Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)
Tampilkan postingan dengan label my story(daily). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my story(daily). Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Agustus 2012

Jumat, 3 Agustus 2012



Jika ada hal yang mustahil kita ulang, maka itu adalah waktu.

Tiga hari sudah bulan berganti. Agustus kini menyapa. Ramadhan telah berada di hari ke-14. Subhanallah, betapa cepat jam bergulir hingga tanpa terasa pertengahan puasa hampir menjelang. Orang-orang di sekitar mulai sibuk bertanya baju apa yang akan dipakai hari raya nanti. Toko-toko kembali melakukan ritual tahunan tiap kali hari raya akan tiba. Sale besar-besaran.

Lalu, apa yang saya dapatkan selama Ramadhan ini?

Tak terkira. Saya belajar banyak hal. Sederhana memang, tapi sedemikian menghujam hati. Apalagi ini pertama kalinya saya melalui Ramadhan di perantauan. Jauh dari sanak saudara. Jauh dari hiruk pikuk kota asal saya. Semarang.

Meski tak terlalu berbeda dengan suasana di Jawa, puasa di Aceh, khususnya Lhoong tempat kini saya berada tetap saja terasa berbeda. Di sini saya semakin mengerti arti keluarga yang sesungguhnya. Saya juga belajar memahami karakter orang-orang di sekeliling. Jujur, sangat sulit. Apalagi ketika bertemu dengan sosok-sosok yang punya pola pikir juga sikap 180 derajat berbeda dengan kita. Terkadang saya ingin sekali berteriak, melampiaskan emosi ketika berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Namun, lambat laun saya menyadari, bukankah itulah seni kehidupan? Bukankah ini salah satu anugerah Allah?

Ya, hidup bukan hanya tentang mengenali diri kita, tapi juga orang lain. Hidup adalah tentang bagaimana kita bisa menerima dan memahami karakter yang bertentangan dengan persepsi kita. Tentang pengendalian diri berbalut intropeksi terhadap emosi. Mungkin seperti itulah yang saya pahami.

Dan, Ramadhan ini saya semakin menyadari bahwa Allah tidak pernah memberikan sesuatu yang sia-sia. Persoalannya, apakah kita mampu mengenali maksudNya dan bersyukur atau justru sibuk meratapi diri?

Lantai dua, di tengah keriuhan pagi, Ramadhan ke-14.

Kamis, 26 Juli 2012

Rabu, 19 Juli 2012



Its meugang days.

Inilah salah satu tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi yang telah ada sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda tersebut menjadi simbol kebersamaan di antara warga. Sedari malam, keluarga angkat saya telah bersiap. Mulai dari mengupas bahan-bahan untuk memasak hingga menyiapkan kerbau yang akan disembelih.

Secara bahasa, meugang merupakan singkatan dari makmeugang. Menurut kisah Amir Hamzah (2009) pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda terdapat gang-gang atau lorong-lorong pasar yang dipenuhi daging-daging berjejeran dan didatangi banyak orang. Oleh sebab itu, munculah istilah makmu that gang nyan (makmur sekali gang itu). Lambat laun, sebutan tersebut disingkat menjadi meugang.

Dalam perayaan meugang, masyarakat Aceh akan memotong lembu atau kerbau secara besar-besaran. Daging lembu atau kerbau kemudian dibawa ke pasar untuk dijual. Ada pula warga yang membagikan daging tersebut kepada fakir miskin yang membutuhkan.

Sementara itu, tata cara menikmati daging pun bermacam-macam. Namun, secara umum, masyarakat Aceh akan mengadakan acara makan bersama seluruh anggota keluarga, entah di rumah ataupun pantai. Hal ini dimaksudkan untuk mempererat silaturahmi di antara mereka.

Meugang dilaksanakan dua hari menjelang bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Sebagai sebuah tradisi, meugang telah menjadi simbol penting dalam tatanan sosial masyarakat Aceh. Bukan sekadar acara makan daging bersama, tapi juga sarana mempererat kekeluargaan.

Rabu, 18 Juli 2012

Monev II (part. 2)


Kamis, 12 Juli 2012

Tiga lelaki paruh baya di podium itu membuatku terpesona. Bukan pada ketampanan mereka. Konyol jika ada yang berpikir begitu. Gaya bicara, cara menanggapi pertanyaan, juga humor-humor sederhana dari mereka memompa adrenalinku menjadi lebih bersemangat.

Ya, bersemangat! Bersemangat menjalani sisa hidupku. Bersemangat menjalankan apa yang telah menjadi tugasku. Bersemangat kembali mengukir senyum. Tak perlu mengingat kejadian semalam. Tak perlu berpikir negatif tentang pesrepsi yang mulai merebak. Jalankan tanggung jawab sepenuh hati. Ikhlas! Itulah yang kuperoleh hari ini.

Jumat, 13 Juli 2012

Toyota hitam ini meluncur cepat di jalanan yang relatif sepi. Maklum, jarum jam masih menunjukkan pukul 07.00 ketika kami mulai berangkat. Lhoong, tempat penugasanku menjadi salah satu tujuan tim pemonev kampus hari ini.  Sesuai kesepakatan kawan-kawan sekecamatan, lokasi monev akan diarahkan ke tiga sekolah, yaitu SD Krueng Kala, SMP 1 Lhoong, dan SMA 1 Lhoong. Pemilihan ketiganya berdasarkan letak juga kondisi sekolah.

Sepanjang perjalanan, Pak Subagyo dan Pak Hardjono (tim pemonev) tak henti memuji keindahan alam menuju Lhoong. Jalanan yang lebar, beraspal mulus, plus barisan pegunungan menghijau di sisi timur. Lautan membiru di sebelah barat dan kawanan sapi yang berkeliaran bebas di sepanjang jalan. Keduanya bahkan sengaja memotret jalan-jalan juga objek yang mereka anggap menarik.

Sekolah pertama yang kami kunjungi adalah SD Krueng Kala. Terletak di desa Tanah Anoe, sekolah ini bisa dikatakan cukup bagus. Ruang-ruang kelasnya berkeramik putih dan berdinding beton. Hasil pembangunan pasca tsunami. Ketika mobil yang saya tumpangi bersama tim pemonev hampir sampai di SD, sebuah pesan singkat masuk ke inbox Hp saya. Guru-guru di sekolahku belum pada datang, gimana nih? Demikian tulis Mas Ari, kawan sesama SM-3T yang bertugas di sekolah tersebut. Padahal, saat itu jam digital di Hp telah menunjukkan pukul 08.01 WIB. Saya pun jujur saja merasa was-was. Walau saya tahu seperti itulah kondisi di Lhoong. Guru bahkan kepala sekolah tak datang tepat waktu. Terkadang malah sengaja absen hanya untuk urusan sepele semacam kenduri.

“Bu Dwi tidak usah khawatir. Kami sudah paham permasalahan di sini. Hari ini kami hanya ingin bersilaturahmi dan menengok kondisi kawan-kawan SM-3T di kecamatan Lhoong,” tutur Pak Subagyo ketika saya menyampaikan SMS dari kawan.

Dan, memang benar. Pak Subagyo dan Pak Hardjono hanya berbincang biasa dengan kawan-kawan SM-3T yang sekolahnya dikunjungi. Selain itu, juga bertanya tentang peran kami, peserta SM-3T selama 6 bulan di lokasi tugas kepada kepala sekolah dan guru-guru. Monitoring dan evaluasi pun ditutup dengan sebuah motivasi dari keduanya agar kami memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya untuk tetap mengabdi sepenuh hati. Terima kasih, Pak Subagyo (Dekan FIS) dan Pak Hardjono (Dekan FIP) yang telah menyempatkan diri berkunjung ke Lhoong  ^_^

Minggu, 15 Juli 2012

Monev II (part 1)


Rabu, 11 Juli 2012
Sekali lagi aku terjebak di antara orang-orang yang bicara hanya dengan emosi  mereka. Tanpa logika, tanpa rasa saling menerima ataupun memiliki. Ingin rasanya aku bangkit dari tempat duduk, berlalu meninggalkan ruang yang beberapa jam lalu masih penuh kedamaian dan canda tawa ini. Namun, demi melihat tatap sayu penuh keletihan dua sosok di podium terdepan aku pun urung melangkah. Ya, mereka yang sedari tadi begitu sabar menghadapi rentetan pertanyaan, sanggahan, bahkan cacian.
Aku tak pernah tahu bila menyatukan hati begitu merepotkan. Aku juga tak jua mengerti, mengapa bersikap sportif seolah ‘hantu’ sebagian orang di ruang ini hingga mereka lebih memilih melawan daripada berkawan untuk sebuah hasil mufakat. Denda, kontribusi, atau apalah namanya.

Satu hal yang kupelajari malam ini. Dari sebuah ruangan dengan spanduk bertuliskan ‘Monitoring dan Evaluasi II SM-3T Aceh Besar 11-13 Juli 2012’. Betapa kita seringkali begitu dangkal melihat sesuatu. Hingga kita menjadi katak dalam tempurung. Bukan seorang fotografer yang mampu merekam indahnya hidup lewat lensanya.

Jumat, 24 Juni 2011

Today in My Life

Tentang hari ini...
kupikir diam sekarang jauh lebih tepat. Berkata hanya akan membuat masalah bertambah rumit. memilih salah satu cuma memperuncing permusuhan. begitulah hidupku. semua berebut menunjukkan apa itu perdebatan, permusuhan, pertentangan yang tentu saja tak lepas dari cacian, makian, juga sikap oportunis.

ah, berdoa saja! semoga suatu hari nanti ada yang bisa menunjukkan cara hidup yang jauh lebih baik. bebas dari segala rutinitas bernama pertengkaran. yah... semoga!

aku mulai jenuh. setiap hari mencoba berlari dari masa lalu. sesuatu yang selalu datang dalam mimpi-mimpiku, menghapus semua imajinasi tentang cinta juga persahabatan. mengikis habis apa yang namanya kepercayaan. itulah masa laluku.

Tentang hari ini...
aku dan kejenuhan...
juga masa lalu...