Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Senin, 03 September 2012

MY DREAM:10



“Aku menyerah.”

Embun menoleh. Keningnya mengernyit. “”Kau sedang bicara tentang sesuatu atau seseorang?”

Aku menghela napas, mengembuskannya keras-keras. Sesungguhnya datang ke tempat ini, bertemu Embun, dan bercerita padanya menjadi bagian paling sulit dalam hidupku. Seringkali aku berpikir betapa egois diri ini. Hanya datang padanya ketika merasa lelah dan butuh bahu untuk bersandar. Mengerikan. Namun, tiap kali aku berusaha menghindar dan berusaha menyelesaikan semua sendirian, kaki-kakiku tanpa sadar sudah berjalan ke pemakaman. Mataku yang mulai berkaca-kaca akan segera mencari bangku kayu di bawah cemara rindang. Aku pun termenung di sana, menanti Embun yang ‘kan datang dengan sebongkah senyuman.

Aku oportunis. Itu benar! Kenyataan yang sungguh menohok. Dan, semakin menyesakkan ketika semua itu kubalut dengan sikap bersahaja, penuh ketenangan. Tak ada yang tahu siapa aku sebenarnya. Mereka yang di dekatku tak pernah menyadari bahwa aku bukanlah malaikat seperti yang sering dikatakan orang-orang sekitar.

“Hei! Aku datang bukan untuk melihat kau melamun,”

Aku tergeragap. Sontak menoleh pada Embun. Sepasang mata beningnya menatapku lekat. Seolah ingin mencari jawaban atas keterdiamanku.

“Maaf. Huft…akhir-akhir ini aku memang terlampau sering melamun. Kau tanya apa tadi?”

Embun tersenyum lembut. “Kau ingin menyerah tentang sesuatu atau seseorang?”

Aku melempar pandang ke jejeran nisan tak terawat di hadapan kami. Dalam hati berharap tak perlu menjawab pertanyaan sosok di sisiku. Bukan karena tak mau, tapi hanya tak ingin jawaban itu mengingatkanku pada kebodohan di masa lalu.

“Hmm…. Baiklah kalau kau tak ingin bercerita. Tak peduli ini tentang sesuatu ataupun seseorang. Satu pertanyaan lagi, apa yang akan kau lakukan setelah menyerah?” lagi-lagi Embun bertanya. Aku masih diam. Mau tak mau kali ini aku harus menjawab pertanyaannya. Aku tahu Embun sudah sengaja datang lebih awal kali ini. Dan, dia datang bukan sekadar untuk melihatku membisu. Tidak. Itu bukan tugasnya.

“Apa lagi? Tentu saja melupakan. Semua orang juga begitu setelah menyerah,” ujarku lirih.

Ya, hanya dengan melupakan, aku bisa menghapus sakit ini. Hanya dengan melupakan, kumampu menyingkirkan segala harapan yang pernah membumbung tinggi.

“Dia bisa benar-benar mati kalau kau memilih jalan itu.”

Aku mengernyit. Tak paham. Mati? Lagipula, dia?  Bukankah kami tak sedang membahas tentang seseorang?

“Tak peduli sesuatu atau seseorang. Kita sebut saja ‘dia’. Melupakan takkan pernah membuat kita tersenyum dari hati. Ia hanya akan menjadikan kita semakin apatis. Entah pada sesuatu atau seseorang,”

Aku tertegun. Sekilas melirik Embun yang kini tengadah ke cakrawala. Dia ini… selalu saja punya pemikiran yang bertolak belakang dengan dunia.

“Bukankah lebih baik bersikap begitu? Apatis. Buat apa aku mengingat bila tak ada yang kudapat? Apa ada yang lebih baik dari melupakan?” aku mulai berargumen.

“Ada banyak hal berharga di dunia ini. Salah satunya kenangan. Tak peduli kenangan membahagiakan atau menyakitkan. Ketika kau memilih menyerah lalu melupakan, maka kenangan itu takkan pernah tercipta. Setiap kali ia hendak hadir, maka hati juga pikiranmu akan serta merta mengusirnya. Mungkin bagimu, bagi orang-orang, itu adalah jalan terbaik. Namun, tanpa sadar kau justru semakin menyakiti dirimu sendiri. Semakin kau berusaha mengenyahkannya, semakin ia menghantuimu.”

“Benarkah?” tanyaku tak yakin.

Embun tersenyum. “Bukan hanya kau yang ‘kan tersakiti, tapi 'dia' yang kau lupakan juga akan lebih menderita karena kau tak pernah bisa menjadikkannya tangga menuju kedewasaan.”

Aku hendak bertanya lagi. Namun, belum sempat bibirku berucap, Embun beranjak dari bangku. Horison mulai berbias merah.

“Aku pergi.” ujarnya tanpa menoleh, meninggalkanku di kesunyian makam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar