Ada yang hilang
Ketika kita tak lagi saling menyapa
meski waktu
seringkali buat berjumpa
Ada yang lenyap
Saat senyummu tak lagi kudapat
meski ruang
acapkali impikan kita saling tertawa
Ah, Kawan
mungkin naif t'lah jadi
sobat abadi ragaku
hingga penolakanmu seolah sembilu di jiwaku
hingga keterpaksaanmu ibarat racun di sunyinya duniaku
"Kita berbeda!"
ucapmu selalu
Sebuah fakta yang sampai kini
tak jua kuterima
Karena bagiku,
aku, kau, dan mereka
Kita sama
Pilihan kita tentang dunia,
itulah yang berbeda
Selamat Datang, Kawan!
Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D
ATTENTION
Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)
Jumat, 04 Oktober 2013
Sabtu, 28 September 2013
MY DREAM: 12
Dia
tersenyum. Seperti biasa. Sepasang mata hitamnya yang sejuk lembut menatapku.
Tatapan yang justru membuatku kikuk, serba salah. Ah, aku ini masih saja
mengulang kesalahan yang sama. Datang padanya ketika merasa dunia tak lagi
peduli padaku. Saat semua orang menganggapku sebagai bayangan yang ‘kan hilang
seiring padamnya cahaya.
“Kau
ini selalu lupa. Bukankah sudah kukatakan, aku tak pernah peduli alasanmu
datang kesini!” serunya seraya memasang raut cemberut. Bibirnya mengerucut. Ekspresi
yang baru pertama kali ia tampilkan padaku.
Aku
tergelak. Gegas menghampiri bangku panjang di bawah rindang cemara tempatnya
bersandar.
“Lucu.”
Ujarku di sela tawa. Dia tersenyum. Teduh.
“Yah…
setidaknya itu membuatmu merasa lebih santai ‘kan?”
Keningku
berkerut. “Maksudmu?”
“Entah
benar atau tidak, tapi mungkin saja kau merasa sebuah perubahan besar sedang
terjadi dalam dirimu,”
Ekspresiku
masih sama.
Perlahan
tangannya terulur, mengusap lembut kepalaku.
“Bukankah
akhir-akhir ini seseorang membuatmu seringkali menangis? Kau merasa
ditinggalkan, kecewa, kesal, bahkan marah karena dia tak pernah mau memahamimu
juga orang-orang di sekelilingmu?”
Mataku
melebar.
“Tiba-tiba
saja kau menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Tanpa senyum, dingin,
lebih memilih diam justru ketika orang menginginkan kau berkata-kata.”
Aku
menghela napas. Dia selalu tahu tentangku. “Jadi, menurutmu aku pasti salah ‘kan?”
Dia
berdecak pelan. “Kekanak-kanakan.”
Aku
membisu. Jejeran nisan seolah menertawakanku dalam beku. Sementara tak jauh
dari tempatku, Tuan Angin melempar senyum yang bagiku tampak seperti seringai di
gulitanya malam. Dan, demi melihat semua itu, mataku berkaca-kaca. Situasi yang
sungguh menyebalkan!
Embun
kembali mengusap kepalaku. Perlahan.
“Tak
ada yang salah. Ketika kau kecewa, kesal, bahkan marah, itu wajar. Kau manusia,
punya emosi, punya hati. Jangan disesali.”
“Tapi,
tadi kau bilang aku….”
“Yap….
Kekanak-kanakan. Kekanak-kanakan karena kekesalan juga amarah seringkali kau
tunjukkan tidak pada waktunya. Kekanak-kanakan karena kau lebih sering
mendengarkan suara-suara yang seringkali membawamu pada prasangka yang tak bisa
dipertanggungjawabkan. Satu lagi, kau juga
memilih tempat yang salah. Itu takkan pernah menyelesaikan masalah.” tuturnya
lembut.
Aku
menatap matanya. “Lalu, menurutmu apa yang harus kulakukan? Berpura-pura
tersenyum, menyembunyikan semua emosi yang bergejolak di hati? Atau lebih baik
tak usah peduli? Menganggap kalau sumber dari semua sikap kekanak-kanakkanku itu
tak ada?”
Dia
tergelak. Lantas berdiri seraya menatap semesta yang mulai menggeliat bangun.
“Bukankah
hidup itu sandiwara? Jadi, bersandiwaralah di saat dan tempat yang tepat.”
Embun
berjalan menjauh, merangkul Tuan Angin, lalu perlahan menghilang.
Tatapanku
kabur.
Kamis, 16 Mei 2013
C-I-N-T-A, 5 Huruf Penuh Inspirasi
Pernahkah engkau sejenak mengingat
aku
Pernahkah ingat walau seperti angin
berlalu….
Bicara
tentang cinta ibarat menghitung debu di tepian pantai. Takkan pernah ada
habisnya. Mungkin itu alasan kenapa begitu banyak lagu tentang cinta bertebaran
di radio ataupun televisi. Cinta bisa membuat si ceria diliputi kebimbangan,
mampu mengubah si kasar jadi lembut tutur bahasanya. Meski tak jarang juga
menerbitkan tetesan air mata.
C-I-N-T-A.
Lima huruf yang bagi saya penuh cerita. Begitu sering saya mendengar kisah
cinta orang-orang di sekitar. Dalam kasus ini, tentu saja cinta kepada
seseorang. Banyak yang gundah. Namun, tak sedikit yang tersenyum karenanya.
Ragam ekspresi cinta dari mereka tak urung membuat saya bertanya, apa itu
cinta? Sebuah pertanyaan yang akhirnya membawa saya pada kenangan tentang
seseorang.
Saya
pertama bertemu dengannya di awal kelas dua SMA. Sederhana, nggak neko-neko, religius, dan agak
idealis. Demikianlah kesan tentang dia. Entah sejak kapan saya jadi kerap
mengamatinya. Tersenyum ketika mengingat tingkah lugunya. Apalagi ketika di
kelas tiga kami sekelas. Hal-hal sepele seperti piket kebersihan bersamanya
menjadi sesuatu yang begitu membahagiakan hati. Sungguh, saya pasti sedikit tak
waras saat itu!
Jujur
saja saya tak pernah yakin inilah jatuh cinta. Acapkali saya berpikir bila itu
hanyalah sebentuk kepedulian. Mungkin pula sekadar kekaguman. Layaknya fans pada sang idola. Namun, ketika saya
tak lagi bertemu dengan dia setelah hari kelulusan, sesuatu menyeruak dalam
hati. Sesuatu yang membuat saya ingin melihatnya lagi. Sesuatu bernama kerinduan.
Ya…
saya merindukan dia. Tidak. Lebih tepat, saya jatuh cinta padanya. Cinta yang
indah karena meski telah melintasi separuh cakrawala, bayangnya tak jua
menjauh. Walau menutup mata, senyumnya tak lantas memudar. Cinta itu pula yang membawa
sebongkah keberanian. Dan, saya melakukan hal paling konyol seperti dalam
drama-drama FTV. Tokoh wanita menyatakan perasaan pada tokoh pria lewat sepucuk
surat, via jejaring sosial pula. Ah, betapa lucunya!
C-I-N-T-A.
Lima huruf penuh inspirasi. Cinta membuat saya tahu betapa berwarna hidup ini.
Cinta mengajarkan saya apa itu peduli. Cinta jua yang menuntun saya pada satu
kata. Ikhlas. Berusaha menerima sebuah penolakan, berupaya memahami bahwa
harapan tak selalu berujung pada sebuah kenyataan. Sakit memang. Namun, dunia
tak berakhir hanya karena cinta ‘kan?
Cinta
saya padanya, kerinduan selama delapan tahun ini adalah anugerah Tuhan. Tak
perlu disesali, hanya butuh direnungkan. Bahwa cinta bukanlah sesuatu yang
absurd. Dia nyata. Dia ada untuk membimbing kita pada cinta lain yang jauh
lebih agung. Cinta kepada Sang Maha Cinta.
(catatan ini diikutsertakan dalam ajang Cinta#EnF grup Erin n Friends dengan admin Reni Erina dan dimuat dalam blog http://bundaerin.blogspot.com/2013_02_01_archive.html)
Nama Yang Paling Berharga
Saya
tercenung menatap layar televisi Senin malam itu. Bukan karena penampilan boys dan girlbands negeri Gingseng
yang tengah mendendangkan lagu-lagu favorit saya. Bukan pula karena kesunyian
yang tercipta seiring jarum jam dinding yang merangkak ke angka 12.
Sebaris
tulisan. Ya… tulisan ketika jeda iklan usai dan konser kembali dimulai. Tulisan
beserta foto para personel boys dan girlbands dari sebuah agensi ternama.
Apa nama paling berharga di dunia
ini?
Sederhana.
Hanya satu kalimat. Cukup sebuah pertanyaan. Dan, saya pun acuh. Lebih tertarik
pada suguhan konser nan menawan. Namun, ketika tulisan tersebut berkali-kali
muncul, mau tak mau saya jadi merenung. Ya…. Apa nama paling berharga di dunia
ini?
Saya
bahkan mungkin kita pasti punya beragam versi jawaban. Bagi mereka yang tengah
jatuh cinta, sang kekasih adalah nama yang paling berharga. Akan tetapi, untuk para
fans, idola mereka bisa jadi nama
yang paling berharga.
Malam
itu, saya melihat jawaban lain. Jawaban yang jujur tak pernah terlintas dalam
benak ini.
Apa nama paling berharga di dunia
ini?
Nama yang paling berharga adalah….
Keluarga.
Nama yang paling berharga
Adalah…. Teman.
Keluarga.
Sederhana memang. Mungkin sebagian dari kita tak menganggapnya sebagai sesuatu
yang berharga. Mereka yang notabene hidup di tengah keluarga broken home mungkin akan serta merta
menampik pernyataan itu. Bagi mereka, keluarga hanyalah biang keributan. Rumah
tak lebih dari sebuah bangunan tanpa nyawa, penuh kisah bertabur air mata atau
ketidakpedulian. Saya pribadi pernah beranggapan sama. Namun, pertanyaan di
sela konser tersebut justru pada akhirnya memunculkan sederet kenangan tentang
apa yang sudah saya dapatkan dari keluarga. Betapa ternyata satu-satunya tempat
pulang ketika tak ada lagi yang mau mendengarkan cerita kita hanyalah keluarga.
Betapa hanya merekalah yang siap menghapus peluh dan hujan di hati kita tanpa
mengharap imbalan apapun. Dan, saya pun tiba-tiba malu. Malu karena belum bisa
memberikan apapun untuk orang tua dan saudara-saudara. Malu karena tangan ini
seringkali malas menekan angka-angka di handphone
untuk sekadar menyapa mereka.
Tentang
teman. Ini membuat saya teringat pada ucapan seorang kawan. Dia pernah meminta
saya untuk tidak pernah mengucapkan selamat tinggal pada mereka yang entah
secara langsung maupun tidak telah menyakiti hati ini. Menurutnya, teman
tetaplah teman. Biarpun sedikit, mereka
pernah menjadi sosok-sosok yang mewarnai hari-hari ini. Mereka tanpa kita
sadari telah memberi banyak pengalaman sekaligus pelajaran tentang bagaimana
menjalani hidup ini. Lebih dari itu, mereka adalah salah satu inspirasi yang
menuntun kita pada tangga bernama kedewasaan.
Kita
boleh saja berpikir mampu menjalani hidup ini tanpa teman. Sah-sah saja kalau
kita berkata, “Tak ada yang mampu memahamiku selain diriku sendiri.” Namun,
pernahkah kita merenung bahwa apa yang kita peroleh hari ini tak lepas dari
dukungan teman?
Sekali
lagi, saya pun merasa malu. Malu karena ternyata belum bisa menjadi seorang
teman yang baik. Malu karena lebih sering meminta teman untuk memahami diri ini
daripada berusaha mengerti apa sesungguhnya diinginkan oleh mereka.
Dan,
biarlah saya akhiri tulisan ini dengan pertanyaan.
Apa nama yang paling berharga di
dunia ini, Kawan?
Jumat, 18 Januari 2013
MY DREAM:11
Aku
menggigiti kuku. Entah untuk yang keberapa kali dalam satu jam ini. Kebiasaan
buruk bila kegelisahan mulai menyergap. Di sampingku, Embun setia duduk
bersedekap. Tatapannya lurus, memandang jejeran nisan dengan ilalang yang kian
meninggi.
“Aku
sudah membaca suratmu.” Ujarnya memecah kesunyian. Aku menghela napas, sudah
menduga kalimatnya. Yah… sebentar lagi dia pasti akan tertawa. Aku memang
konyol, bercerita tentang kisah cinta melankolis seperti dalam drama-drama FTV
padanya. Kisah cinta yang berakhir pada dua kata. Patah hati.
Huft…aku
memang bukan Cinderella si memikat pangeran di pesta topeng. Aku juga bukan
Snow White yang dibebaskan pria tampan dari sihir jahat. Bukan pula Dayang
Sumbi, gadis cantik nan menawan Bandung Bondowoso. Mungkin benar kata seorang
temanku, pria baik memang hanya ada dalam dongeng pengantar tidur.
“Kau
ini suka sekali melamunkan hal-hal tak penting!” tegur Embun membuatku
tergeragap. Kembali ke dunia nyata. Aku nyengir menatap Embun yang tampak
kesal. Ups, jangan-jangan karena terlalu
asyik melamun aku tak mendengar kata-kata ataupun pertanyaannya lagi. Seperti
biasa.
“Jadi,
apa tujuanmu menulis surat itu? Aku yakin bukan sekadar ingin curhat tentang
patah hatimu. “ tanya Embun serius.
Aku
tergelak. Inilah bedanya Embun dengan kawan-kawanku. Siapapun yang membaca
suratku akan berpikir itu tak lebih dari tulisan kesedihan seorang gadis patah
hati. Namun, Embun mampu melihat hal lain dari coretanku.
“Banyak
yang bilang cinta itu absurd. Aku percaya itu, tapi aku juga yakin kalau cinta
itu konkret. Dia nyata, tak hanya dirasakan, bisa pula kita lihat. Dan, cintaku
pada orang itu membuatku melihat cinta yang lain. Cinta yang jauh lebih hebat.
Cinta yang menjadikan air mata tak semata bentuk emosi. Cinta yang mampu
menggetarkan semesta ini. Cinta yang…”
“Cinta
yang membuatmu merasa seperti seorang pengkhianat,” tukas Embun cepat. Aku
terpana menatapnya. Ya, dia benar. Tepat seperti yang kutulis. Aku memang
merasa seperti pengkhianat. Semakin nyata cinta itu, semakin besar rasa
bersalah bersarang di hatiku.
“Lupakan
tentang pengkhianat atau apapun istilah yang kau ciptakan. Jatuh cinta bukan
kesalahan. Kau sendiri menulis bahwa itu fitrah. Jadi, kenapa harus merasa
berkhianat?” Embun menggenggam jemariku lembut.
“Kesalahan
terbesar manusia ketika ia jatuh cinta adalah dia lupa siapa pencipta cinta
sesungguhnya. Dia lupa seperti apa cinta sejati itu. Dia hanya menatap apa yang
ada di hadapannya, bukan siapa yang ada di baliknya. Dan, aku yakin hatimu tak
memilih jalan itu.”
Aku
menghela napas. “Aku hanya perlu belajar. Belajar memaknai cinta dari sudut
pandang lain hingga tak perlu merasa seperti pengkhianat. Begitukah?”
Embun
tersenyum.
“Kau
punya PR lain yang perlu kaupikirkan. Hmm… bagaimana bila dia yang membuatmu
patah hati ternyata membaca surat itu?” tanya Embun seraya mengerling jenaka.
Aku
tercengang. Samar kulihat Tuan Kabut mulai mendekat.
Langganan:
Komentar (Atom)