Kugenggam Ramadhan kali ini
Barangkali esok aku sudah tiada
Erat kugenggam dengan geraham
Semoga bahagia saat menemui Allah
Ramadhan.
Tiap kali mengeja delapan huruf itu, ada sensasi aneh di sukma ini. Pun ketika
saya mengingat sebait syair lagu di atas. Entah siapa pelantunnya. Apalagi
judulnya. Saya hanya ingat pertama kali mendengar lagu itu dalam sebuah talk show bertemakan Ramadhan yang
digagas kawan-kawan kerohanian Islam kampus. Liriknya sederhana memang. Namun,
mampu membuat saya dan seorang kawan seketika termenung. Nurani saya serentak
berdengung. Bagaimana jika ini Ramadhan
terakhir saya?
Saya
memang bukan orang yang religius. Meski ketika SMA, sempat bergabung dengan
kerohanian Islam sekolah, begitu pula sewaktu kuliah, saya tak termasuk pribadi
yang senantiasa mengabdikan diri kepada Allah. Tak seperti kawan-kawan yang
menyandang gelar ikhwan dan akhwat. Seringkali saya mencuri waktu di
sela kesibukan kuliah untuk sekadar nongkrong di mal ataupun menikmati film
baru di bioskop.
Ya,
sekali lagi saya bukan sosok religius. Walau begitu, setiap Ramadhan menjelang
saya selalu diliputi kegelisahan sekaligus suka cita. Gembira karena bisa bertemu
dengan bulan penuh karuniaNya. Bulan yang secara tidak langsung memacu semangat
untuk beribadah lebih dan lebih baik lagi. Bulan ketika saya merasa membaca Al
Qur’an maupun salat sunnah sebagai sesuatu yang begitu membahagiakan. Namun, di
sisi lain saya juga gelisah. Pertanyaan bagaimana bila ini Ramadhan terakhir
saya, terus bergema. Saya khawatir takkan mampu berpuasa lagi di tahun
berikutnya. Saya takut tak bisa lagi berdiri berjamaah tarawih bersama
orang-orang tercinta. Dan, di atas semua itu, saya tak kuasa membayangkan bila
maut menjemput sebelum Ramadhan kembali menyapa.
Saya
ingin senantiasa bertemu bulan ini. Ada kesyahduan tersendiri tiap kali ia
datang. Sejujurnya, saya tak terlalu peduli tentang pembagian hari dalam
Ramadhan. Bagi saya, sepuluh hari pertama, kedua, ataupun terakhir sama saja. Karena
itu, saya sempat termenung ketika cermah-ceramah di masjid mulai ramai
berbicara tentang malam Lailatul Qodar. Satu malam penuh maghfirah yang konon
terselip di antara sepuluh malam terakhir. Saya bahkan tersentak sewaktu
seorang kawan berkata bahwa ia ingin beribadah lebih giat di sepuluh malam
terakhir, terutama di malam-malam ganjil.
Dengan
iseng, saya pun bertanya, “Jadi, kita membaca Qur’an lebih banyak juga salat
lebih khusyuk di malam-malam ganjil saja, ya?”
“Tentu
dong. Siapa tahu kita yang dapat Lailatul Qodar,” jawab kawan saya penuh
keyakinan.
Saya
pun tersenyum. Bukan hak saya untuk mengkritisi persepsinya karena sekali lagi
saya tak termasuk golongan religius. Lagipula setiap orang berhak berjuang demi
mendapatkan karunia di malam Lailatul Qodar juga pada bulan Ramadhan. Saya hanya
berpikir, kalau seandainya tak ada Lailatul Qodar, apakah ibadah kita juga akan
tetap konsisten bahkan lebih baik lagi, lebih mendekatkan diri kepada Allah?
Lueng
Bata, lantai dua, 06.38 WIB