Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Sabtu, 15 September 2012

Versus


Ini bukanlah sebuah lagu
Bukan pula cerita nan sendu
Ini tanya, Kawan

Jika kepercayaan untukmu terkikis,
Apa yang ‘kan kau perbuat?
Jika tak ada lagi yang peduli,
Akankah kau menghilang?

Jika tak ada lagi yang mendengarmu,
Akankah kau pergi?

Aku terjebak di sini,
Di antara mereka, setan-setan licik bertopeng
dalam balutan kejeniusan
Tak ada malaikat ataupun peri

Aku terkurung di sini,
Dalam ruang dingin, sunyi
Tak ada udara, sesak kurasa

Ingin menghilang,
Namun tangan dan kakiku terkekang
Setan-setan itu tak memberiku satu saja kesempatan
Mereka mengoceh kata-kata yang sama
Bosan, menggelikan

Kalian tahu?
Setan-setan itu juga memberiku sebuah topeng
Sambil menyeringai, mereka berkata: “Pakailah ini dan kita ‘kan selamanya berteman!”

Penuh penasaran, kupandang topeng itu
Wajahnya penuh senyum
Secantik bidadari dalam dongeng zaman dulu
Kalian ingin tahu nama topeng itu?
Dialah kemunafikan, Kawan.

Senin, 10 September 2012

Senyum:Menjelang Detik-Detik Akhir




Ada perasaan aneh tiap kali saya mengamati kalender di telepon genggam. Ada sesuatu yang bergejolak ketika mata ini tanpa sengaja beradu pandang dengan deretan angka di sudut kanan netbook merah saya.

Waktu saya tak lama lagi. Itulah kalimat yang senantiasa berdengung.

Tunggu dulu, Kawan! Saya tak tengah memperbincangkan tentang kematian. Saya juga tak sedang membahas tentang kegalauan akibat cinta manusia. Saya hanya mencoba mendalami rasa yang berkecamuk di hati ini. Cemas, galau, khawatir, dan entah apa lagi. Pencarian saya akan penyebab rasa itu akhirnya bermuara pada satu kata.

Mereka. Ya, merekalah penyebabnya. Sosok-sosok yang hadir selama sembilan bulan ini. Sosok-sosok dengan senyum dan tingkah yang mungkin bagi sebagian orang begitu menjengkelkan. Namun, sedemikian bermakna bagi saya. Sosok-sosok yang tak pernah saya bayangkan bisa hadir dalam pencarian makna hidup ini.

Mereka, siswa-siswa saya.

Ah, saya lebih suka menyebut mereka kawan-kawan baru! Mengapa? Entahlah. Hanya saja, saya kok merasa seolah ada jurang begitu dalam ketika menyebut mereka siswa. Enam hari dalam seminggu saya berjumpa mereka. Empat jam dalam sehari saya mengobrol, beradu kata, juga berbagi rasa dengan mereka. Tertawa, marah, kesal, terkadang menangis pula karena mereka.

Mereka, kawan-kawan baru saya.

Setiap pagi senyum mereka adalah amunisi yang memompa jantung ini. Sapaan mereka layaknya mentari yang menghangatkan nadi. Sorot penuh semangat mereka adalah motivasi yang membuat saya bisa bertahan menghadapi hari-hari di perantauan. Dan, tanpa saya sadari, waktu berjalan sedemikian cepat ketika bersama mereka.

Banyak yang bilang kalau mereka hanyalah sekumpulan anak-anak nakal. Tak punya masa depan. Hanya akan berakhir sebagai pencari kayu, petani, atau ibu rumah tangga. Deretan profesi turun-temurun di desa lokasi tugas saya.

Namun, setiap kali menatap mata mereka, saya buang jauh-jauh doktrin masyarakat itu. Mata mereka bukanlah mata calon-calon petani, pencari kayu, ataupun ibu rumah tangga. Tatapan mereka adalah pandang para tunas pemimpin bangsa di masa depan. Di mata-mata itu saya melihat seorang dokter, insinyur, arsitek, ilmuwan, guru, bahkan presiden. Jejeran profesi yang tak sekadar bermanfaat, tapi juga bermartabat.

Saya bangga bisa menjadi bagian kecil dari perjalanan hidup mereka. Saya bersyukur karena Allah memberi saya kesempatan untuk belajar banyak dari mereka. Sembilan bulan mungkin bukan masa yang cukup untuk membantu mewujudkan mimpi ataupun cita-cita mereka. Meski demikian, setidaknya saya akan terus berjuang memotivasi mereka. Berupaya sekeras mungkin menjaga harapan yang tiap hari saya lihat. Saya percaya bahwa harapan adalah impian yang tak pernah tertidur. Dan, saya yakin, mereka mampu mewujudkan keinginan apapun itu di masa yang akan datang.

Mereka, kawan-kawan baru saya.

Langkah-langkah kecil, senyum, rentetan pertanyaan, terkadang juga protes yang meluncur dari bibir-bibir mungil mereka senantiasa menguatkan dan membuat saya bertanya. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Teruntuk kawan-kawan baruku di SD Lamsujen, Lhoong, Aceh Besar, 18.27 WIB

Senin, 03 September 2012

MY DREAM:10



“Aku menyerah.”

Embun menoleh. Keningnya mengernyit. “”Kau sedang bicara tentang sesuatu atau seseorang?”

Aku menghela napas, mengembuskannya keras-keras. Sesungguhnya datang ke tempat ini, bertemu Embun, dan bercerita padanya menjadi bagian paling sulit dalam hidupku. Seringkali aku berpikir betapa egois diri ini. Hanya datang padanya ketika merasa lelah dan butuh bahu untuk bersandar. Mengerikan. Namun, tiap kali aku berusaha menghindar dan berusaha menyelesaikan semua sendirian, kaki-kakiku tanpa sadar sudah berjalan ke pemakaman. Mataku yang mulai berkaca-kaca akan segera mencari bangku kayu di bawah cemara rindang. Aku pun termenung di sana, menanti Embun yang ‘kan datang dengan sebongkah senyuman.

Aku oportunis. Itu benar! Kenyataan yang sungguh menohok. Dan, semakin menyesakkan ketika semua itu kubalut dengan sikap bersahaja, penuh ketenangan. Tak ada yang tahu siapa aku sebenarnya. Mereka yang di dekatku tak pernah menyadari bahwa aku bukanlah malaikat seperti yang sering dikatakan orang-orang sekitar.

“Hei! Aku datang bukan untuk melihat kau melamun,”

Aku tergeragap. Sontak menoleh pada Embun. Sepasang mata beningnya menatapku lekat. Seolah ingin mencari jawaban atas keterdiamanku.

“Maaf. Huft…akhir-akhir ini aku memang terlampau sering melamun. Kau tanya apa tadi?”

Embun tersenyum lembut. “Kau ingin menyerah tentang sesuatu atau seseorang?”

Aku melempar pandang ke jejeran nisan tak terawat di hadapan kami. Dalam hati berharap tak perlu menjawab pertanyaan sosok di sisiku. Bukan karena tak mau, tapi hanya tak ingin jawaban itu mengingatkanku pada kebodohan di masa lalu.

“Hmm…. Baiklah kalau kau tak ingin bercerita. Tak peduli ini tentang sesuatu ataupun seseorang. Satu pertanyaan lagi, apa yang akan kau lakukan setelah menyerah?” lagi-lagi Embun bertanya. Aku masih diam. Mau tak mau kali ini aku harus menjawab pertanyaannya. Aku tahu Embun sudah sengaja datang lebih awal kali ini. Dan, dia datang bukan sekadar untuk melihatku membisu. Tidak. Itu bukan tugasnya.

“Apa lagi? Tentu saja melupakan. Semua orang juga begitu setelah menyerah,” ujarku lirih.

Ya, hanya dengan melupakan, aku bisa menghapus sakit ini. Hanya dengan melupakan, kumampu menyingkirkan segala harapan yang pernah membumbung tinggi.

“Dia bisa benar-benar mati kalau kau memilih jalan itu.”

Aku mengernyit. Tak paham. Mati? Lagipula, dia?  Bukankah kami tak sedang membahas tentang seseorang?

“Tak peduli sesuatu atau seseorang. Kita sebut saja ‘dia’. Melupakan takkan pernah membuat kita tersenyum dari hati. Ia hanya akan menjadikan kita semakin apatis. Entah pada sesuatu atau seseorang,”

Aku tertegun. Sekilas melirik Embun yang kini tengadah ke cakrawala. Dia ini… selalu saja punya pemikiran yang bertolak belakang dengan dunia.

“Bukankah lebih baik bersikap begitu? Apatis. Buat apa aku mengingat bila tak ada yang kudapat? Apa ada yang lebih baik dari melupakan?” aku mulai berargumen.

“Ada banyak hal berharga di dunia ini. Salah satunya kenangan. Tak peduli kenangan membahagiakan atau menyakitkan. Ketika kau memilih menyerah lalu melupakan, maka kenangan itu takkan pernah tercipta. Setiap kali ia hendak hadir, maka hati juga pikiranmu akan serta merta mengusirnya. Mungkin bagimu, bagi orang-orang, itu adalah jalan terbaik. Namun, tanpa sadar kau justru semakin menyakiti dirimu sendiri. Semakin kau berusaha mengenyahkannya, semakin ia menghantuimu.”

“Benarkah?” tanyaku tak yakin.

Embun tersenyum. “Bukan hanya kau yang ‘kan tersakiti, tapi 'dia' yang kau lupakan juga akan lebih menderita karena kau tak pernah bisa menjadikkannya tangga menuju kedewasaan.”

Aku hendak bertanya lagi. Namun, belum sempat bibirku berucap, Embun beranjak dari bangku. Horison mulai berbias merah.

“Aku pergi.” ujarnya tanpa menoleh, meninggalkanku di kesunyian makam.