Ada
perasaan aneh tiap kali saya mengamati kalender di telepon genggam. Ada sesuatu
yang bergejolak ketika mata ini tanpa sengaja beradu pandang dengan deretan
angka di sudut kanan netbook merah
saya.
Waktu
saya tak lama lagi. Itulah kalimat yang senantiasa berdengung.
Tunggu
dulu, Kawan! Saya tak tengah memperbincangkan tentang kematian. Saya juga tak
sedang membahas tentang kegalauan akibat cinta manusia. Saya hanya mencoba
mendalami rasa yang berkecamuk di hati ini. Cemas, galau, khawatir, dan entah
apa lagi. Pencarian saya akan penyebab rasa itu akhirnya bermuara pada satu
kata.
Mereka,
siswa-siswa saya.
Ah,
saya lebih suka menyebut mereka kawan-kawan baru! Mengapa? Entahlah. Hanya
saja, saya kok merasa seolah ada jurang begitu dalam ketika menyebut mereka
siswa. Enam hari dalam seminggu saya berjumpa mereka. Empat jam dalam sehari
saya mengobrol, beradu kata, juga berbagi rasa dengan mereka. Tertawa, marah, kesal,
terkadang menangis pula karena mereka.
Mereka,
kawan-kawan baru saya.
Setiap
pagi senyum mereka adalah amunisi yang memompa jantung ini. Sapaan mereka
layaknya mentari yang menghangatkan nadi. Sorot penuh semangat mereka adalah
motivasi yang membuat saya bisa bertahan menghadapi hari-hari di perantauan. Dan,
tanpa saya sadari, waktu berjalan sedemikian cepat ketika bersama mereka.
Banyak
yang bilang kalau mereka hanyalah sekumpulan anak-anak nakal. Tak punya masa
depan. Hanya akan berakhir sebagai pencari kayu, petani, atau ibu rumah tangga.
Deretan profesi turun-temurun di desa lokasi tugas saya.
Namun,
setiap kali menatap mata mereka, saya buang jauh-jauh doktrin masyarakat itu. Mata
mereka bukanlah mata calon-calon petani, pencari kayu, ataupun ibu rumah
tangga. Tatapan mereka adalah pandang para tunas pemimpin bangsa di masa depan.
Di mata-mata itu saya melihat seorang dokter, insinyur, arsitek, ilmuwan, guru,
bahkan presiden. Jejeran profesi yang tak sekadar bermanfaat, tapi juga
bermartabat.
Saya
bangga bisa menjadi bagian kecil dari perjalanan hidup mereka. Saya bersyukur
karena Allah memberi saya kesempatan untuk belajar banyak dari mereka. Sembilan
bulan mungkin bukan masa yang cukup untuk membantu mewujudkan mimpi ataupun
cita-cita mereka. Meski demikian, setidaknya saya akan terus berjuang
memotivasi mereka. Berupaya sekeras mungkin menjaga harapan yang tiap hari saya lihat. Saya
percaya bahwa harapan adalah impian yang tak pernah tertidur. Dan, saya yakin,
mereka mampu mewujudkan keinginan apapun itu di masa yang akan datang.
Mereka,
kawan-kawan baru saya.
Langkah-langkah
kecil, senyum, rentetan pertanyaan, terkadang juga protes yang meluncur dari
bibir-bibir mungil mereka senantiasa menguatkan dan membuat saya bertanya.
Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Teruntuk kawan-kawan baruku di SD
Lamsujen, Lhoong, Aceh Besar, 18.27 WIB
Tambahin foto-fotonya dong
BalasHapusthanks, sudah mampir. Oya, q sudah berdialog dengan Ulil lewat fb. Jadi, belajar banyak. Ayo, semangat :)
HapusKeinginan untuk mengajar lagi semakin kuat nih.. :)
Hapusayo, Pak. Masih banyak impian yang bisa kita rengkuh
Hapus