Its
meugang days.
Inilah
salah satu tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi
yang telah ada sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda tersebut menjadi simbol
kebersamaan di antara warga. Sedari malam, keluarga angkat saya telah bersiap.
Mulai dari mengupas bahan-bahan untuk memasak hingga menyiapkan kerbau yang
akan disembelih.
Secara
bahasa, meugang merupakan singkatan
dari makmeugang. Menurut kisah Amir
Hamzah (2009) pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda terdapat gang-gang
atau lorong-lorong pasar yang dipenuhi daging-daging berjejeran dan didatangi
banyak orang. Oleh sebab itu, munculah istilah makmu that gang nyan (makmur sekali gang itu). Lambat laun, sebutan
tersebut disingkat menjadi meugang.
Dalam
perayaan meugang, masyarakat Aceh
akan memotong lembu atau kerbau secara besar-besaran. Daging lembu atau kerbau
kemudian dibawa ke pasar untuk dijual. Ada pula warga yang membagikan daging
tersebut kepada fakir miskin yang membutuhkan.
Sementara
itu, tata cara menikmati daging pun bermacam-macam. Namun, secara umum,
masyarakat Aceh akan mengadakan acara makan bersama seluruh anggota keluarga,
entah di rumah ataupun pantai. Hal ini dimaksudkan untuk mempererat silaturahmi
di antara mereka.
Meugang
dilaksanakan dua hari menjelang bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Sebagai sebuah tradisi, meugang telah
menjadi simbol penting dalam tatanan sosial masyarakat Aceh. Bukan sekadar
acara makan daging bersama, tapi juga sarana mempererat kekeluargaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar