Jika ada hal yang mustahil kita
ulang, maka itu adalah waktu.
Tiga
hari sudah bulan berganti. Agustus kini menyapa. Ramadhan telah berada di hari
ke-14. Subhanallah, betapa cepat jam bergulir hingga tanpa terasa pertengahan
puasa hampir menjelang. Orang-orang di sekitar mulai sibuk bertanya baju apa
yang akan dipakai hari raya nanti. Toko-toko kembali melakukan ritual tahunan
tiap kali hari raya akan tiba. Sale besar-besaran.
Lalu,
apa yang saya dapatkan selama Ramadhan ini?
Tak
terkira. Saya belajar banyak hal. Sederhana memang, tapi sedemikian menghujam
hati. Apalagi ini pertama kalinya saya melalui Ramadhan di perantauan. Jauh dari
sanak saudara. Jauh dari hiruk pikuk kota asal saya. Semarang.
Meski
tak terlalu berbeda dengan suasana di Jawa, puasa di Aceh, khususnya Lhoong
tempat kini saya berada tetap saja terasa berbeda. Di sini saya semakin
mengerti arti keluarga yang sesungguhnya. Saya juga belajar memahami karakter
orang-orang di sekeliling. Jujur, sangat sulit. Apalagi ketika bertemu dengan
sosok-sosok yang punya pola pikir juga sikap 180 derajat berbeda dengan kita. Terkadang
saya ingin sekali berteriak, melampiaskan emosi ketika berhadapan dengan
orang-orang seperti itu. Namun, lambat laun saya menyadari, bukankah itulah
seni kehidupan? Bukankah ini salah satu anugerah Allah?
Ya,
hidup bukan hanya tentang mengenali diri kita, tapi juga orang lain. Hidup adalah
tentang bagaimana kita bisa menerima dan memahami karakter yang bertentangan
dengan persepsi kita. Tentang pengendalian diri berbalut intropeksi terhadap
emosi. Mungkin seperti itulah yang saya pahami.
Dan,
Ramadhan ini saya semakin menyadari bahwa Allah tidak pernah memberikan sesuatu
yang sia-sia. Persoalannya, apakah kita mampu mengenali maksudNya dan bersyukur
atau justru sibuk meratapi diri?
Lantai
dua, di tengah keriuhan pagi, Ramadhan ke-14.