Senja masih setia
membiaskan semburat jingganya ketika jari-jariku mulai menari. Coba menyapamu.
Apa kabar? Kurasa itu kalimat paling tepat untuk mengawali surat ini. Surat
yang sudah lama ingin kutulis untukmu. Namun, egoku selalu saja berhasil
mencegahnya. Selalu saja ada suara berdengung di sanubariku, Buat apa kau menulis untuknya? Apa dia akan
peduli pada perasaanmu? Lupakan dia! Kau benar-benar bodoh!
Ya, kupikir suara itu
benar. Aku bodoh! Tolol karena selama delapan tahun ini hanya memikirkan dirimu.
Egois karena tak pernah berpikir tentang perasaan sosok-sosok lain yang
berseliweran di sekitarku.
Hanya dirimu.
Tepat sekali! Engkau
satu-satunya yang mampu membuatku kehilangan berjuta kata saat kita berjumpa
empat tahun lalu. Engkau yang bisa
mengubahku menjadi begitu mudah meneteskan air mata sekaligus tertawa saat
mengingatmu. Engkau yang mmebuatku selangkah demi selangkah berusaha
memperbaiki diri. Semakin mendekati Allah, Sang Pemilik Jiwaku.
Engkau, ya hanya
engkau. Sosok yang tak mungkin bisa kujumpai. Ah, salah! Lebih tepatnya, Allah
belum mengizinkanku untuk berjumpa lagi denganmu. Betapa menyakitkannya
kenyataan itu. Dan, terasa semakin mengiris sukma ketika kau seolah tak peduli
padaku. Sebanyak apapun surat yang akan kukirimkan ke inbox facebook-mu takkan
pernah berbalas.
Aku sadar, kita laksana
langit dan bumi. Segala yang aku miliki tak memenuhi kualifikasi apapun dalam
hidupmu. Duniaku bukanlah duniamu yang sarat nilai-nilai ketuhanan. Duniaku ibarat
sirkus alam. Penuh dengan permainan dan kelicikan. Taktik juga ujian.
Aku hanyalah serpihan
debu yang ‘kan hilang dihembus sepoinya angin. Diri ini tak lebih dari sekadar
pecahan masa lalu yang mungkin t’lah aus dalam memori hatimu. Namun, mengapa jiwaku
tak jua memahaminya? Mengapa mengikhlaskanmu seolah mustahil bagiku?
Cinta. Benarkah itu
rasaku padamu? Sungguhkah lima huruf itu yang membuatku bertahan delapan tahun
ini? Hingga hanya kaulah yang ingin kutemui. Hingga namamulah yang selalu
kusisipkan dalam doa-doaku padaNya. Dan, jika memang benar begitulah rasaku
padamu, maka jangan biarkan itu mengotori hatimu. Jangan izinkan pertemuan kita
tercipta, bila ‘kan menghancurkan hidupmu! Jangan biarkan bayangku hadir meski
hanya dalam mimpi-mimpimu, bila itu ‘kan membuatmu menjauh dariNya. Sang Pemilik
Cinta Sejati.
Aku mencintaimu dalam
diam. Tak masalah delapan, sepuluh, atau bahkan seratus tahun. Biarlah kutanyakan
seperti apa hakikatnya cintaku padamu. Dalam hening semesta juga riuhnya
cakrawala ini.
Kupersembahkan
tulisan ini untuk my Hospital Men: A. Kurnia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar