Hai, Kawan....
Ini bukan tentang makin maraknya swalayan di kota-kota. Bukan pula soal persaingan swalayan vs mal vs minimarket yang memengaruhi perekonomian bangsa. Biarlah itu jadi urusan para pakar ekonomi. Ini hanyalah catatan kecil perjalanan saya.
Kemarin, untuk sebuah keperluan, saya berangkat ke sebuah swalayan. Tak banyak waktu, hanya sekitar setengah jam dari rumah. Begitu sampai di sana... apa yang saya lihat? Lautan manusia! Berjubel! Hilir mudik mulai dari tua muda, tinggi pendek, dll tumpah ruah di swalayan yang menurut saya tak terlalu besar itu. Oke, saya lebay! Kata yang lebih tepat mungkin 'lebih ramai dari biasanya'. Maklum saya ke sana saat hari libur nasional. Dan, bagi orang 'ndeso' seperti saya pemandangan kemarin itu baru dua kali saya alami. Pertama, ketika H-5 Lebaran dan kedua, ya kemarin itu.
So, izinkan saya berbagi sedikit tips bila menemui situasi seperti di atas:
- Stay cool, santai aja. Jangan sekali-kali langsung kabur begitu sampai di depan pintu masuk swalayan dan melihat banyak orang lalu lalang! Yah...meskipun orang 'ndeso' tapi tetap jaga imej donk...
- Buat yang langsing (atau kurus?) manfaatkan ukuran tubuh untuk menyelinap di antara dua atau tiga orang di depan kalian. Hemat waktu perlu 'kan?
- Nggak perlu ke tempat penitipan tas. Dijamin langsung ditolak karena overloaded!
- Jangan ragu buat menegur orang yang menghalangi jalan! terutama yang pake troli tapi belanjaannya limit. Swalayan 'kan milik umum!
- Pastikan antre dengan tertib. Biarpun ramai, kita harus tetap menjaga budaya luhur bangsa, Friends!
Kalau ada yang mau menambahkan silakan....
Dan, biarlah saya tutup catatan ini dengan keluhan beberapa ibu pedagang di angkot yang saya naiki.
"Saiki opo-opo tambah larang. gulo, endog, beras rak ono sing murah" kata seorang ibu berkerudung hijau.
Timpal seorang ibu lain (berkerudung putih), "Iyo, iki beras malah mundak ngantek sepuluh ewu."
Saya pun berpikir, bagaimana dengan harga di swalayan yang sepertinya makin diminati?
*salam peace*