Saya
tercenung menatap layar televisi Senin malam itu. Bukan karena penampilan boys dan girlbands negeri Gingseng
yang tengah mendendangkan lagu-lagu favorit saya. Bukan pula karena kesunyian
yang tercipta seiring jarum jam dinding yang merangkak ke angka 12.
Sebaris
tulisan. Ya… tulisan ketika jeda iklan usai dan konser kembali dimulai. Tulisan
beserta foto para personel boys dan girlbands dari sebuah agensi ternama.
Apa nama paling berharga di dunia
ini?
Sederhana.
Hanya satu kalimat. Cukup sebuah pertanyaan. Dan, saya pun acuh. Lebih tertarik
pada suguhan konser nan menawan. Namun, ketika tulisan tersebut berkali-kali
muncul, mau tak mau saya jadi merenung. Ya…. Apa nama paling berharga di dunia
ini?
Saya
bahkan mungkin kita pasti punya beragam versi jawaban. Bagi mereka yang tengah
jatuh cinta, sang kekasih adalah nama yang paling berharga. Akan tetapi, untuk para
fans, idola mereka bisa jadi nama
yang paling berharga.
Malam
itu, saya melihat jawaban lain. Jawaban yang jujur tak pernah terlintas dalam
benak ini.
Apa nama paling berharga di dunia
ini?
Nama yang paling berharga adalah….
Keluarga.
Nama yang paling berharga
Adalah…. Teman.
Keluarga.
Sederhana memang. Mungkin sebagian dari kita tak menganggapnya sebagai sesuatu
yang berharga. Mereka yang notabene hidup di tengah keluarga broken home mungkin akan serta merta
menampik pernyataan itu. Bagi mereka, keluarga hanyalah biang keributan. Rumah
tak lebih dari sebuah bangunan tanpa nyawa, penuh kisah bertabur air mata atau
ketidakpedulian. Saya pribadi pernah beranggapan sama. Namun, pertanyaan di
sela konser tersebut justru pada akhirnya memunculkan sederet kenangan tentang
apa yang sudah saya dapatkan dari keluarga. Betapa ternyata satu-satunya tempat
pulang ketika tak ada lagi yang mau mendengarkan cerita kita hanyalah keluarga.
Betapa hanya merekalah yang siap menghapus peluh dan hujan di hati kita tanpa
mengharap imbalan apapun. Dan, saya pun tiba-tiba malu. Malu karena belum bisa
memberikan apapun untuk orang tua dan saudara-saudara. Malu karena tangan ini
seringkali malas menekan angka-angka di handphone
untuk sekadar menyapa mereka.
Tentang
teman. Ini membuat saya teringat pada ucapan seorang kawan. Dia pernah meminta
saya untuk tidak pernah mengucapkan selamat tinggal pada mereka yang entah
secara langsung maupun tidak telah menyakiti hati ini. Menurutnya, teman
tetaplah teman. Biarpun sedikit, mereka
pernah menjadi sosok-sosok yang mewarnai hari-hari ini. Mereka tanpa kita
sadari telah memberi banyak pengalaman sekaligus pelajaran tentang bagaimana
menjalani hidup ini. Lebih dari itu, mereka adalah salah satu inspirasi yang
menuntun kita pada tangga bernama kedewasaan.
Kita
boleh saja berpikir mampu menjalani hidup ini tanpa teman. Sah-sah saja kalau
kita berkata, “Tak ada yang mampu memahamiku selain diriku sendiri.” Namun,
pernahkah kita merenung bahwa apa yang kita peroleh hari ini tak lepas dari
dukungan teman?
Sekali
lagi, saya pun merasa malu. Malu karena ternyata belum bisa menjadi seorang
teman yang baik. Malu karena lebih sering meminta teman untuk memahami diri ini
daripada berusaha mengerti apa sesungguhnya diinginkan oleh mereka.
Dan,
biarlah saya akhiri tulisan ini dengan pertanyaan.
Apa nama yang paling berharga di
dunia ini, Kawan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar