Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Minggu, 12 Agustus 2012

Ramadhan (Renungan Sunyi)



Kugenggam Ramadhan kali ini
Barangkali esok aku sudah tiada
Erat kugenggam dengan geraham
Semoga bahagia saat menemui Allah

Ramadhan. Tiap kali mengeja delapan huruf itu, ada sensasi aneh di sukma ini. Pun ketika saya mengingat sebait syair lagu di atas. Entah siapa pelantunnya. Apalagi judulnya. Saya hanya ingat pertama kali mendengar lagu itu dalam sebuah talk show bertemakan Ramadhan yang digagas kawan-kawan kerohanian Islam kampus. Liriknya sederhana memang. Namun, mampu membuat saya dan seorang kawan seketika termenung. Nurani saya serentak berdengung. Bagaimana jika ini Ramadhan terakhir saya? 

Saya memang bukan orang yang religius. Meski ketika SMA, sempat bergabung dengan kerohanian Islam sekolah, begitu pula sewaktu kuliah, saya tak termasuk pribadi yang senantiasa mengabdikan diri kepada Allah. Tak seperti kawan-kawan yang menyandang gelar ikhwan dan akhwat. Seringkali saya mencuri waktu di sela kesibukan kuliah untuk sekadar nongkrong di mal ataupun menikmati film baru di bioskop.

Ya, sekali lagi saya bukan sosok religius. Walau begitu, setiap Ramadhan menjelang saya selalu diliputi kegelisahan sekaligus suka cita. Gembira karena bisa bertemu dengan bulan penuh karuniaNya. Bulan yang secara tidak langsung memacu semangat untuk beribadah lebih dan lebih baik lagi. Bulan ketika saya merasa membaca Al Qur’an maupun salat sunnah sebagai sesuatu yang begitu membahagiakan. Namun, di sisi lain saya juga gelisah. Pertanyaan bagaimana bila ini Ramadhan terakhir saya, terus bergema. Saya khawatir takkan mampu berpuasa lagi di tahun berikutnya. Saya takut tak bisa lagi berdiri berjamaah tarawih bersama orang-orang tercinta. Dan, di atas semua itu, saya tak kuasa membayangkan bila maut menjemput sebelum Ramadhan kembali menyapa.

Saya ingin senantiasa bertemu bulan ini. Ada kesyahduan tersendiri tiap kali ia datang. Sejujurnya, saya tak terlalu peduli tentang pembagian hari dalam Ramadhan. Bagi saya, sepuluh hari pertama, kedua, ataupun terakhir sama saja. Karena itu, saya sempat termenung ketika cermah-ceramah di masjid mulai ramai berbicara tentang malam Lailatul Qodar. Satu malam penuh maghfirah yang konon terselip di antara sepuluh malam terakhir. Saya bahkan tersentak sewaktu seorang kawan berkata bahwa ia ingin beribadah lebih giat di sepuluh malam terakhir, terutama di malam-malam ganjil.

Dengan iseng, saya pun bertanya, “Jadi, kita membaca Qur’an lebih banyak juga salat lebih khusyuk di malam-malam ganjil saja, ya?”

“Tentu dong. Siapa tahu kita yang dapat Lailatul Qodar,” jawab kawan saya penuh keyakinan.
Saya pun tersenyum. Bukan hak saya untuk mengkritisi persepsinya karena sekali lagi saya tak termasuk golongan religius. Lagipula setiap orang berhak berjuang demi mendapatkan karunia di malam Lailatul Qodar juga pada bulan Ramadhan. Saya hanya berpikir, kalau seandainya tak ada Lailatul Qodar, apakah ibadah kita juga akan tetap konsisten bahkan lebih baik lagi, lebih mendekatkan diri kepada Allah?

Lueng Bata, lantai dua, 06.38 WIB

Kamis, 09 Agustus 2012

MY DREAM:9



“Aku ingin menghilang.”

Aku tersentak. Apa yang baru saja kuucapkan?

Di sisiku, Embun menghela napas. Pandangannya lurus, menatap jejeran nisan yang membisu. Aku tahu dia pasti bosan mendengarku mengatakan hal yang sama tiap kali kami bertemu. Aku sendiri juga sudah bosan, tapi entah kenapa bibirku tak mau berkompromi. Apakah aku sedemikian putus asa dengan hidup ini hingga selalu berpikir untuk lenyap?

“Kenapa?” tanyanya lirih.

“Entahlah. Mungkin karena aku selalu merasa sendirian. Kesepian itu telah menjadi penjara yang mengurungku dari waktu ke waktu,” jawabku seraya memandangnya.

“Kau yakin?” tanpa menoleh padaku, kembali ia bertanya.

Aku mengangguk pasti, “Tentu saja. Memang begitu ‘kan?”

“Tidak.”

Hening.

“Tak ada seorang pun yang perlu merasa sendirian, kecuali kalau dia sendirilah yang memilihnya,” ucapannya membuatku mengernyit.

“Maksudmu akulah yang memilih untuk sendiri, menjauh dari duniaku. Begitu? Buat apa aku memilih sesuatu yang justru akan merugikan diriku?”

Embun diam. “Karena kau takut,”

“Lebih tepatnya, kau takut pada masa lalu. Dan, itu membuatmu memilih untuk sendirian.”

Aku terhenyak. Masa lalu? Bayang-bayang yang selalu ingin kuhindari itu tiba-tiba saja berkelebat. Aku takut pada masa lalu?

“Kau takut orang-orang di sekitar tahu seperti apa masa lalumu karena itu tanpa sadar kau memilih menghindar dari mereka. Berlari menjauh. Lalu saat tersadar, tiba-tiba kau merasa sendirian. Begitu kesepian. Bagaimana menurutmu?”

Kali ini aku terdiam. Sunyi kembali menyergap. Hanya desau Tuan Angin yang terdengar di antara dedaunan.
“Tak perlu dijawab. Benar atau tidak hanya hatimu yang tahu. Dan, hanya hatimu pula yang mampu membuat rasa kesepian itu menghilang,”

Fajar mulai merekah. Bersama menghilangnya gemintang di karpet malam. Embun bangkit dari bangku, memandangku lekat.

“Meski begitu, kau tahu… kita juga perlu rasa kesepian. Kesendirian akan membuat kita tahu apa makna hidup ini. Kesunyian lambat laun ‘kan mengobati apa yang terjadi di masa lalu. Pada akhirnya, kita ‘kan jadi lebih dewasa menjalani hidup ini,”

Embun tersenyum sekilas, sebelum akhirnya berjalan meninggalkanku yang setia termenung.

Jumat, 03 Agustus 2012

Jumat, 3 Agustus 2012



Jika ada hal yang mustahil kita ulang, maka itu adalah waktu.

Tiga hari sudah bulan berganti. Agustus kini menyapa. Ramadhan telah berada di hari ke-14. Subhanallah, betapa cepat jam bergulir hingga tanpa terasa pertengahan puasa hampir menjelang. Orang-orang di sekitar mulai sibuk bertanya baju apa yang akan dipakai hari raya nanti. Toko-toko kembali melakukan ritual tahunan tiap kali hari raya akan tiba. Sale besar-besaran.

Lalu, apa yang saya dapatkan selama Ramadhan ini?

Tak terkira. Saya belajar banyak hal. Sederhana memang, tapi sedemikian menghujam hati. Apalagi ini pertama kalinya saya melalui Ramadhan di perantauan. Jauh dari sanak saudara. Jauh dari hiruk pikuk kota asal saya. Semarang.

Meski tak terlalu berbeda dengan suasana di Jawa, puasa di Aceh, khususnya Lhoong tempat kini saya berada tetap saja terasa berbeda. Di sini saya semakin mengerti arti keluarga yang sesungguhnya. Saya juga belajar memahami karakter orang-orang di sekeliling. Jujur, sangat sulit. Apalagi ketika bertemu dengan sosok-sosok yang punya pola pikir juga sikap 180 derajat berbeda dengan kita. Terkadang saya ingin sekali berteriak, melampiaskan emosi ketika berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Namun, lambat laun saya menyadari, bukankah itulah seni kehidupan? Bukankah ini salah satu anugerah Allah?

Ya, hidup bukan hanya tentang mengenali diri kita, tapi juga orang lain. Hidup adalah tentang bagaimana kita bisa menerima dan memahami karakter yang bertentangan dengan persepsi kita. Tentang pengendalian diri berbalut intropeksi terhadap emosi. Mungkin seperti itulah yang saya pahami.

Dan, Ramadhan ini saya semakin menyadari bahwa Allah tidak pernah memberikan sesuatu yang sia-sia. Persoalannya, apakah kita mampu mengenali maksudNya dan bersyukur atau justru sibuk meratapi diri?

Lantai dua, di tengah keriuhan pagi, Ramadhan ke-14.