Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Senin, 10 September 2012

Senyum:Menjelang Detik-Detik Akhir




Ada perasaan aneh tiap kali saya mengamati kalender di telepon genggam. Ada sesuatu yang bergejolak ketika mata ini tanpa sengaja beradu pandang dengan deretan angka di sudut kanan netbook merah saya.

Waktu saya tak lama lagi. Itulah kalimat yang senantiasa berdengung.

Tunggu dulu, Kawan! Saya tak tengah memperbincangkan tentang kematian. Saya juga tak sedang membahas tentang kegalauan akibat cinta manusia. Saya hanya mencoba mendalami rasa yang berkecamuk di hati ini. Cemas, galau, khawatir, dan entah apa lagi. Pencarian saya akan penyebab rasa itu akhirnya bermuara pada satu kata.

Mereka. Ya, merekalah penyebabnya. Sosok-sosok yang hadir selama sembilan bulan ini. Sosok-sosok dengan senyum dan tingkah yang mungkin bagi sebagian orang begitu menjengkelkan. Namun, sedemikian bermakna bagi saya. Sosok-sosok yang tak pernah saya bayangkan bisa hadir dalam pencarian makna hidup ini.

Mereka, siswa-siswa saya.

Ah, saya lebih suka menyebut mereka kawan-kawan baru! Mengapa? Entahlah. Hanya saja, saya kok merasa seolah ada jurang begitu dalam ketika menyebut mereka siswa. Enam hari dalam seminggu saya berjumpa mereka. Empat jam dalam sehari saya mengobrol, beradu kata, juga berbagi rasa dengan mereka. Tertawa, marah, kesal, terkadang menangis pula karena mereka.

Mereka, kawan-kawan baru saya.

Setiap pagi senyum mereka adalah amunisi yang memompa jantung ini. Sapaan mereka layaknya mentari yang menghangatkan nadi. Sorot penuh semangat mereka adalah motivasi yang membuat saya bisa bertahan menghadapi hari-hari di perantauan. Dan, tanpa saya sadari, waktu berjalan sedemikian cepat ketika bersama mereka.

Banyak yang bilang kalau mereka hanyalah sekumpulan anak-anak nakal. Tak punya masa depan. Hanya akan berakhir sebagai pencari kayu, petani, atau ibu rumah tangga. Deretan profesi turun-temurun di desa lokasi tugas saya.

Namun, setiap kali menatap mata mereka, saya buang jauh-jauh doktrin masyarakat itu. Mata mereka bukanlah mata calon-calon petani, pencari kayu, ataupun ibu rumah tangga. Tatapan mereka adalah pandang para tunas pemimpin bangsa di masa depan. Di mata-mata itu saya melihat seorang dokter, insinyur, arsitek, ilmuwan, guru, bahkan presiden. Jejeran profesi yang tak sekadar bermanfaat, tapi juga bermartabat.

Saya bangga bisa menjadi bagian kecil dari perjalanan hidup mereka. Saya bersyukur karena Allah memberi saya kesempatan untuk belajar banyak dari mereka. Sembilan bulan mungkin bukan masa yang cukup untuk membantu mewujudkan mimpi ataupun cita-cita mereka. Meski demikian, setidaknya saya akan terus berjuang memotivasi mereka. Berupaya sekeras mungkin menjaga harapan yang tiap hari saya lihat. Saya percaya bahwa harapan adalah impian yang tak pernah tertidur. Dan, saya yakin, mereka mampu mewujudkan keinginan apapun itu di masa yang akan datang.

Mereka, kawan-kawan baru saya.

Langkah-langkah kecil, senyum, rentetan pertanyaan, terkadang juga protes yang meluncur dari bibir-bibir mungil mereka senantiasa menguatkan dan membuat saya bertanya. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Teruntuk kawan-kawan baruku di SD Lamsujen, Lhoong, Aceh Besar, 18.27 WIB

4 komentar:

  1. Balasan
    1. thanks, sudah mampir. Oya, q sudah berdialog dengan Ulil lewat fb. Jadi, belajar banyak. Ayo, semangat :)

      Hapus
    2. Keinginan untuk mengajar lagi semakin kuat nih.. :)

      Hapus
    3. ayo, Pak. Masih banyak impian yang bisa kita rengkuh

      Hapus