Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Kamis, 20 Desember 2012

Malaikat-Malaikat Di Sisi Saya



Ini bukan fiksi tentang seorang gadis yang secara tiba-tiba bertemu malaikat seperti di komik-komik. Bukan pula kisah religius antara manusia dan Tuhan-Nya. Ini hanyalah catatan kecil mengenai orang-orang di sekitar saya. Sosok-sosok di luar ayah, ibu juga keluarga yang mengajarkan hal-hal sederhana, tapi luar biasa berharga. Dan, saya percaya apa yang saya peroleh hari ini tak lepas dari motivasi juga semangat dari mereka.

Pak Teguh Wibowo. Saya mengenal beliau ketika duduk di bangku kelas I SMA. Guru bahasa Indonesia yang awalnya begitu menakutkan (maaf, Pak J). Beliau jarang tersenyum maupun bercanda saat mengajar. Reputasi sebagai guru yang sering memberi tugas, entah PR, kliping, maupun liputan kegiatan di luar sekolah membuat siswa-siswa merasa segan dan cenderung menjauh, termasuk saya. Apalagi ketika suatu hari, beliau dengan wajah kaku meminta saya keluar kelas karena lupa mengerjakan PR. Malu, kesal, bingung jadi satu karena itu kali pertama saya dikeluarkan dari kelas oleh seorang guru. Sebuah hukuman yang lantas membuat saya berjanji untuk menjadi siswa yang bisa lebih dekat dengan beliau.

Sedikit demi sedikit saya pun membangun komunikasi dengan beliau. Sambil mengabaikan rasa takut akan ekpresi kaku beliau. Kerap saya bertanya tentang tugas-tugas yang terkadang membingungkan di kelas. Apalagi secara kebetulan, Pak Teguh juga menjadi pembimbing di ekskul jurnalistik yang saya ikuti. Seiring waktu, saya lebih mengenal sosok beliau. Ternyata beliau yang semula begitu menyeramkan sebenarnya ramah dan punya kepedulian besar terhadap siswa-siswanya. Pak Teguh juga sosok sederhana yang selalu memotivasi kami untuk berjuang meraih mimpi dan menghilangkan rasa iri. Satu kalimat beliau yang tak pernah saya lupa, “Jadikan kelebihan orang lain sebagai sarana untuk menutupi kekurangan kita. Dan, jadikan kekurangan orang lain sebagai sarana untuk membuat kita belajar memperbaiki diri.

Saya seringkali berharap punya kakak laki-laki. Bukan karena kakak perempuan saya terlalu cerewet atau tak asyik diajak mengobrol. Bagi saya, kakak laki-laki bisa menjadi pelindung sekaligus penasihat tentang masalah-masalah yang perlu logika., misalnya saja urusan persahabatan atau cinta. Yah…maklum saja curhat dengan perempuan terkadang membuat masalah makin sentimentil. Keinginan untuk memiliki seorang kakak laki-laki acapkali saya sampaikan pada Allah lewat doa-doa setelah salat. Hal yang sebenarnya konyol J

Sampai suatu ketika, di kelas II SMA saya mengenal dia. Seorang alumni yang juga aktif sebagai pembimbing kawan-kawan putra di kerohanian Islam sekolah. Mas Illal Albab, demikian kawan-kawan biasa menyapanya. Sederhana, idealis, tapi juga humoris begitulah gambaran kakak tingkat saya ini. Dari ngobrol seputar agama lambat laun saya lebih mengenal sosok Mas Illal. Kami pun jadi dekat. Saya bahkan tak segan untuk curhat tentang masalah di rumah. Persoalan yang memang tengah menghantam saya ketika itu.

Saya belajar banyak hal dari Mas Illal dan Mbak Dian, sang istri, tentang kehidupan ini. Mereka yang setia mendengarkan tiap keluh kesah telah mengajarkan arti kesabaran kepada saya. Sebagai suami istri yang memulai kehidupan dari titik nol, mereka juga telah menanamkan semangat pantang menyerah dan kerja keras. Dan, saat ini mereka membuat saya kagum dengan kegigihan dalam membangun pendidikan di tengah segala keterbatasan. Mas Illal dan Mbak Dian bagi saya bukan sekadar teman ataupun sahabat. Mereka telah menjelma menjadi kakak. Sosok saudara yang senantiasa siap mengulurkan tangan di waktu saya terjatuh, butuh afirmasi.

Ummi Ashim Azzahra, Trie Agustina, Retno Nurcahyani, Erna, dan Dwi Purwanti. Sederet nama dari masa SMA yang takkan saya lupa. Teman-teman putra di Rohis seringkali menjuluki kami F4 (seharusnya F6 :D) SMA 2. Alasannya, kami selalu beriringan kemanapun pergi termasuk ke toilet hehe..

Mungkin kami hanya bersama dua tahun, tapi banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan. Dari mereka, saya tahu betapa pentingnya pengendalian emosi. Saya juga belajar tentang aturan agama termasuk batasan pergaulan sesuai syariat. Ketika saya merasa Allah memberikan cobaan begitu berat, mereka senantiasa menguatkan, mengingatkan bahwa selalu ada hikmah tersembunyi di balik semua ini. Bersama Ummi, Trie, Retno, Erna, juga Mbak Pur masa-masa SMA terasa jauh bermakna. Terima kasih, Kawan J

Malaikat-malaikat di sisi saya selanjutnya adalah B-costers dan sahabat-sahabat kuliah (Mbak Niky, Asput, dan mbak Ceskha). B-costers terdiri atas Mbak Dedis, Mbak Riedha, Mbak Niky, Dek Rizka, Dek Dezy, Dek Sekar, dan Dek Listy. Mereka teman-teman kos terbaik yang Allah berikan bagi saya. Selama tiga tahun kami berbagi suka duka, tawa-air mata. Begitu pula ketika bersama sahabat-sahabat kuliah saya. Pertengkaran, perdebatan, bahkan terkadang perseteruan kerap mengisi hari-hari kami. Egoisme berpadu dengan kekonyolan plus kecerobohan bagai warna-warni pelangi. Namun, semua tak lantas membuat kami saling membenci. Justru rasa saling memahami dan menerima-lah yang tumbuh sedikit demi sedikit. Memang ada beberapa kisah tak berakhir indah. Akan tetapi, kenangan tentang manisnya perjuangan masa-masa kos dan kuliah adalah salah satu hal yang memotivasi saya untuk bertahan hidup hingga detik ini. Dari mereka, saya tahu indahnya persahabatan. Dari mereka, saya belajar menekan individualisme diri. Dari mereka juga saya mengerti bahwa masalah tercipta untuk mendewasakan kita, Kawan.

Terakhir, meski bukan paling akhir, satu sosok malaikat dalam hidup saya adalah dia. Ksatria cinta pertama saya. Dia tipe orang sederhana, nggak neko-neko, religius, juga gigih. Selama delapan tahun jujur saja hanya dia yang mengisi hati saya. Bukan bermaksud mellow atau galau, tapi saya menyertakan dia dalam daftar ini karena memang ada inspirasi darinya. Ketika hati ini mulai menorehkan namanya, saya tahu seperti apa indah cinta. Sewaktu berpisah dengannya di hari kelulusan, saya merasakan apa itu hampa. Dan, saat dia dengan tegas menolak perasaan yang sudah mengkristal di hati ini delapan tahun, saya belajar apa itu ikhlas. Akhirnya, kenangan tentang dia menjadi salah satu dari sekian hal berharga dalam hidup.

Itulah malaikat-malaikat di sisi saya. Anugerah Allah yang membuat dunia saya tak hanya putih dan hitam. Masih banyak sosok lain yang juga menginspirasi saya. ada Diah Nur Aini, Mbak Dewi Krisnawati, siswa-siswa saya di SD Lamsujen, dan kawan-kawan seperjuangan. Terima kasih Allah. Penuh cinta untuk kalian, malaikat-malaikat hidup saya.

(ditemani rintik hujan, 19.41, 20-12-2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar