Aku patah hati.
Ah, betapa lucunya!
Sungguh aku malu mengakuinya
padamu, Kawan. Mungkin itu sebabnya aku hanya berani menulis lewat surat ini.
Selembar kertas yang ‘kan penuh dengan coretan bertitel ‘patah hati’.
Aku patah hati.
Masih lekat dalam ingatan,
sebongkah keberanian yang susah payah kubangun ketika mengutarakan rasaku
padanya. Tentang sebentuk kepedulian juga harapan di masa lampau untuknya. Pun
keping-keping kenangan yang t’lah tercipta antara kami.
Aku patah hati.
Sejujurnya, aku tak pernah yakin
rasa itu adalah cinta. Bisa jadi hanya setitik kekaguman atau sekadar hasrat
yang sekilas melintas. Ibarat badai kecil di tengah kedamaian alam.
Bertahun-tahun, aku berpikir. Kucoba merenung, berusaha meyakini apa yang
kurasa.
Aku patah hati.
Ketika akhirnya kutemukan satu
jawaban, tiba-tiba saja sesal menghantui. Ya, aku memang mencintainya. Cinta
yang indah karena meski telah kulintasi separuh cakrawala, bayangnya tak jua
menjauh. Walau kututup mata, senyumnya tak serta merta memudar. Ya, aku
mencintainya. Dan, cinta itu pula yang membuatku tersiksa. Sejuta sembilu
seolah menghujam nadiku tiap mengingatnya.
Aku patah hati.
Sakit ini, mungkinkah karena
sebaris maaf yang ia ucapkan? Ataukah karena hatinya tak pernah menggoreskan
namaku? Bila memang benar demikian, kenapa kini aku justru tertawa? Ya, aku
tertawa. Lebih tepatnya, menertawakan rasa yang bertumpuk delapan tahun ini.
Rasa yang berujung pada muara bernama penyesalan.
Aku patah hati.
Bukan cintaku padanya yang
kusesali, Kawan. Bukan pula kenangan antara kami. Sesal ini karena Dia. Rasaku
padanya, perenunganku, membuatku bertanya, “Bagaimana mungkin aku jauh lebih
sering mengingat dia daripada Dia? Bagaimana mungkin air mataku jatuh lebih
deras ketika mengucap namanya daripada Dia?Aku tahu rasaku padanya tak salah.
Itu fitrah. Namun, mengapa aku malah merasa seperti seorang pengkhianat?
Aku patah hati.
Ah, betapa lucunya!
Salam,
Kawanmu
Embun
melipat perlahan selembar kertas di tangannya. Bibirnya mengulas sebentuk
senyuman.
“Anak
itu benar-benar keterlaluan!”
Satu
suara sontak membuat Embun menoleh. Di sebelahnya, Tuan Kabut tahu-tahu sudah
duduk seraya melipat kedua tangan.
“Maksudmu?”
Embun tak mengerti.
“Ya,
keterlaluan! Bukankah biasanya dia datang bercerita padamu, mengeluh dari A
sampai Z tentang hidupnya? Lalu sekarang, berani sekali dia hanya mengirimkan
surat untukmu. Lewat Tuan Angin pula. Seolah tak lagi membutuhkanmu.”
Embun
tergelak. “Bukankah itu bagus? Dia mulai tak terlalu bergantung padaku,”
“Payah
kau! Bagus memang bila dia tak tergantung padamu. Dia semakin menapak ke tangga
yang lebih tinggi. Akan tetapi, jika dia mulai tak membutuhkanmu, maka kau akan
menghilang. Itulah hukum yang ada.”
“Bukankah
itu bagus?” lagi-lagi Embun mengulang tanya yang sama. Tuan Kabut menatapnya
tak percaya.
“Masih
banyak yang harus kuurus selain dia. Lagipula tiap pertemuan pasti berujung
pada perpisahan,”
Tuan
Kabut membisu.
“Manusia
memang senang berkeluh kesah. Dan, kitalah salah satu tempat mereka berkeluh
kesah. Entah dengan cara seperti apa. Jadi, kita nikmati saja tugas ini
layaknya Bibi Mentari yang setia menyapa Paman Fajar. Pasti itu kalimatmu
selanjutnya.” Tebak Tuan Kabut.
Embun
tergelak lagi. Perlahan dia bangkit dari bangku kayu. Kedua tangannya terentang
menyambut semesta yang mulai memerah.
