Sebulan
sudah saya kembali menghirup udara desa asal, Bandungrejo. Sebuah desa cukup
maju yang terletak di pinggiran kabupaten Demak. Desa dengan kondisi 180
derajat berbeda dengan tempat tugas saya selama 11 bulan ini, Lamsujen.
Di
Lamsujen kesenyapan pagi diliputi kabut pegunungan dan tetes embun di pepohonan.
Di Lamsujen merdu kicau murai bersenandung di antara gemericik sungai. Dan,
hanya disanalah pelangi megah mengantar alam menuju kesyahduan senja.
Ah,
mengingat Lamsujen tak pernah habis rasanya kisah yang ‘kan terurai! Ketika
menulis lembaran ini pun, benak saya penuh dengan bayangan sebulan lalu.
Tepatnya tiga minggu sebelum keberangkatan ke Jakarta.
Hari
itu Sabtu. Jam pertama seperti biasa saya mengisi pelajaran bahasa Inggris di
kelas IV. Yah…. Walau secara disiplin ilmu seharusnya saya cukup mengampu
bahasa Indonesia tetapi di sekolah penugasan belum ada tenaga pengajar bahasa
Inggris. Jadilah saya yang mendapat amanah tersebut.
“Bu,
besok ikut ‘kan?” tanya Elisa, salah satu siswi kelas IV yang selalu membuat
saya geleng-geleng kepala karena tingkah hiperaktifnya.
Saya
mengernyit, “Kemana?”
“Lapak,
Bu. Ikut ‘kan? Nanti kita mandi-mandi di sana!” seru Ikmal, satu-satunya siswa
putra di kelas ini, diikuti ajakan serupa dari Elisa, Rahmah, dan Hurnaifah.
Saya tersenyum menatap wajah-wajah penuh harap keempat siswa kelas IV itu.
Lapak,
sebutan untuk tempat berjualan yang terletak di sepanjang jalan menuju area
pegunungan Lamsujen. Bangunannya hanya terbuat dari bambu atau papan sederhana
dengan jejeran kursi kayu untuk pengunjung. Lapak-lapak tersebut biasa ramai
ketika musim durian menjelang. Pasalnya, para penikmat durian dari berbagai
penjuru Aceh maupun Medan berbondong-bondong datang ke Lamsujen yang memang
terkenal sebagai penghasil durian lezat. Nah, lapak-lapak ini berjejer di
seberang sebuah sungai kecil yang menghubungkan jalan desa dengan pegunungan.
Sungai dengan aliran cukup deras itulah yang seringkali menjadi tempat bermain
ataupun mandi siswa-siswa saya.
Akhirnya,
hari Minggu yang kami nantikan pun tiba. Setelah mencuci dan membantu ibu
angkat, saya dan kawan segera menuju sekolah, menemui siswa-siswa (ah, saya
lebih suka menyebut mereka kawan-kawan) yang ternyata telah ramai berkumpul.
Hampir seluruhnya membawa bekal, entah nasi ataupun roti. Saya dan kawan setim turut
pula membeli mie instan. Rencananya, kami dan para siswa akan memasak
bersama-sama di tepi sungai. Penuh semangat, kami menuju lapak sambil menenteng
mie juga panci yang sengaja dipinjam dari dapur sekolah.
Perjalanan
dari sekolah menuju lapak hanya butuh waktu 20 menit. Namun, di tengah jalan,
rencana berubah. Bukan sungai dekat lapak yang jadi tujuan, tetapi sungai lain
yang jauh lebih besar. Lhok Baka. Demikian anak-anak menyebutnya. Sungai ini
terletak jauh di atas, mendekati pegunungan. Jaraknya sekitar dua kilometer
dari lapak dengan medan menanjak. Beruntung jalan yang kami lalui telah
beraspal. Kalau dihitung-hitung, total perjalanan kami sekitar tiga kilometer
atau 45 menit.
Begitu
sampai, kawan-kawan baru saya langsung berlari ke tengah sungai, menceburkan
diri dalam sejuknya aliran Lhok Baka. Saya yang memang baru pertama kesini
sejenak tertegun. Baru kali ini saya melihat sungai sedemikian jernih hingga
batu-batu dan ikan-ikan kecil yang berenang lincah pun begitu nyata. Suasana
tepi sungai yang rimbun pepohonan berpadu dengan bebatuan besar di sepanjang
aliran air menciptakan kedamaian tersendiri. Belum lagi birunya lazuardi
ditingkahi nyanyi burung-burung di kesunyian pegunungan.
“Bu,
ayo kita masak mie-nya,” ujar Muharis, siswa kelas VI yang bertubuh agak
tambun. Dengan cekatan, dia mengumpulkan batu-batu berukuran sedang untuk
membuat api unggun. Bersama Andika, siswa kelas V, dia menyusun batu hingga
membentuk segitiga. Ranting-ranting kecil dan dedaunan kering mereka atur
sedemikian rupa di ruang kosong dalam segitiga kemudian dengan bantuan lembaran
kecil ban bekas, mereka menyalakan api.
Teknik menciptakan api unggun ala mereka benar-benar membuat saya kagum.
Maklum, selama ini saya jarang melihat hal-hal seperti itu. Tradisi memasak
dengan kayu pun hanya saya temui di desa nenek, di daerah Weleri.
Dalam
waktu 15 menit, mie pun telah siap. Kawan-kawan saya yang sedari tadi asyik bermain
air serta merta menepi, berebut mengambil mie dalam panci. Kebersamaan juga
rasa berbagi yang mereka tunjukkan membuat saya tersenyum haru. Saat itu,
tiba-tiba saja saya ingat bahwa waktu kami bersama mereka tak lama lagi.
Pukul
11.00, kami berkemas. Matahari yang makin terik membuat kami terpaksa
menghentikan keasyikan kawan-kawan saya bermain di sungai. Yah… walau
bagaimanapun mereka tetap harus pulang ke rumah dan membantu orang tua. Tak
terlalu lama bermain di luar. Apalagi sore harinya, kami juga akan mengadakan
latihan upacara.
“Minggu
depan kita kesini lagi, ya, Bu.” pinta kawan-kawan saya. Sebuah permintaan yang
ternyata tak bisa lagi saya penuhi. Kesibukan menyambut kawan-kawan SM-3T 2,
persiapan perpisahan, dan laporan akhir tahun yang harus segera diselesaikan
membuat kami tak sempat lagi berkunjung ke Lhok Baka. Sebuah sesal sempat
menyergap. Apalagi ketika setiap akhir pekan menjelang kepulangan ke Jawa,
kawan-kawan saya di SD kaki gunung itu senantiasa mengucapkan ajakan yang sama.
Maafkan Ibu, ya. Kita mungkin belum
bisa ke Lhok Baka lagi. Kita bisa jadi takkan lagi membuat api unggun ataupun
memasak mie instan bersama. Namun, keceriaan, kepolosan, juga kebaikan hati
kalian akan senantiasa terpatri di hati ibu. Terima kasih, Nak. Kalian
kawan-kawan baru Bu Dwi yang terhebat. Menjalani hari-hari bersama kalian
ibarat berjalan di atas pelangi dunia. Sarat warna juga makna. Sampai jumpa,
Kawan J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar