Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Kamis, 16 Mei 2013

Nama Yang Paling Berharga



Saya tercenung menatap layar televisi Senin malam itu. Bukan karena penampilan boys dan girlbands  negeri Gingseng yang tengah mendendangkan lagu-lagu favorit saya. Bukan pula karena kesunyian yang tercipta seiring jarum jam dinding yang merangkak ke angka 12.  

Sebaris tulisan. Ya… tulisan ketika jeda iklan usai dan konser kembali dimulai. Tulisan beserta foto para personel boys dan girlbands dari sebuah agensi ternama.

Apa nama paling berharga di dunia ini?

Sederhana. Hanya satu kalimat. Cukup sebuah pertanyaan. Dan, saya pun acuh. Lebih tertarik pada suguhan konser nan menawan. Namun, ketika tulisan tersebut berkali-kali muncul, mau tak mau saya jadi merenung. Ya…. Apa nama paling berharga di dunia ini?

Saya bahkan mungkin kita pasti punya beragam versi jawaban. Bagi mereka yang tengah jatuh cinta, sang kekasih adalah nama yang paling berharga. Akan tetapi, untuk para fans, idola mereka bisa jadi nama yang paling berharga.

Malam itu, saya melihat jawaban lain. Jawaban yang jujur tak pernah terlintas dalam benak ini.

Apa nama paling berharga di dunia ini?
Nama yang paling berharga adalah….
Keluarga.

Nama yang paling berharga
Adalah…. Teman.

Keluarga. Sederhana memang. Mungkin sebagian dari kita tak menganggapnya sebagai sesuatu yang berharga. Mereka yang notabene hidup di tengah keluarga broken home mungkin akan serta merta menampik pernyataan itu. Bagi mereka, keluarga hanyalah biang keributan. Rumah tak lebih dari sebuah bangunan tanpa nyawa, penuh kisah bertabur air mata atau ketidakpedulian. Saya pribadi pernah beranggapan sama. Namun, pertanyaan di sela konser tersebut justru pada akhirnya memunculkan sederet kenangan tentang apa yang sudah saya dapatkan dari keluarga. Betapa ternyata satu-satunya tempat pulang ketika tak ada lagi yang mau mendengarkan cerita kita hanyalah keluarga. Betapa hanya merekalah yang siap menghapus peluh dan hujan di hati kita tanpa mengharap imbalan apapun. Dan, saya pun tiba-tiba malu. Malu karena belum bisa memberikan apapun untuk orang tua dan saudara-saudara. Malu karena tangan ini seringkali malas menekan angka-angka di handphone untuk sekadar menyapa mereka.

Tentang teman. Ini membuat saya teringat pada ucapan seorang kawan. Dia pernah meminta saya untuk tidak pernah mengucapkan selamat tinggal pada mereka yang entah secara langsung maupun tidak telah menyakiti hati ini. Menurutnya, teman tetaplah teman. Biarpun sedikit,  mereka pernah menjadi sosok-sosok yang mewarnai hari-hari ini. Mereka tanpa kita sadari telah memberi banyak pengalaman sekaligus pelajaran tentang bagaimana menjalani hidup ini. Lebih dari itu, mereka adalah salah satu inspirasi yang menuntun kita pada tangga bernama kedewasaan. 

Kita boleh saja berpikir mampu menjalani hidup ini tanpa teman. Sah-sah saja kalau kita berkata, “Tak ada yang mampu memahamiku selain diriku sendiri.” Namun, pernahkah kita merenung bahwa apa yang kita peroleh hari ini tak lepas dari dukungan teman?

Sekali lagi, saya pun merasa malu. Malu karena ternyata belum bisa menjadi seorang teman yang baik. Malu karena lebih sering meminta teman untuk memahami diri ini daripada berusaha mengerti apa sesungguhnya diinginkan oleh mereka.

Dan, biarlah saya akhiri tulisan ini dengan pertanyaan.

Apa nama yang paling berharga di dunia ini, Kawan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar