Pernahkah kau merasa merindu?
Hingga kau sangka bumi berhenti
berputar
Dan waktu begitu lambat berjalan
Rindu.
Lima
huruf, saling berkombinasi memunculkan efek dahsyat bagi siapapun yang tengah
merasakannya. Senada dengan cinta, rindu seringkali menjadi ‘hantu’ dalam
hari-hari seseorang. Hantu yang membuat sisi melankolis mencuat, tak terbendung
ego.
Rindu
menjadikan seseorang bisa begitu puitis. Bak pujangga kenamaan, menulis jutaan
puisi. Rindu mampu mengubah kepribadian yang sedemikian tegar berurai air mata.
Rindu pula yang mampu meluluhkan benci yang tertanam dalam hati.
Lalu,
apa sejatinya rindu itu?
Jika
sebagian orang sering memaknai rindu sebagai salah satu sinyal lahirnya cinta,
maka saya lebih suka menyebutnya dengan rasa ‘ingin’.
Rindu
adalah keinginan. Keinginan untuk bertemu. Hasrat bersapa tak peduli
terpisahkan jarak ratusan kilometer. Kerinduan tak terbatas dalam lingkup
hubungan pria-wanita saja. Justru rasa ini bisa menjangkau siapa saja dan
tentang apa saja, termasuk kepada Allah. Tuhan semesta alam.
Menulis
tentang kerinduan seperti halnya bercerita tentang cinta. Ada tawa juga air
mata di sana. dan, saya pun teringat pesan singkat seorang kawan:
Kalau kita sudah tak lagi punya
rasa rindu, artinya hati kita sebagai manusia sudah mati.
Selamat
merindu, kawan J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar