Ini
bukan fiksi tentang seorang gadis yang secara tiba-tiba bertemu malaikat
seperti di komik-komik. Bukan pula kisah religius antara manusia dan Tuhan-Nya.
Ini hanyalah catatan kecil mengenai orang-orang di sekitar saya. Sosok-sosok di
luar ayah, ibu juga keluarga yang mengajarkan hal-hal sederhana, tapi luar
biasa berharga. Dan, saya percaya apa yang saya peroleh hari ini tak lepas dari
motivasi juga semangat dari mereka.
Pak
Teguh Wibowo. Saya mengenal beliau ketika duduk di bangku kelas I SMA. Guru
bahasa Indonesia yang awalnya begitu menakutkan (maaf, Pak J).
Beliau jarang tersenyum maupun bercanda saat mengajar. Reputasi sebagai guru
yang sering memberi tugas, entah PR, kliping, maupun liputan kegiatan di luar
sekolah membuat siswa-siswa merasa segan dan cenderung menjauh, termasuk saya.
Apalagi ketika suatu hari, beliau dengan wajah kaku meminta saya keluar kelas
karena lupa mengerjakan PR. Malu, kesal, bingung jadi satu karena itu kali
pertama saya dikeluarkan dari kelas oleh seorang guru. Sebuah hukuman yang
lantas membuat saya berjanji untuk menjadi siswa yang bisa lebih dekat dengan
beliau.
Sedikit
demi sedikit saya pun membangun komunikasi dengan beliau. Sambil mengabaikan
rasa takut akan ekpresi kaku beliau. Kerap saya bertanya tentang tugas-tugas
yang terkadang membingungkan di kelas. Apalagi secara kebetulan, Pak Teguh juga
menjadi pembimbing di ekskul jurnalistik yang saya ikuti. Seiring waktu, saya
lebih mengenal sosok beliau. Ternyata beliau yang semula begitu menyeramkan
sebenarnya ramah dan punya kepedulian besar terhadap siswa-siswanya. Pak Teguh
juga sosok sederhana yang selalu memotivasi kami untuk berjuang meraih mimpi
dan menghilangkan rasa iri. Satu kalimat beliau yang tak pernah saya lupa, “Jadikan kelebihan orang lain sebagai sarana
untuk menutupi kekurangan kita. Dan, jadikan kekurangan orang lain sebagai
sarana untuk membuat kita belajar memperbaiki diri.”
Saya
seringkali berharap punya kakak laki-laki. Bukan karena kakak perempuan saya
terlalu cerewet atau tak asyik diajak mengobrol. Bagi saya, kakak laki-laki
bisa menjadi pelindung sekaligus penasihat tentang masalah-masalah yang perlu
logika., misalnya saja urusan persahabatan atau cinta. Yah…maklum saja curhat
dengan perempuan terkadang membuat masalah makin sentimentil. Keinginan untuk
memiliki seorang kakak laki-laki acapkali saya sampaikan pada Allah lewat
doa-doa setelah salat. Hal yang sebenarnya konyol J
Sampai
suatu ketika, di kelas II SMA saya mengenal dia. Seorang alumni yang juga aktif
sebagai pembimbing kawan-kawan putra di kerohanian Islam sekolah. Mas Illal
Albab, demikian kawan-kawan biasa menyapanya. Sederhana, idealis, tapi juga
humoris begitulah gambaran kakak tingkat saya ini. Dari ngobrol seputar agama
lambat laun saya lebih mengenal sosok Mas Illal. Kami pun jadi dekat. Saya bahkan
tak segan untuk curhat tentang masalah di rumah. Persoalan yang memang tengah
menghantam saya ketika itu.
Saya
belajar banyak hal dari Mas Illal dan Mbak Dian, sang istri, tentang kehidupan
ini. Mereka yang setia mendengarkan tiap keluh kesah telah mengajarkan arti
kesabaran kepada saya. Sebagai suami istri yang memulai kehidupan dari titik
nol, mereka juga telah menanamkan semangat pantang menyerah dan kerja keras. Dan,
saat ini mereka membuat saya kagum dengan kegigihan dalam membangun pendidikan
di tengah segala keterbatasan. Mas Illal dan Mbak Dian bagi saya bukan sekadar
teman ataupun sahabat. Mereka telah menjelma menjadi kakak. Sosok saudara yang
senantiasa siap mengulurkan tangan di waktu saya terjatuh, butuh afirmasi.
Ummi
Ashim Azzahra, Trie Agustina, Retno Nurcahyani, Erna, dan Dwi Purwanti. Sederet
nama dari masa SMA yang takkan saya lupa. Teman-teman putra di Rohis seringkali
menjuluki kami F4 (seharusnya F6 :D) SMA 2. Alasannya, kami selalu beriringan
kemanapun pergi termasuk ke toilet hehe..
Mungkin
kami hanya bersama dua tahun, tapi banyak pelajaran berharga yang saya
dapatkan. Dari mereka, saya tahu betapa pentingnya pengendalian emosi. Saya
juga belajar tentang aturan agama termasuk batasan pergaulan sesuai syariat.
Ketika saya merasa Allah memberikan cobaan begitu berat, mereka senantiasa
menguatkan, mengingatkan bahwa selalu ada hikmah tersembunyi di balik semua
ini. Bersama Ummi, Trie, Retno, Erna, juga Mbak Pur masa-masa SMA terasa jauh
bermakna. Terima kasih, Kawan J
Malaikat-malaikat
di sisi saya selanjutnya adalah B-costers
dan sahabat-sahabat kuliah (Mbak Niky, Asput, dan mbak Ceskha). B-costers terdiri atas Mbak Dedis, Mbak
Riedha, Mbak Niky, Dek Rizka, Dek Dezy, Dek Sekar, dan Dek Listy. Mereka teman-teman
kos terbaik yang Allah berikan bagi saya. Selama tiga tahun kami berbagi suka
duka, tawa-air mata. Begitu pula ketika bersama sahabat-sahabat kuliah saya. Pertengkaran,
perdebatan, bahkan terkadang perseteruan kerap mengisi hari-hari kami. Egoisme berpadu
dengan kekonyolan plus kecerobohan bagai warna-warni pelangi. Namun, semua tak
lantas membuat kami saling membenci. Justru rasa saling memahami dan
menerima-lah yang tumbuh sedikit demi sedikit. Memang ada beberapa kisah tak
berakhir indah. Akan tetapi, kenangan tentang manisnya perjuangan masa-masa kos
dan kuliah adalah salah satu hal yang memotivasi saya untuk bertahan hidup
hingga detik ini. Dari mereka, saya tahu indahnya persahabatan. Dari mereka,
saya belajar menekan individualisme diri. Dari mereka juga saya mengerti bahwa
masalah tercipta untuk mendewasakan kita, Kawan.
Terakhir,
meski bukan paling akhir, satu sosok malaikat dalam hidup saya adalah dia. Ksatria
cinta pertama saya. Dia tipe orang sederhana, nggak neko-neko, religius, juga gigih. Selama delapan tahun jujur
saja hanya dia yang mengisi hati saya. Bukan bermaksud mellow atau galau, tapi
saya menyertakan dia dalam daftar ini karena memang ada inspirasi darinya. Ketika
hati ini mulai menorehkan namanya, saya tahu seperti apa indah cinta. Sewaktu berpisah
dengannya di hari kelulusan, saya merasakan apa itu hampa. Dan, saat dia dengan
tegas menolak perasaan yang sudah mengkristal di hati ini delapan tahun, saya
belajar apa itu ikhlas. Akhirnya, kenangan tentang dia menjadi salah satu dari
sekian hal berharga dalam hidup.
Itulah
malaikat-malaikat di sisi saya. Anugerah Allah yang membuat dunia saya tak
hanya putih dan hitam. Masih banyak sosok lain yang juga menginspirasi saya.
ada Diah Nur Aini, Mbak Dewi Krisnawati, siswa-siswa saya di SD Lamsujen, dan
kawan-kawan seperjuangan. Terima kasih Allah. Penuh cinta untuk kalian,
malaikat-malaikat hidup saya.
(ditemani rintik hujan, 19.41,
20-12-2012)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar