya tak pernah membayangkan akan sampai ke sana. Apalagi  berdiam untuk waktu cukup lama. Sepuluh bulan. Waktu berangkat, saya hanya memantapkan satu niat, membantu. Saya hanya ingin membantu pendidikan di luar Jawa. Idealis memang, tapi ya, memang cuma itu yang ada di benak ini. Saya juga tak peduli tentang gempa ataupun isu-isu politik yang memang tengah marak di daerah penugasan. Bismillah sajalah!

Lalu, setelah sepuluh bulan apa yang saya dapatkan ketika kembali menjejak pulau Jawa?

Setidaknya, ada lima hal yang saya peroleh. Lima hal antara saya dan SM-3T.

1.         Bisa Naik Pesawat (lagi J)
Yupz, SM-3T membantu saya sekali lagi mendapat pengalaman luar biasa. Naik pesawat. Yah, meski bukan untuk yang pertama kali, tapi selalu ada sensasi tersendiri ketika menaiki si burung besi. Apalagi ketika pesawat mulai take off. Daratan yang semula begitu dekat perlahan menjauh. Pepohonan, laut, juga gedung-gedung berubah menjadi titik-titik warna hijau, biru, coklat lalu semua putih. Damai menyergap.

2.         Belajar Tentang Hal Baru
Pak Yusran, ayah angkat saya di Banda Aceh, suatu ketika berkata, “Kalian ada di sini untuk belajar, bukan mencari-cari masalah.”. Ya, itu benar. SM-3T adalah ajang untuk belajar. Tentang apa saja. Mulai dari menerima karakter yang 180 derajat berbeda dari kita, adat-istiadat (seringkali jadi alasan anak-anak tak hadir di sekolah), hingga belajar untuk lebih peduli kepada sesama. Intinya, adaptasi. Sulit memang, tapi bukan berarti tak bisa. Justru dengan belajar tentang hal-hal baru, saya jadi lebih termotivasi. Saya juga semakin tahu bahwa hidup bukan cuma buat senang-senang, guys J

3.         Kontrol Emosi
Ada yang bilang kalau semakin dewasa umur seseorang, seharusnya semakin mampu mengontrol emosinya. Yah…walaupun seringkali itu hanya teori. Toh, pada kenyataannya banyak orang yang secara usia lebih tetapi minus dalam mengekspresikan emosinya. Saya sendiri, jujur saja, punya manajemen emosi yang kurang. Apalagi bila berhadapan dengan anak-anak. Dan, di SM-3T, kendali emosi saya benar-benar diuji. Pasalnya, saya harus menekan amarah yang mulai terbit ketika kawan-kawan baru saya yang berstatus anak SD berulah. Mulai dari berkelahi, lari kesana-kemari, hingga asyik ngobrol atau bahkan dengan santai keluar masuk kelas ketika saya serius bercuap-cuap. Bohong besar kalau bilang saya tak marah. Namun, lambat laun saya berusaha mengontrolnya. Pikir saya, begitulah anak-anak. Anggap saja, persiapan sebelum menjadi ibu hehe…. Saya juga tanpa sadar, sedikit demi sedikit melatih ekspresi wajah. Marah bukan berarti harus bertampang seram ‘kan?

4.         Punya Teman, Keluarga Angkat, dan Tetangga Baru
Masih segar dalam ingatan wajah-wajah penuh kekhawatiran dari ibu, bulik, hingga mbah ketika menjelang hari keberangkatan saya ke Aceh.
“Sing ati-ati yo, Nok. Mugo-mugo wong-wong kono apikan,” demikian kata bulik. Yah, maklum saja ini pertama kalinya sang keponakan pergi ke luar Jawa untuk waktu lama. Sendirian pula, tanpa ditemani keluarga. Oya, sekadar info, ibu saya asli Bulukumba. Salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan. Sesekali kami sekeluarga berkunjung kesana. Dengan kata lain, sebenarnya saya tak terlalu asing dengan kehidupan luar Jawa. Meski begitu khawatir tetap saja ada. Apalagi bagi sebagian besar orang Jawa, mereka yang ada di Aceh bertemperamen keras. Namun, semuanya sirna ketika saya melihat raut penuh keramahan dari keluarga angkat, teman alias siswa-siswa, bahkan tetangga kanan kiri tempat saya tinggal. Dengan senyum terukir, mereka menyapa dan bercerita tentang apa saja yang ingin saya ketahui.
Yap! Inilah keuntungan lain ikut SM-3T. Saya memeroleh lingkungan baru yang alhamdulillah begitu terbuka dan selalu siap menolong. Bukan hanya satu, tapi tiga keluarga angkat sekaligus saya dapatkan. Pertama, keluarga Ibu Yus, kepala sekolah tempat saya bertugas pertama kalinya di SMA 1 Indrapuri. Kedua, Bu Win, salah satu guru yang rumahnya kemudian sering saya singgahi untuk menginap ketika berada di Banda Aceh. Dan ketiga, Bu Nab, keluarga angkat di Lamsujen, Lhoong, tempat tugas saya yang kedua setelah Indrapuri. Bersama ketiga keluarga angkat rasanya kerinduan kepada kampung halaman tak terlalu terasa hehe..

5.         Bisa Merasakan Gempa :D
Poin terakhir ini mungkin menyeramkan bagi beberapa orang. Siapa sih yang senang tinggal di daerah dengan intensitas gempa hampir tiap bulan? Apalagi ancaman tsunami juga seringkali mengintai.
Itulah yang saya dan kawan-kawan SM-3T Aceh Besar hadapi. Bulan-bulan awal ketika gempa mengguncang, jujur saja kepanikan menyergap. Saya masih ingat kali pertama terjadi gempa sekitar bulan Januari, dini hari. Berbagai pikiran melintas, utamanya tentang nyawa.
Namun. lambat laun saya bersyukur juga. Terkadang malah bertanya-tanya, “Kapan ya gempa lagi?”. Yah… biar bagaimanapun, ini pengalaman tak terlupakan. Belum tentu ketika bertugas di daerah lain, saya akan mengalami hal yang sama. Sensasi kepanikan ketika tanah bergetar, ekpresi campur aduk dari orang-orang di sekitar menjadi pemandangan menarik bagi diri ini.  Dan, di balik semua itu saya semakin menyadari satu hal. Kematian itu dekat, Kawan.

Nah, itulah sedikit dari banyak hal yang saya dapatkan dari petualangan selama kurang lebih 300 hari di kabupaten Aceh Besar. Seru, unik, asyik tapi terkadang juga sukses membuat diri ini menitikkan air mata. Apapun bentuknya, segala yang terjadi sepuluh bulan ini benar-benar memberi tak sekadar pengalaman ataupun motivasi, tapi juga tantangan. SM-3T, saya bangga bisa jadi bagian dari program ini. Bagian dari usaha merengkuh mimpi-mimpi di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Salam maju bersama, Kawan J