Perjalanan ini terasa
sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
di sampingku, Kawan
Banyak cerita yang
mestinya kau saksikan
“Hentikan!”
Aku
terhenyak. Sontak jemariku berhenti memetik dawai. Mataku yang terpaku pada
jejeran nisan serta merta beralih pada sumber suara. Dan di sana, dia berdiri tegap.
Setelah berbulan-bulan tak bertemu, kini kulihat lagi sosoknya. Masih sama.
Tatap mata juga senyum itu. Gegas dia mendekatiku. Sebelah tangannya sigap
meraih gitar yang sedari tadi kumainkan.
Aku
cemberut. Pengganggu!
“Bukankah
sudah kukatakan berkali-kali, suaramu itu parau. Kau bisa membangunkan mereka
dengan suara itu!” serunya seraya menunjuk nisan-nisan di hadapan kami.
Bibirku
mengerucut. Suaraku memang buruk, tapi apa dia tak bisa sedikit berpura-pura
tak tahu dan membiarkanku menyanyi? Sekali ini saja. Aku ingin melupakan
duniaku dan larut dalam nyanyian. Sekali ini saja biarkan aku terlelap dalam
selimut kelam malam. Sekali ini saja.
Mataku
mulai terpejam. Sesaat hening kurasa.
“Kau… benar-benar lelah, ya?”
Aku
membuka mata. Embun setia di sebelahku. Tatapannya teduh, menyejukkan. Perlahan
sebelah tangannya terulur, mengusap lembut kepalaku. Detik berikutnya, tangan
itu telah membawaku bersandar di dadanya. Damai
menyergapku. Perasaan yang telah sedemikian lama tak kurasakan. Ah, mungkin aku
memang tak punya ruang untuk merasakan damai. Ya, makhluk jahat sepertiku
memang tidak punya hak untuk itu!
“Jahat? Apa maksudmu?” lagi-lagi Embun bertanya. Aku duduk
tegak. Dia selalu bisa membaca pikiranku.
“Tanpa kujelaskan pun, kau pasti tahu ‘kan? Aku ini
jahat. Aku bukan teman yang baik. Teman yang bisa melindungi temannya,
seseorang yang bisa menjaga hubungan orang-orang di sekitarnya. Aku bukan orang
seperti itu. Aku....”
Suaraku tercekat. Apa yang terjadi akhir-akhir ini
benar-benar membuatku ingin lari, tenggelam, atau bahkan lenyap dari dunia.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”
Aku menoleh. Apa
yang akan kulakukan? Rasa bersalah ini, bagaimana caraku menghilangkannya?
“Kalau aku minta maaf, apa dia akan menerimanya? Apa
dengan begitu aku tidak akan dianggap jahat lagi?”
Embun menatapku. Bibirnya menyunggingkan senyum. “Tak
perlu berpikir begitu.”
Aku mengernyit.
“Kalau kau merasa bersalah, minta maaflah. Tak perlu
berpikir apakah dia menerimanya atau tidak. Sejujurnya, yang terpenting,
bukanlah apa yang kau ucapkan, tetapi apa yang ada di hatimu. Percuma kau dan
dia saling meminta maaf, tapi masih ada dendam dan rasa tak ikhlas di hati
kalian. Bukankah begitu?”
Aku menghembuskan nafas keras. Kata-kata Embun barusan
benar-benar menohokku. Benar yang ia katakan. Percuma minta maaf kalau hatiku
tak ingin melakukannya.
“Satu hal lagi. Berhenti selalu merasa bersalah. Kita ini
bukan Tuhan. Tak semua hal berjalan sesuai keinginan kita. Wajar kok kalau
sesekali berbuat salah.”
Embun kembali tersenyum. Dari kejauhan, kulihat Tuan
Kabut melambaikan tangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar