Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Jumat, 07 Maret 2014

MY DREAM: 13



Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk di sampingku, Kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan

“Hentikan!”

Aku terhenyak. Sontak jemariku berhenti memetik dawai. Mataku yang terpaku pada jejeran nisan serta merta beralih pada sumber suara. Dan di sana, dia berdiri tegap. Setelah berbulan-bulan tak bertemu, kini kulihat lagi sosoknya. Masih sama. Tatap mata juga senyum itu. Gegas dia mendekatiku. Sebelah tangannya sigap meraih gitar yang sedari tadi kumainkan.

Aku cemberut. Pengganggu!

“Bukankah sudah kukatakan berkali-kali, suaramu itu parau. Kau bisa membangunkan mereka dengan suara itu!” serunya seraya menunjuk nisan-nisan di hadapan kami.

Bibirku mengerucut. Suaraku memang buruk, tapi apa dia tak bisa sedikit berpura-pura tak tahu dan membiarkanku menyanyi? Sekali ini saja. Aku ingin melupakan duniaku dan larut dalam nyanyian. Sekali ini saja biarkan aku terlelap dalam selimut kelam malam. Sekali ini saja.

Mataku mulai terpejam. Sesaat hening kurasa.

 “Kau… benar-benar lelah, ya?”

Aku membuka mata. Embun setia di sebelahku. Tatapannya teduh, menyejukkan. Perlahan sebelah tangannya terulur, mengusap lembut kepalaku. Detik berikutnya, tangan itu telah membawaku bersandar di dadanya. Damai menyergapku. Perasaan yang telah sedemikian lama tak kurasakan. Ah, mungkin aku memang tak punya ruang untuk merasakan damai. Ya, makhluk jahat sepertiku memang tidak punya hak untuk itu!

Jahat? Apa maksudmu?” lagi-lagi Embun bertanya. Aku duduk tegak. Dia selalu bisa membaca pikiranku.

“Tanpa kujelaskan pun, kau pasti tahu ‘kan? Aku ini jahat. Aku bukan teman yang baik. Teman yang bisa melindungi temannya, seseorang yang bisa menjaga hubungan orang-orang di sekitarnya. Aku bukan orang seperti itu. Aku....”

Suaraku tercekat. Apa yang terjadi akhir-akhir ini benar-benar membuatku ingin lari, tenggelam, atau bahkan lenyap dari dunia.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”

Aku menoleh. Apa yang akan kulakukan? Rasa bersalah ini, bagaimana caraku menghilangkannya?

“Kalau aku minta maaf, apa dia akan menerimanya? Apa dengan begitu aku tidak akan dianggap jahat lagi?”

Embun menatapku. Bibirnya menyunggingkan senyum. “Tak perlu berpikir begitu.”

Aku mengernyit.

“Kalau kau merasa bersalah, minta maaflah. Tak perlu berpikir apakah dia menerimanya atau tidak. Sejujurnya, yang terpenting, bukanlah apa yang kau ucapkan, tetapi apa yang ada di hatimu. Percuma kau dan dia saling meminta maaf, tapi masih ada dendam dan rasa tak ikhlas di hati kalian. Bukankah begitu?”

Aku menghembuskan nafas keras. Kata-kata Embun barusan benar-benar menohokku. Benar yang ia katakan. Percuma minta maaf kalau hatiku tak ingin melakukannya.

“Satu hal lagi. Berhenti selalu merasa bersalah. Kita ini bukan Tuhan. Tak semua hal berjalan sesuai keinginan kita. Wajar kok kalau sesekali berbuat salah.”

Embun kembali tersenyum. Dari kejauhan, kulihat Tuan Kabut melambaikan tangannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar