Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Selasa, 04 Desember 2012

Story At Lhok Baka



Sebulan sudah saya kembali menghirup udara desa asal, Bandungrejo. Sebuah desa cukup maju yang terletak di pinggiran kabupaten Demak. Desa dengan kondisi 180 derajat berbeda dengan tempat tugas saya selama 11 bulan ini, Lamsujen.

Di Lamsujen kesenyapan pagi diliputi kabut pegunungan dan tetes embun di pepohonan. Di Lamsujen merdu kicau murai bersenandung di antara gemericik sungai. Dan, hanya disanalah pelangi megah mengantar alam menuju kesyahduan senja.

Ah, mengingat Lamsujen tak pernah habis rasanya kisah yang ‘kan terurai! Ketika menulis lembaran ini pun, benak saya penuh dengan bayangan sebulan lalu. Tepatnya tiga minggu sebelum keberangkatan ke Jakarta.

Hari itu Sabtu. Jam pertama seperti biasa saya mengisi pelajaran bahasa Inggris di kelas IV. Yah…. Walau secara disiplin ilmu seharusnya saya cukup mengampu bahasa Indonesia tetapi di sekolah penugasan belum ada tenaga pengajar bahasa Inggris. Jadilah saya yang mendapat amanah tersebut.

“Bu, besok ikut ‘kan?” tanya Elisa, salah satu siswi kelas IV yang selalu membuat saya geleng-geleng kepala karena tingkah hiperaktifnya.

Saya mengernyit, “Kemana?”

“Lapak, Bu. Ikut ‘kan? Nanti kita mandi-mandi di sana!” seru Ikmal, satu-satunya siswa putra di kelas ini, diikuti ajakan serupa dari Elisa, Rahmah, dan Hurnaifah. Saya tersenyum menatap wajah-wajah penuh harap keempat siswa kelas IV itu.

Lapak, sebutan untuk tempat berjualan yang terletak di sepanjang jalan menuju area pegunungan Lamsujen. Bangunannya hanya terbuat dari bambu atau papan sederhana dengan jejeran kursi kayu untuk pengunjung. Lapak-lapak tersebut biasa ramai ketika musim durian menjelang. Pasalnya, para penikmat durian dari berbagai penjuru Aceh maupun Medan berbondong-bondong datang ke Lamsujen yang memang terkenal sebagai penghasil durian lezat. Nah, lapak-lapak ini berjejer di seberang sebuah sungai kecil yang menghubungkan jalan desa dengan pegunungan. Sungai dengan aliran cukup deras itulah yang seringkali menjadi tempat bermain ataupun mandi siswa-siswa saya.

Akhirnya, hari Minggu yang kami nantikan pun tiba. Setelah mencuci dan membantu ibu angkat, saya dan kawan segera menuju sekolah, menemui siswa-siswa (ah, saya lebih suka menyebut mereka kawan-kawan) yang ternyata telah ramai berkumpul. Hampir seluruhnya membawa bekal, entah nasi ataupun roti. Saya dan kawan setim turut pula membeli mie instan. Rencananya, kami dan para siswa akan memasak bersama-sama di tepi sungai. Penuh semangat, kami menuju lapak sambil menenteng mie juga panci yang sengaja dipinjam dari dapur sekolah.

Perjalanan dari sekolah menuju lapak hanya butuh waktu 20 menit. Namun, di tengah jalan, rencana berubah. Bukan sungai dekat lapak yang jadi tujuan, tetapi sungai lain yang jauh lebih besar. Lhok Baka. Demikian anak-anak menyebutnya. Sungai ini terletak jauh di atas, mendekati pegunungan. Jaraknya sekitar dua kilometer dari lapak dengan medan menanjak. Beruntung jalan yang kami lalui telah beraspal. Kalau dihitung-hitung, total perjalanan kami sekitar tiga kilometer atau 45 menit.

Begitu sampai, kawan-kawan baru saya langsung berlari ke tengah sungai, menceburkan diri dalam sejuknya aliran Lhok Baka. Saya yang memang baru pertama kesini sejenak tertegun. Baru kali ini saya melihat sungai sedemikian jernih hingga batu-batu dan ikan-ikan kecil yang berenang lincah pun begitu nyata. Suasana tepi sungai yang rimbun pepohonan berpadu dengan bebatuan besar di sepanjang aliran air menciptakan kedamaian tersendiri. Belum lagi birunya lazuardi ditingkahi nyanyi burung-burung di kesunyian pegunungan.

“Bu, ayo kita masak mie-nya,” ujar Muharis, siswa kelas VI yang bertubuh agak tambun. Dengan cekatan, dia mengumpulkan batu-batu berukuran sedang untuk membuat api unggun. Bersama Andika, siswa kelas V, dia menyusun batu hingga membentuk segitiga. Ranting-ranting kecil dan dedaunan kering mereka atur sedemikian rupa di ruang kosong dalam segitiga kemudian dengan bantuan lembaran kecil ban bekas, mereka menyalakan api.  Teknik menciptakan api unggun ala mereka benar-benar membuat saya kagum. Maklum, selama ini saya jarang melihat hal-hal seperti itu. Tradisi memasak dengan kayu pun hanya saya temui di desa nenek, di daerah Weleri.

Dalam waktu 15 menit, mie pun telah siap. Kawan-kawan saya yang sedari tadi asyik bermain air serta merta menepi, berebut mengambil mie dalam panci. Kebersamaan juga rasa berbagi yang mereka tunjukkan membuat saya tersenyum haru. Saat itu, tiba-tiba saja saya ingat bahwa waktu kami bersama mereka tak lama lagi.

Pukul 11.00, kami berkemas. Matahari yang makin terik membuat kami terpaksa menghentikan keasyikan kawan-kawan saya bermain di sungai. Yah… walau bagaimanapun mereka tetap harus pulang ke rumah dan membantu orang tua. Tak terlalu lama bermain di luar. Apalagi sore harinya, kami juga akan mengadakan latihan upacara.


“Minggu depan kita kesini lagi, ya, Bu.” pinta kawan-kawan saya. Sebuah permintaan yang ternyata tak bisa lagi saya penuhi. Kesibukan menyambut kawan-kawan SM-3T 2, persiapan perpisahan, dan laporan akhir tahun yang harus segera diselesaikan membuat kami tak sempat lagi berkunjung ke Lhok Baka. Sebuah sesal sempat menyergap. Apalagi ketika setiap akhir pekan menjelang kepulangan ke Jawa, kawan-kawan saya di SD kaki gunung itu senantiasa mengucapkan ajakan yang sama.

Maafkan Ibu, ya. Kita mungkin belum bisa ke Lhok Baka lagi. Kita bisa jadi takkan lagi membuat api unggun ataupun memasak mie instan bersama. Namun, keceriaan, kepolosan, juga kebaikan hati kalian akan senantiasa terpatri di hati ibu. Terima kasih, Nak. Kalian kawan-kawan baru Bu Dwi yang terhebat. Menjalani hari-hari bersama kalian ibarat berjalan di atas pelangi dunia. Sarat warna juga makna. Sampai jumpa, Kawan J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar