Kamis, 12 Juli 2012
Tiga
lelaki paruh baya di podium itu membuatku terpesona. Bukan pada ketampanan
mereka. Konyol jika ada yang berpikir begitu. Gaya bicara, cara menanggapi
pertanyaan, juga humor-humor sederhana dari mereka memompa adrenalinku menjadi
lebih bersemangat.
Ya,
bersemangat! Bersemangat menjalani sisa hidupku. Bersemangat menjalankan apa
yang telah menjadi tugasku. Bersemangat kembali mengukir senyum. Tak perlu
mengingat kejadian semalam. Tak perlu berpikir negatif tentang pesrepsi yang
mulai merebak. Jalankan tanggung jawab sepenuh hati. Ikhlas! Itulah yang
kuperoleh hari ini.
Jumat, 13 Juli 2012
Toyota
hitam ini meluncur cepat di jalanan yang relatif sepi. Maklum, jarum jam masih
menunjukkan pukul 07.00 ketika kami mulai berangkat. Lhoong, tempat penugasanku
menjadi salah satu tujuan tim pemonev kampus hari ini. Sesuai kesepakatan kawan-kawan sekecamatan,
lokasi monev akan diarahkan ke tiga sekolah, yaitu SD Krueng Kala, SMP 1
Lhoong, dan SMA 1 Lhoong. Pemilihan ketiganya berdasarkan letak juga kondisi
sekolah.
Sepanjang
perjalanan, Pak Subagyo dan Pak Hardjono (tim pemonev) tak henti memuji
keindahan alam menuju Lhoong. Jalanan yang lebar, beraspal mulus, plus barisan
pegunungan menghijau di sisi timur. Lautan membiru di sebelah barat dan kawanan
sapi yang berkeliaran bebas di sepanjang jalan. Keduanya bahkan sengaja
memotret jalan-jalan juga objek yang mereka anggap menarik.
Sekolah
pertama yang kami kunjungi adalah SD Krueng Kala. Terletak di desa Tanah Anoe,
sekolah ini bisa dikatakan cukup bagus. Ruang-ruang kelasnya berkeramik putih
dan berdinding beton. Hasil pembangunan pasca tsunami. Ketika mobil yang saya
tumpangi bersama tim pemonev hampir sampai di SD, sebuah pesan singkat masuk ke
inbox Hp saya. Guru-guru di sekolahku belum pada datang, gimana nih? Demikian
tulis Mas Ari, kawan sesama SM-3T yang bertugas di sekolah tersebut. Padahal,
saat itu jam digital di Hp telah menunjukkan pukul 08.01 WIB. Saya pun jujur
saja merasa was-was. Walau saya tahu seperti itulah kondisi di Lhoong. Guru
bahkan kepala sekolah tak datang tepat waktu. Terkadang malah sengaja absen
hanya untuk urusan sepele semacam kenduri.
“Bu
Dwi tidak usah khawatir. Kami sudah paham permasalahan di sini. Hari ini kami
hanya ingin bersilaturahmi dan menengok kondisi kawan-kawan SM-3T di kecamatan
Lhoong,” tutur Pak Subagyo ketika saya menyampaikan SMS dari kawan.
Dan,
memang benar. Pak Subagyo dan Pak Hardjono hanya berbincang biasa dengan
kawan-kawan SM-3T yang sekolahnya dikunjungi. Selain itu, juga bertanya tentang
peran kami, peserta SM-3T selama 6 bulan di lokasi tugas kepada kepala sekolah
dan guru-guru. Monitoring dan evaluasi pun ditutup dengan sebuah motivasi dari
keduanya agar kami memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya untuk
tetap mengabdi sepenuh hati. Terima kasih, Pak Subagyo (Dekan FIS) dan Pak
Hardjono (Dekan FIP) yang telah menyempatkan diri berkunjung ke Lhoong ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar