Pernahkah engkau sejenak mengingat
aku
Pernahkah ingat walau seperti angin
berlalu….
Bicara
tentang cinta ibarat menghitung debu di tepian pantai. Takkan pernah ada
habisnya. Mungkin itu alasan kenapa begitu banyak lagu tentang cinta bertebaran
di radio ataupun televisi. Cinta bisa membuat si ceria diliputi kebimbangan,
mampu mengubah si kasar jadi lembut tutur bahasanya. Meski tak jarang juga
menerbitkan tetesan air mata.
C-I-N-T-A.
Lima huruf yang bagi saya penuh cerita. Begitu sering saya mendengar kisah
cinta orang-orang di sekitar. Dalam kasus ini, tentu saja cinta kepada
seseorang. Banyak yang gundah. Namun, tak sedikit yang tersenyum karenanya.
Ragam ekspresi cinta dari mereka tak urung membuat saya bertanya, apa itu
cinta? Sebuah pertanyaan yang akhirnya membawa saya pada kenangan tentang
seseorang.
Saya
pertama bertemu dengannya di awal kelas dua SMA. Sederhana, nggak neko-neko, religius, dan agak
idealis. Demikianlah kesan tentang dia. Entah sejak kapan saya jadi kerap
mengamatinya. Tersenyum ketika mengingat tingkah lugunya. Apalagi ketika di
kelas tiga kami sekelas. Hal-hal sepele seperti piket kebersihan bersamanya
menjadi sesuatu yang begitu membahagiakan hati. Sungguh, saya pasti sedikit tak
waras saat itu!
Jujur
saja saya tak pernah yakin inilah jatuh cinta. Acapkali saya berpikir bila itu
hanyalah sebentuk kepedulian. Mungkin pula sekadar kekaguman. Layaknya fans pada sang idola. Namun, ketika saya
tak lagi bertemu dengan dia setelah hari kelulusan, sesuatu menyeruak dalam
hati. Sesuatu yang membuat saya ingin melihatnya lagi. Sesuatu bernama kerinduan.
Ya…
saya merindukan dia. Tidak. Lebih tepat, saya jatuh cinta padanya. Cinta yang
indah karena meski telah melintasi separuh cakrawala, bayangnya tak jua
menjauh. Walau menutup mata, senyumnya tak lantas memudar. Cinta itu pula yang membawa
sebongkah keberanian. Dan, saya melakukan hal paling konyol seperti dalam
drama-drama FTV. Tokoh wanita menyatakan perasaan pada tokoh pria lewat sepucuk
surat, via jejaring sosial pula. Ah, betapa lucunya!
C-I-N-T-A.
Lima huruf penuh inspirasi. Cinta membuat saya tahu betapa berwarna hidup ini.
Cinta mengajarkan saya apa itu peduli. Cinta jua yang menuntun saya pada satu
kata. Ikhlas. Berusaha menerima sebuah penolakan, berupaya memahami bahwa
harapan tak selalu berujung pada sebuah kenyataan. Sakit memang. Namun, dunia
tak berakhir hanya karena cinta ‘kan?
Cinta
saya padanya, kerinduan selama delapan tahun ini adalah anugerah Tuhan. Tak
perlu disesali, hanya butuh direnungkan. Bahwa cinta bukanlah sesuatu yang
absurd. Dia nyata. Dia ada untuk membimbing kita pada cinta lain yang jauh
lebih agung. Cinta kepada Sang Maha Cinta.
(catatan ini diikutsertakan dalam ajang Cinta#EnF grup Erin n Friends dengan admin Reni Erina dan dimuat dalam blog http://bundaerin.blogspot.com/2013_02_01_archive.html)