“Aku
menyerah.”
Embun
menoleh. Keningnya mengernyit. “”Kau sedang bicara tentang sesuatu atau
seseorang?”
Aku
menghela napas, mengembuskannya keras-keras. Sesungguhnya datang ke tempat ini,
bertemu Embun, dan bercerita padanya menjadi bagian paling sulit dalam hidupku.
Seringkali aku berpikir betapa egois diri ini. Hanya datang padanya ketika
merasa lelah dan butuh bahu untuk bersandar. Mengerikan. Namun, tiap kali aku
berusaha menghindar dan berusaha menyelesaikan semua sendirian, kaki-kakiku
tanpa sadar sudah berjalan ke pemakaman. Mataku yang mulai berkaca-kaca akan
segera mencari bangku kayu di bawah cemara rindang. Aku pun termenung di sana,
menanti Embun yang ‘kan datang dengan sebongkah senyuman.
Aku
oportunis. Itu benar! Kenyataan yang sungguh menohok. Dan, semakin menyesakkan
ketika semua itu kubalut dengan sikap bersahaja, penuh ketenangan. Tak ada yang
tahu siapa aku sebenarnya. Mereka yang di dekatku tak pernah menyadari bahwa
aku bukanlah malaikat seperti yang sering dikatakan orang-orang sekitar.
“Hei!
Aku datang bukan untuk melihat kau melamun,”
Aku
tergeragap. Sontak menoleh pada Embun. Sepasang mata beningnya menatapku lekat.
Seolah ingin mencari jawaban atas keterdiamanku.
“Maaf.
Huft…akhir-akhir ini aku memang terlampau sering melamun. Kau tanya apa tadi?”
Embun
tersenyum lembut. “Kau ingin menyerah tentang sesuatu atau seseorang?”
Aku
melempar pandang ke jejeran nisan tak terawat di hadapan kami. Dalam hati
berharap tak perlu menjawab pertanyaan sosok di sisiku. Bukan karena tak mau,
tapi hanya tak ingin jawaban itu mengingatkanku pada kebodohan di masa lalu.
“Hmm….
Baiklah kalau kau tak ingin bercerita. Tak peduli ini tentang sesuatu ataupun
seseorang. Satu pertanyaan lagi, apa yang akan kau lakukan setelah menyerah?”
lagi-lagi Embun bertanya. Aku masih diam. Mau tak mau kali ini aku harus
menjawab pertanyaannya. Aku tahu Embun sudah sengaja datang lebih awal kali
ini. Dan, dia datang bukan sekadar untuk melihatku membisu. Tidak. Itu bukan
tugasnya.
“Apa
lagi? Tentu saja melupakan. Semua orang juga begitu setelah menyerah,” ujarku lirih.
Ya,
hanya dengan melupakan, aku bisa menghapus sakit ini. Hanya dengan melupakan,
kumampu menyingkirkan segala harapan yang pernah membumbung tinggi.
“Dia
bisa benar-benar mati kalau kau memilih jalan itu.”
Aku
mengernyit. Tak paham. Mati? Lagipula, dia? Bukankah kami tak sedang membahas tentang
seseorang?
“Tak
peduli sesuatu atau seseorang. Kita sebut saja ‘dia’. Melupakan takkan pernah
membuat kita tersenyum dari hati. Ia hanya akan menjadikan kita semakin apatis.
Entah pada sesuatu atau seseorang,”
Aku
tertegun. Sekilas melirik Embun yang kini tengadah ke cakrawala. Dia ini…
selalu saja punya pemikiran yang bertolak belakang dengan dunia.
“Bukankah
lebih baik bersikap begitu? Apatis. Buat apa aku mengingat bila tak ada yang
kudapat? Apa ada yang lebih baik dari melupakan?” aku mulai berargumen.
“Ada
banyak hal berharga di dunia ini. Salah satunya kenangan. Tak peduli kenangan
membahagiakan atau menyakitkan. Ketika kau memilih menyerah lalu melupakan,
maka kenangan itu takkan pernah tercipta. Setiap kali ia hendak hadir, maka
hati juga pikiranmu akan serta merta mengusirnya. Mungkin bagimu, bagi
orang-orang, itu adalah jalan terbaik. Namun, tanpa sadar kau justru semakin
menyakiti dirimu sendiri. Semakin kau berusaha mengenyahkannya, semakin ia
menghantuimu.”
“Benarkah?”
tanyaku tak yakin.
Embun
tersenyum. “Bukan hanya kau yang ‘kan tersakiti, tapi 'dia' yang kau lupakan juga
akan lebih menderita karena kau tak pernah bisa menjadikkannya tangga menuju
kedewasaan.”
Aku
hendak bertanya lagi. Namun, belum sempat bibirku berucap, Embun beranjak dari
bangku. Horison mulai berbias merah.
“Aku
pergi.” ujarnya tanpa menoleh, meninggalkanku di kesunyian makam.