Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Kamis, 15 September 2011

Rei


” Hah???” aku terbelalak tak percaya.
” Kenapa? Emang ga boleh, ya?” kening gadis itu berkerut seraya menatapku heran.
” Boleh, kok, cuma aneh aja. Kita ’kan lagi pusing mikir ujian tapi kamu malah bicara soal perasaan.” tuturku masih tak percaya pada apa yang baru saja diungkapkan gadis itu.
” Emang perasaan kenal ma ujian? Kalo iya, pasti dia toleran dan ga ’kan menghantuiku seperti saat ini.” aku terbahak mendengar ucapannya. Ada-ada saja!
” Tenang aja. Ujianku ga ’kan terganggu, kok”
” Ya ya ya. Oke, jadi siapa dia?” tanyaku penuh selidik sekaligus harap cemas. Ini penting bagiku. Tapi, dia lagi-lagi mengeluarkan jurus andalannya. Tersenyum.
” Waktumu sampai jam lima sore untuk menebaknya. Kutunggu di tempat biasa.” dia berdiri dan melangkah meninggalkanku.
“ Hei, Rei tunggu! Mau kemana?”
” Ta’lim. ”
***

Reindita Meredian, kenapa kau harus berteka-teki seperti ini? Katakan saja dan masalahnya akan beres. Toh, tak ada ruginya bagimu bila berterus terang. Marah? Tentu aku tidak akan bersikap sebodoh itu. Memang siapa aku? Satrio Adityawarman hanyalah satu di antara sekian banyak kawanmu. Lagipula kau ’kan tahu kalau aku tidak suka main tebak-tebakan. Aku tak seperti kau yang hobi memecahkan misteri layaknya Detektif Conan atau Sherlock Holmes.
25 menit menjelang pukul 5 sore
            ” Rio!! Dari tadi melamun terus! Kita ni lagi persiapan buat turnamen basket minggu depan. Serius dong!!” sebuah suara membuyarkan pikiranku tentang Rei. Chris, kapten basket di sekolah ini berdiri garang di hadapanku. Aku tersenyum kecut seraya mengucap maaf dan mulai kembali berlatih. Namun, ketika memandang bola, yang tampak justru wajah Rei.  Huuh!!! Siapa, sih yang dia cinta?
            Otakku mulai mendaftar sederetan nama yang mungkin masuk kategori cowok idaman gadis itu. Pekerjaan bodoh memang, tapi aku harus menjawab tantangan ini. Tatapanku mengarah ke Chris. Ya, bukankah dia cowok paling populer di sekolah ini? Wajahnya yang tampan dengan tinggi badan mencapai 170 cm membuat cowok berdarah  Prancis-Padang itu digilai hampir semua cewek di sekolah ini. Dia juga kaya. Belum lagi kepintaran dan kredibilitasnya sebagai ketua OSIS yang tak diragukan oleh siapapun. Dari segi ketenaran di sekolah ini mungkin dia bisa disejajarkan dengan Christian Bautista atau Lee Min Ho.
Yup, mungkin saja dia yang disukai Rei, tapi tunggu dulu! Benar Chris tampan, kaya, dan punya kuasa. Idaman hampir semua cewek di sekitarku. Namun, siapa yang tak tahu kalau dia juga cowok paling palyboy di seantero SMA 128 ini. Waktu kelas II, setahuku dia sudah lebih dari 20 kali pacaran. Dan itu bukan hanya dengan siswi sekolah ini saja. Bagi Chris, pacar adalah hiburan di kala bosan, tempat buat having fun. Begitulah saat kutanya tentang hobinya gonta-ganti pacar. So, tak mungkin Rei menyerahkan hatinya kepada cowok tipikal Chris karena gadis itu sangat membenci playboy. Buat Rei, playboy adalah makhluk paling menyedihkan di dunia ini.
Kucoret nama Chris dari pikiranku dan mulai mendata nama lainnya. Hmm... bagaimana dengan Febru. Anak kelas I, junior Rei di ekskul Paskibra. Bukankah Rei pernah bercerita kalau cowok itu mengingatkannya pada Reza, sang cinta pertama ketika SMP? Lagipula Febru juga seolah menaruh hati pada sahabatku ini. Sikap dan perhatian cowok berlesung pipi itu juga seringkali berlebihan manakala berdekatan dengan Rei. Sesuatu yang seringkali membuatku... cemburu. Ups!!
Mungkinkah dia yang dipilih Rei??
***
5 menit menjelang pukul 5 sore
            Latihanku gagal total. Konsentrasiku buyar karena tantangan Rei. Masih kuingat kata-kata Chris sebelum ekskul bubar, ”Aku tak mau tahu!! Kalau besok kau begini lagi, lebih baik keluar!!” Lihatlah Rei, gara-gara kau karirku di dunia basket terancam hancur. Bukan hanya aku, tapi juga sekolah ini. Wajar Chris marah, turnamen minggu depan adalah pertaruhan besar bagi sekolah kami yang selalu menjadi juara bertahan tiap tahun. Sebagai salah satu pemain inti, tanggung jawabku sungguh besar bagi tim. Huff!! Salahku juga yang terlalu memikirkan Rei.
            Selesai latihan, kutunggu Rei di tempat favorit kami. Bangku depan pos satpam sekolah. Sebentar lagi dia datang dan aku telah mengantongi satu nama sebagai jawaban walau tak terlalu yakin. O ya, sebaiknya kupikirkan nama lain. Hitung-hitung cadangan.
            Sembari menyeleksi, ingatanku melayang pada perubahan sikap Rei. Akhir-akhir ini, tiba-tiba saja dia rajin ke mushola. Awalnya kupikir itu wajar. Paling-paling salat. Keanehan mulai kurasakan ketika dia makin dekat bergaul dengan gadis-gadis berjilbab di sekolahku yang notabene anak-anak Rohis. Entah virus apa yang mereka suntikkan ke otak gadis itu hingga Rei pun mengikuti gaya mereka. Berjilbab.
            ” Kenapa? Ini ’kan syariat.” tutur Rei saat kutanya alasannya berubah penampilan. Tak masalah sebetulnya, tapi kenapa tiba-tiba saja seolah ada jarak antara kita. Sejak dekat mereka, kita jarang pulang bersama seperti masa SMP dulu. Kau selalu saja beralasan. Ta’limlah, syuro’, men..menor... eh, mentoring apalah namanya kutak paham. Bersamamu kini menjadi peristiwa langka dalam hari-hariku.
            Oo, tunggu sebentar! Kenapa hal ini luput dari pikiranku? Jangan-jangan perubahan sikapmu terkait dengan perasaan. Ya! Jangan-jangan di antara anak-anak Rohis itu ada seseorang yang mencuri hatimu, Kawan. Siapa? Mungkinkah dia yang sering kau ajak bicara sebelum meninggalkan mushola?
            ” Rio! Udah lama, ya di sini. Maaf, tadi aku ngobrol dulu dengan Mbak Eni,” Rei tiba-tiba saja sudah berdiri di depanku. Senyum menghias wajah bulat telurnya.
            ” Jadi, apa jawabanmu?”
            ” Ha?? Eh... a... apa?? ” aku tergagap.
            ” Itu, lho. Jawaban tebakanku tadi? Menurutmu siapa dia?”
            ” Ooh, itu. Sorry, deh. Ng… emm... Febru ‘kan?” Rei sontak tergelak.
Aku salah.
            ” Masa’ Febru, sih. Dia itu cuma kuanggap adik.”
            “ Oke. Kalau begitu .... pasti Afwan, si ketua Rohis itu ‘kan?” kali ini kulihat kau tercenung. Ternyata benar, dialah jawabannya. Ya, bukankah kau kini lebih sering berdiskusi dengan cowok berjenggot itu daripada denganku. Entah apa yang kalian bahas, tapi raut wajahmu selalu berbinar jika bercerita tentang Afwan padaku. Tapi apa, sih yang menarik dari orang seperti dia? Setahuku Afwan termasuk kategori cowok biasa-biasa saja di sekolah ini. Wajahnya tak semenawan Chris, prestasi akademik pun cenderung pas-pasan. Kawan-kawannya juga terbatas kalangan sesama anak Rohis. Kaum ekstrimis yang idealis, begitulah aku dan kawan-kawanku menyebut mereka. Dan Rei, sahabatku tersayang, kau jatuh hati pada cowok seperti itu? Cowok yang ketika bicara, menatapmu pun enggan? Cowok yang selalu membawa-bawa nama Tuhan dan moralitas agama dalam tiap perkataannya. Cowok yang demografi masa depannya hanya terdiri dari satu kata. Penceramah. Bagaimana bisa??
            ” Rio, Rio .... kok, sampai ke Afwan segala, sih?” Rei menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan tawa.
            ” Salah lagi, ya?”
            ” Ya iyalah. Ngapain juga aku suka sama Afwan. Yang kumaksud itu....” kalimat Rei terhenti.
            ” Hmm....” kutatap dia penuh tanya.
            ” Rio, aku .... yang kumaksud itu sebenarnya....”
            ” Hmmmm.... Rei....” tiba-tiba saja aku mulai bosan melihat makhluk di depanku ini. Jenuh dengan gaya berteka-teki dibalik senyumannya.
            ” Ngg.... jadi gini.... maksudku sebenarnya....”
            ” Rei! Stop berteka-teki! Jujur aja deh!” Duh, Rei kuharap itu aku. Sungguh. Katakanlah kalau dia yang kau maksud aku.
            ” Tuhan.”
Aku terpana.

Senin, 12 September 2011

Tentang Bukan dan Ini


Bukan tentang gurihnya lontong opor
Pedasnya sambal goreng hati
atau...
Segarnya segelas es sirup cocopandan

Tapi...
Ini tentang berbagi penuh ketulusan

Bukan soal riuhnya petasan
atau...
Indahnya warna-warni kembang api

Ini soal gema takbir yang tiada putus
penuh keharuan

Bukan masalah baju baru,
antri berpuluh jam di tol, atau
menyiapkan aneka toples dan kue nastar

Ini masalah menyambung silaturahmi,
memupus luka, juga
dendam di hati


Ini tentang Lebaran, Kawan....


(Selamat Idul Fitri. Taqobalallahu minna wa minkum, minal aidzin wal faizin. Mohon maaf atas segala khilaf, Kawan :))