Dear Kawan,
Saya tidak tahu kapan kalian akan membaca surat ini. Saya
juga tak ingin membayangkan apakah kalian bersedia membaca tulisan ini hingga
selesai atau tidak. Ketika mulai mengetik kata-kata ini, hanya ada satu yang
terbersit di hati. Bahwa saya harus memberitahukannya kepada kalian. Ya,
setidaknya di sisa usia yang entah sampai kapan. Saya tidak ingin menyesal
ketika ajal menjemput. Apalagi belum tentu saya bisa kembali berjumpa dengan
kalian.
Kawanku yang
baik,
Satu tahun telah berlalu. Ada banyak hal telah kita
lewati. Ada banyak cerita yang telah kita ukir. Orang bisa saja menganggap itu
sebuah drama atau telenovela. Namun, saya lebih senang menganggapnya sebagai
sebuah pengalaman. Pengalaman yang memberi saya banyak pelajaran berharga.
Bersama kalian, saya belajar menjadi seseorang yang lebih
‘bersahabat’. Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang senang mengobrol,
bercanda, atau bahkan membicarakan hal-hal sepele. Saya adalah orang yang
cenderung mengucilkan diri. Sibuk dengan dunia sendiri. Dunia yang sunyi tanpa
tawa. Dunia yang hanya diisi oleh saya dan angan-angan tentang sebuah dunia tanpa
perang ataupun pertengkaran.
Namun, perlahan kalian memperkenalkan dunia baru. Dunia
yang mengajarkan saya cara tersenyum dari hati. Dunia yang menjadikan saya
berpikir lebih praktis, tak rumit seperti yang selama ini terjadi. Dunia penuh
warna, tak hanya hitam ataupun putih. Sebuah dunia yang menganggap kesalahan
adalah hal wajar bagi setiap insan.
Bersama kalian saya tahu bagaimana cara mengontrol emosi.
Saya tahu kapan saat tepat untuk mengeskspresikannya. Ya, meskipun hingga saat
ini menejemen emosi saya masih tergolong payah. Nasihat, saran, juga kritik
dari kalian adalah anugrah bagi perjalanan meniti impian saya. Kalian juga
menyadarkan saya bahwa sesungguhnya sabar tak punya batas. Kita sebagai
manusialah yang membatasinya.
Kawanku,
Terima kasih. Betapa banyak yang telah kalian berikan
untuk saya. Betapa berharga hari-hari yang saya lalui bersama kalian. Mungkin
masa-masa ini tidak akan pernah terulang lagi. Bisa jadi kita tak lagi bersua,
bercanda, dan menangis bersama. Walau begitu, kenangan bersama kalian akan
menjadi keping berharga yang tersimpan di kotak terindah di hati saya.
Saya sadar, betapa banyak kekurangan dalam diri ini.
Betapa saya belum bisa menjadi kawan yang baik untuk kalian, bahkan hingga
saat-saat terakhir kita. Betapa keegoisan seringkali menahan saya untuk sekadar
menyapa, bertanya apakah hari ini kalian bahagia. Dan, untuk semua itu, saya
minta maaf.
Maaf karena sampai detik terakhir perjumpaan, masih saja
ada kesalahan yang saya perbuat. Maaf karena belum mampu menjaga lisan ini agar
tak menyakiti hati kalian. Maaf karena hati ini terkadang belum begitu lapang
menerima curahan hati kalian. Maaf pula karena telinga ini belum cukup terbuka
mendengarkan keluh kesah kalian.
Kawanku,
Biarlah saya akhiri surat ini dengan sebaris doa juga
harapan. Semoga di manapun berada, kebahagiaan senantiasa menemani hari-hari
kalian. Semoga Tuhan senantiasa bersama impian-impian kalian. Semoga senyum
senantiasa menghiasi perjalanan kalian. Jangan pernah menyerah, Kawan. Karena
menyerah hanya milik mereka yang kalah.
Kawanku,
Takkan ada ucapan selamat tinggal di antara kita karena
yang ‘kan kuucapkan hanyalah, “Sampai Jumpa, Kawan.”
Kawanmu
selalu,
Dwi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar