Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Sabtu, 29 Desember 2012

MY DREAM:10



Aku patah hati.
Ah, betapa lucunya!

Sungguh aku malu mengakuinya padamu, Kawan. Mungkin itu sebabnya aku hanya berani menulis lewat surat ini. Selembar kertas yang ‘kan penuh dengan coretan bertitel ‘patah hati’.

Aku patah hati.
Masih lekat dalam ingatan, sebongkah keberanian yang susah payah kubangun ketika mengutarakan rasaku padanya. Tentang sebentuk kepedulian juga harapan di masa lampau untuknya. Pun keping-keping kenangan yang t’lah tercipta antara kami.

Aku patah hati.
Sejujurnya, aku tak pernah yakin rasa itu adalah cinta. Bisa jadi hanya setitik kekaguman atau sekadar hasrat yang sekilas melintas. Ibarat badai kecil di tengah kedamaian alam. Bertahun-tahun, aku berpikir. Kucoba merenung, berusaha meyakini apa yang kurasa.

Aku patah hati.
Ketika akhirnya kutemukan satu jawaban, tiba-tiba saja sesal menghantui. Ya, aku memang mencintainya. Cinta yang indah karena meski telah kulintasi separuh cakrawala, bayangnya tak jua menjauh. Walau kututup mata, senyumnya tak serta merta memudar. Ya, aku mencintainya. Dan, cinta itu pula yang membuatku tersiksa. Sejuta sembilu seolah menghujam nadiku tiap mengingatnya.

Aku patah hati.
Sakit ini, mungkinkah karena sebaris maaf yang ia ucapkan? Ataukah karena hatinya tak pernah menggoreskan namaku? Bila memang benar demikian, kenapa kini aku justru tertawa? Ya, aku tertawa. Lebih tepatnya, menertawakan rasa yang bertumpuk delapan tahun ini. Rasa yang berujung pada muara bernama penyesalan.

Aku patah hati.
Bukan cintaku padanya yang kusesali, Kawan. Bukan pula kenangan antara kami. Sesal ini karena Dia. Rasaku padanya, perenunganku, membuatku bertanya, “Bagaimana mungkin aku jauh lebih sering mengingat dia daripada Dia? Bagaimana mungkin air mataku jatuh lebih deras ketika mengucap namanya daripada Dia?Aku tahu rasaku padanya tak salah. Itu fitrah. Namun, mengapa aku malah merasa seperti seorang pengkhianat?

Aku patah hati.
Ah, betapa lucunya!
Salam,
Kawanmu

Embun melipat perlahan selembar kertas di tangannya. Bibirnya mengulas sebentuk senyuman.

“Anak itu benar-benar keterlaluan!”

Satu suara sontak membuat Embun menoleh. Di sebelahnya, Tuan Kabut tahu-tahu sudah duduk seraya melipat kedua tangan.

“Maksudmu?” Embun tak mengerti.

“Ya, keterlaluan! Bukankah biasanya dia datang bercerita padamu, mengeluh dari A sampai Z tentang hidupnya? Lalu sekarang, berani sekali dia hanya mengirimkan surat untukmu. Lewat Tuan Angin pula. Seolah tak lagi membutuhkanmu.”

Embun tergelak. “Bukankah itu bagus? Dia mulai tak terlalu bergantung padaku,”

“Payah kau! Bagus memang bila dia tak tergantung padamu. Dia semakin menapak ke tangga yang lebih tinggi. Akan tetapi, jika dia mulai tak membutuhkanmu, maka kau akan menghilang. Itulah hukum yang ada.”

“Bukankah itu bagus?” lagi-lagi Embun mengulang tanya yang sama. Tuan Kabut menatapnya tak percaya.
“Masih banyak yang harus kuurus selain dia. Lagipula tiap pertemuan pasti berujung pada perpisahan,”

Tuan Kabut membisu.

“Manusia memang senang berkeluh kesah. Dan, kitalah salah satu tempat mereka berkeluh kesah. Entah dengan cara seperti apa. Jadi, kita nikmati saja tugas ini layaknya Bibi Mentari yang setia menyapa Paman Fajar. Pasti itu kalimatmu selanjutnya.” Tebak Tuan Kabut.

Embun tergelak lagi. Perlahan dia bangkit dari bangku kayu. Kedua tangannya terentang menyambut semesta yang mulai memerah.

Kamis, 20 Desember 2012

Malaikat-Malaikat Di Sisi Saya



Ini bukan fiksi tentang seorang gadis yang secara tiba-tiba bertemu malaikat seperti di komik-komik. Bukan pula kisah religius antara manusia dan Tuhan-Nya. Ini hanyalah catatan kecil mengenai orang-orang di sekitar saya. Sosok-sosok di luar ayah, ibu juga keluarga yang mengajarkan hal-hal sederhana, tapi luar biasa berharga. Dan, saya percaya apa yang saya peroleh hari ini tak lepas dari motivasi juga semangat dari mereka.

Pak Teguh Wibowo. Saya mengenal beliau ketika duduk di bangku kelas I SMA. Guru bahasa Indonesia yang awalnya begitu menakutkan (maaf, Pak J). Beliau jarang tersenyum maupun bercanda saat mengajar. Reputasi sebagai guru yang sering memberi tugas, entah PR, kliping, maupun liputan kegiatan di luar sekolah membuat siswa-siswa merasa segan dan cenderung menjauh, termasuk saya. Apalagi ketika suatu hari, beliau dengan wajah kaku meminta saya keluar kelas karena lupa mengerjakan PR. Malu, kesal, bingung jadi satu karena itu kali pertama saya dikeluarkan dari kelas oleh seorang guru. Sebuah hukuman yang lantas membuat saya berjanji untuk menjadi siswa yang bisa lebih dekat dengan beliau.

Sedikit demi sedikit saya pun membangun komunikasi dengan beliau. Sambil mengabaikan rasa takut akan ekpresi kaku beliau. Kerap saya bertanya tentang tugas-tugas yang terkadang membingungkan di kelas. Apalagi secara kebetulan, Pak Teguh juga menjadi pembimbing di ekskul jurnalistik yang saya ikuti. Seiring waktu, saya lebih mengenal sosok beliau. Ternyata beliau yang semula begitu menyeramkan sebenarnya ramah dan punya kepedulian besar terhadap siswa-siswanya. Pak Teguh juga sosok sederhana yang selalu memotivasi kami untuk berjuang meraih mimpi dan menghilangkan rasa iri. Satu kalimat beliau yang tak pernah saya lupa, “Jadikan kelebihan orang lain sebagai sarana untuk menutupi kekurangan kita. Dan, jadikan kekurangan orang lain sebagai sarana untuk membuat kita belajar memperbaiki diri.

Saya seringkali berharap punya kakak laki-laki. Bukan karena kakak perempuan saya terlalu cerewet atau tak asyik diajak mengobrol. Bagi saya, kakak laki-laki bisa menjadi pelindung sekaligus penasihat tentang masalah-masalah yang perlu logika., misalnya saja urusan persahabatan atau cinta. Yah…maklum saja curhat dengan perempuan terkadang membuat masalah makin sentimentil. Keinginan untuk memiliki seorang kakak laki-laki acapkali saya sampaikan pada Allah lewat doa-doa setelah salat. Hal yang sebenarnya konyol J

Sampai suatu ketika, di kelas II SMA saya mengenal dia. Seorang alumni yang juga aktif sebagai pembimbing kawan-kawan putra di kerohanian Islam sekolah. Mas Illal Albab, demikian kawan-kawan biasa menyapanya. Sederhana, idealis, tapi juga humoris begitulah gambaran kakak tingkat saya ini. Dari ngobrol seputar agama lambat laun saya lebih mengenal sosok Mas Illal. Kami pun jadi dekat. Saya bahkan tak segan untuk curhat tentang masalah di rumah. Persoalan yang memang tengah menghantam saya ketika itu.

Saya belajar banyak hal dari Mas Illal dan Mbak Dian, sang istri, tentang kehidupan ini. Mereka yang setia mendengarkan tiap keluh kesah telah mengajarkan arti kesabaran kepada saya. Sebagai suami istri yang memulai kehidupan dari titik nol, mereka juga telah menanamkan semangat pantang menyerah dan kerja keras. Dan, saat ini mereka membuat saya kagum dengan kegigihan dalam membangun pendidikan di tengah segala keterbatasan. Mas Illal dan Mbak Dian bagi saya bukan sekadar teman ataupun sahabat. Mereka telah menjelma menjadi kakak. Sosok saudara yang senantiasa siap mengulurkan tangan di waktu saya terjatuh, butuh afirmasi.

Ummi Ashim Azzahra, Trie Agustina, Retno Nurcahyani, Erna, dan Dwi Purwanti. Sederet nama dari masa SMA yang takkan saya lupa. Teman-teman putra di Rohis seringkali menjuluki kami F4 (seharusnya F6 :D) SMA 2. Alasannya, kami selalu beriringan kemanapun pergi termasuk ke toilet hehe..

Mungkin kami hanya bersama dua tahun, tapi banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan. Dari mereka, saya tahu betapa pentingnya pengendalian emosi. Saya juga belajar tentang aturan agama termasuk batasan pergaulan sesuai syariat. Ketika saya merasa Allah memberikan cobaan begitu berat, mereka senantiasa menguatkan, mengingatkan bahwa selalu ada hikmah tersembunyi di balik semua ini. Bersama Ummi, Trie, Retno, Erna, juga Mbak Pur masa-masa SMA terasa jauh bermakna. Terima kasih, Kawan J

Malaikat-malaikat di sisi saya selanjutnya adalah B-costers dan sahabat-sahabat kuliah (Mbak Niky, Asput, dan mbak Ceskha). B-costers terdiri atas Mbak Dedis, Mbak Riedha, Mbak Niky, Dek Rizka, Dek Dezy, Dek Sekar, dan Dek Listy. Mereka teman-teman kos terbaik yang Allah berikan bagi saya. Selama tiga tahun kami berbagi suka duka, tawa-air mata. Begitu pula ketika bersama sahabat-sahabat kuliah saya. Pertengkaran, perdebatan, bahkan terkadang perseteruan kerap mengisi hari-hari kami. Egoisme berpadu dengan kekonyolan plus kecerobohan bagai warna-warni pelangi. Namun, semua tak lantas membuat kami saling membenci. Justru rasa saling memahami dan menerima-lah yang tumbuh sedikit demi sedikit. Memang ada beberapa kisah tak berakhir indah. Akan tetapi, kenangan tentang manisnya perjuangan masa-masa kos dan kuliah adalah salah satu hal yang memotivasi saya untuk bertahan hidup hingga detik ini. Dari mereka, saya tahu indahnya persahabatan. Dari mereka, saya belajar menekan individualisme diri. Dari mereka juga saya mengerti bahwa masalah tercipta untuk mendewasakan kita, Kawan.

Terakhir, meski bukan paling akhir, satu sosok malaikat dalam hidup saya adalah dia. Ksatria cinta pertama saya. Dia tipe orang sederhana, nggak neko-neko, religius, juga gigih. Selama delapan tahun jujur saja hanya dia yang mengisi hati saya. Bukan bermaksud mellow atau galau, tapi saya menyertakan dia dalam daftar ini karena memang ada inspirasi darinya. Ketika hati ini mulai menorehkan namanya, saya tahu seperti apa indah cinta. Sewaktu berpisah dengannya di hari kelulusan, saya merasakan apa itu hampa. Dan, saat dia dengan tegas menolak perasaan yang sudah mengkristal di hati ini delapan tahun, saya belajar apa itu ikhlas. Akhirnya, kenangan tentang dia menjadi salah satu dari sekian hal berharga dalam hidup.

Itulah malaikat-malaikat di sisi saya. Anugerah Allah yang membuat dunia saya tak hanya putih dan hitam. Masih banyak sosok lain yang juga menginspirasi saya. ada Diah Nur Aini, Mbak Dewi Krisnawati, siswa-siswa saya di SD Lamsujen, dan kawan-kawan seperjuangan. Terima kasih Allah. Penuh cinta untuk kalian, malaikat-malaikat hidup saya.

(ditemani rintik hujan, 19.41, 20-12-2012)

Selasa, 04 Desember 2012

Story At Lhok Baka



Sebulan sudah saya kembali menghirup udara desa asal, Bandungrejo. Sebuah desa cukup maju yang terletak di pinggiran kabupaten Demak. Desa dengan kondisi 180 derajat berbeda dengan tempat tugas saya selama 11 bulan ini, Lamsujen.

Di Lamsujen kesenyapan pagi diliputi kabut pegunungan dan tetes embun di pepohonan. Di Lamsujen merdu kicau murai bersenandung di antara gemericik sungai. Dan, hanya disanalah pelangi megah mengantar alam menuju kesyahduan senja.

Ah, mengingat Lamsujen tak pernah habis rasanya kisah yang ‘kan terurai! Ketika menulis lembaran ini pun, benak saya penuh dengan bayangan sebulan lalu. Tepatnya tiga minggu sebelum keberangkatan ke Jakarta.

Hari itu Sabtu. Jam pertama seperti biasa saya mengisi pelajaran bahasa Inggris di kelas IV. Yah…. Walau secara disiplin ilmu seharusnya saya cukup mengampu bahasa Indonesia tetapi di sekolah penugasan belum ada tenaga pengajar bahasa Inggris. Jadilah saya yang mendapat amanah tersebut.

“Bu, besok ikut ‘kan?” tanya Elisa, salah satu siswi kelas IV yang selalu membuat saya geleng-geleng kepala karena tingkah hiperaktifnya.

Saya mengernyit, “Kemana?”

“Lapak, Bu. Ikut ‘kan? Nanti kita mandi-mandi di sana!” seru Ikmal, satu-satunya siswa putra di kelas ini, diikuti ajakan serupa dari Elisa, Rahmah, dan Hurnaifah. Saya tersenyum menatap wajah-wajah penuh harap keempat siswa kelas IV itu.

Lapak, sebutan untuk tempat berjualan yang terletak di sepanjang jalan menuju area pegunungan Lamsujen. Bangunannya hanya terbuat dari bambu atau papan sederhana dengan jejeran kursi kayu untuk pengunjung. Lapak-lapak tersebut biasa ramai ketika musim durian menjelang. Pasalnya, para penikmat durian dari berbagai penjuru Aceh maupun Medan berbondong-bondong datang ke Lamsujen yang memang terkenal sebagai penghasil durian lezat. Nah, lapak-lapak ini berjejer di seberang sebuah sungai kecil yang menghubungkan jalan desa dengan pegunungan. Sungai dengan aliran cukup deras itulah yang seringkali menjadi tempat bermain ataupun mandi siswa-siswa saya.

Akhirnya, hari Minggu yang kami nantikan pun tiba. Setelah mencuci dan membantu ibu angkat, saya dan kawan segera menuju sekolah, menemui siswa-siswa (ah, saya lebih suka menyebut mereka kawan-kawan) yang ternyata telah ramai berkumpul. Hampir seluruhnya membawa bekal, entah nasi ataupun roti. Saya dan kawan setim turut pula membeli mie instan. Rencananya, kami dan para siswa akan memasak bersama-sama di tepi sungai. Penuh semangat, kami menuju lapak sambil menenteng mie juga panci yang sengaja dipinjam dari dapur sekolah.

Perjalanan dari sekolah menuju lapak hanya butuh waktu 20 menit. Namun, di tengah jalan, rencana berubah. Bukan sungai dekat lapak yang jadi tujuan, tetapi sungai lain yang jauh lebih besar. Lhok Baka. Demikian anak-anak menyebutnya. Sungai ini terletak jauh di atas, mendekati pegunungan. Jaraknya sekitar dua kilometer dari lapak dengan medan menanjak. Beruntung jalan yang kami lalui telah beraspal. Kalau dihitung-hitung, total perjalanan kami sekitar tiga kilometer atau 45 menit.

Begitu sampai, kawan-kawan baru saya langsung berlari ke tengah sungai, menceburkan diri dalam sejuknya aliran Lhok Baka. Saya yang memang baru pertama kesini sejenak tertegun. Baru kali ini saya melihat sungai sedemikian jernih hingga batu-batu dan ikan-ikan kecil yang berenang lincah pun begitu nyata. Suasana tepi sungai yang rimbun pepohonan berpadu dengan bebatuan besar di sepanjang aliran air menciptakan kedamaian tersendiri. Belum lagi birunya lazuardi ditingkahi nyanyi burung-burung di kesunyian pegunungan.

“Bu, ayo kita masak mie-nya,” ujar Muharis, siswa kelas VI yang bertubuh agak tambun. Dengan cekatan, dia mengumpulkan batu-batu berukuran sedang untuk membuat api unggun. Bersama Andika, siswa kelas V, dia menyusun batu hingga membentuk segitiga. Ranting-ranting kecil dan dedaunan kering mereka atur sedemikian rupa di ruang kosong dalam segitiga kemudian dengan bantuan lembaran kecil ban bekas, mereka menyalakan api.  Teknik menciptakan api unggun ala mereka benar-benar membuat saya kagum. Maklum, selama ini saya jarang melihat hal-hal seperti itu. Tradisi memasak dengan kayu pun hanya saya temui di desa nenek, di daerah Weleri.

Dalam waktu 15 menit, mie pun telah siap. Kawan-kawan saya yang sedari tadi asyik bermain air serta merta menepi, berebut mengambil mie dalam panci. Kebersamaan juga rasa berbagi yang mereka tunjukkan membuat saya tersenyum haru. Saat itu, tiba-tiba saja saya ingat bahwa waktu kami bersama mereka tak lama lagi.

Pukul 11.00, kami berkemas. Matahari yang makin terik membuat kami terpaksa menghentikan keasyikan kawan-kawan saya bermain di sungai. Yah… walau bagaimanapun mereka tetap harus pulang ke rumah dan membantu orang tua. Tak terlalu lama bermain di luar. Apalagi sore harinya, kami juga akan mengadakan latihan upacara.


“Minggu depan kita kesini lagi, ya, Bu.” pinta kawan-kawan saya. Sebuah permintaan yang ternyata tak bisa lagi saya penuhi. Kesibukan menyambut kawan-kawan SM-3T 2, persiapan perpisahan, dan laporan akhir tahun yang harus segera diselesaikan membuat kami tak sempat lagi berkunjung ke Lhok Baka. Sebuah sesal sempat menyergap. Apalagi ketika setiap akhir pekan menjelang kepulangan ke Jawa, kawan-kawan saya di SD kaki gunung itu senantiasa mengucapkan ajakan yang sama.

Maafkan Ibu, ya. Kita mungkin belum bisa ke Lhok Baka lagi. Kita bisa jadi takkan lagi membuat api unggun ataupun memasak mie instan bersama. Namun, keceriaan, kepolosan, juga kebaikan hati kalian akan senantiasa terpatri di hati ibu. Terima kasih, Nak. Kalian kawan-kawan baru Bu Dwi yang terhebat. Menjalani hari-hari bersama kalian ibarat berjalan di atas pelangi dunia. Sarat warna juga makna. Sampai jumpa, Kawan J

Minggu, 02 Desember 2012

Surat Dari Kaki Gunung


Lamsujen., 19 November 2012
Untuk

Bu Dwi

Di Rumah

Halo apa kabar Bu Dwi??? semoga sehat-sehat saja disitu, amin,,,,,,,. Ini anak-anak kelas V pada balas surat bu Dwi, tadinya mau tak kirim foto surat mereka ben kelihatan keasliannya hehehehe, tp internete lemot . ya untuk sementara saya ketik ulang ya bu,poin-poinnya aja, dengan sedikit perbaikan hehehehehehehehehehe. Nanti kalo ke kota tak kirim foto surat hasil tulisan mereka sendiri.

Yang Pertama dari Ruhul Satirah
Ibu aku sayang sama ibu Dwi. Ibu kapan pulang ke lamsujen? Ibu aku akan rajin belajar. Ibu aku buat puisi untuk ibu, di baca ya…….
Ada ibu disisiku aku senang
Tetapi ibu sekarang tiada disisiku lagi
Aku sayang sama ibu
Jangan lupakan aku ya bu
Aku ada cerita sama ibu
Aku pergi kesekolah, aku belajar sama bapak Galuh. Sebentar lagi aku ujian semester satu.
Dada ibu,,,, tolong balas,,,, ini bunga untuk ibu


Yang Kedua dari Angga Saputra
Ibu dwi aku kangen sama ibu Arini dan ibu Dwi. Ibu Dwi sama ibu Arini sehat?? Kalo sehat kesini lagi ya… kita nyanyi lagi. Baik-baik ya bu disitu
Guruku=ibu Dwi dan ibu Arini baik

Yang ketiga dari Mukhlisin
Ibu Arini masih ingat nama-nama kami?? Terima kasih kalau masih ingat. Kami sayang sama ibu Arini dan ibu Dwi. Ibu Dwi kapan pergi ke lamsujen??? Disini banak durian. Kalau ibu Dwi datang kesini lagi, kami kasih durian geratis, makan sepuas-puasnya. Ibu doakan kami supaya pintar dan supaya kami dapat rangking satu.
Sampai ketemu lagi ibu….. dibalas ya……

Yang keempat dari Wahyudi, Andika dan Afdal
Bagaimana kabar bu Dwi??? Baik-baik saja kan bu? Bu, Wahyudi sama teman-teman mau balas surat dari bu Dwi. Tadi Wahyudi jadi pemimpin upacara loooo. Bu Dwi kapan pulang lamsujen? disini sedang musim durian. Wahyudi, Andika dan Afdal sangat sayang sama ibu Dwi. Bu Dwi ada gosok gigi malam :D
Bu disini kami main laptop dan belajar sama bapak Galuh. Bu kelas V sayang sama bu Dwi. Ibu Dwi masih sayang sama kami kan???
Semoga bu Dwi baik-baik saja. Jangan lupa dibalas bu suratnya,,,,,, terima kasih.


Mohon dibalas ya bu surat dari anak-anak. Nanti saya kalo ada waktu tak cerita-cerita lewat surat. Sekian dulu ya bu,,,,,,,,,

Salam
Galuh Umardani