Sarjana
Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. SM-3T. Tiga huruf, satu
angka yang tidak pernah saya sangka akan menjadi salah satu bagian penting
dalam hidup ini. Bagian yang membuat saya belajar banyak hal. Sebuah babak baru
dengan berjuta kenangan bertabur tawa juga air mata.
Bermula
dari posting seorang kawan di sebuah jejaring sosial. Kira-kira bunyinya
begini:”Bagi teman-teman yang ingin
mbolang….” diikuti tautan ke laman kampus saya yang berisi info pendaftaran
program mengajar di luar Jawa bagi lulusan kependidikan. Saat itu, saya hanya
sepintas membaca. Sedikit tertarik, tapi belum terbersit minat untuk mendaftar.
Keesokan paginya, salah seorang kawan mengirimkan SMS. Isinya, mengajak ikut
bergabung dalam program tersebut. Saya masih ingat kata-katanya:”Kita coba saja jeng. Siapa tahu ini rezeki
kita hehe….”
Dan,
saya pun iseng mencoba bahkan tahu-tahu turut ‘ngomporin’ kawan-kawan seangkatan untuk mendaftar. Di tengah
maraknya euforia SEA GAMES, galau karena dua tahun tak kunjung mendapat status
strategis dalam dunia pekerjaan (ralat: saya cukup beruntung, masih menjadi
guru les sih), dan bimbang tak jua dapat jodoh (alasan terakhir ini bercanda
lho :D).
Begitulah, setelah lolos seleksi administrasi, tes tulis, dan
wawancara, saya pun menjadi salah satu di antara 294 peserta SM-3T dari kampus.
Selama 12 hari, kami mendapat pembekalan tentang ketahanmalangan, Pramuka, dan
praktik pembelajaran sebelum akhirnya diterjunkan ke lokasi penempatan.
Aceh
Besar. Salah satu kabupaten di provinsi Aceh. Wilayah paling barat Republik
Indonesia. Sungguh, dalam mimpi pun saya tak pernah membayangkan akan sampai ke
sana. Apalagi berdiam untuk waktu cukup
lama. Sepuluh bulan. Waktu berangkat, saya hanya memantapkan satu niat,
membantu. Saya hanya ingin membantu pendidikan di luar Jawa. Idealis memang,
tapi ya, memang cuma itu yang ada di benak ini. Saya juga tak peduli tentang
gempa ataupun isu-isu politik yang memang tengah marak di daerah penugasan.
Bismillah sajalah!
Lalu,
setelah sepuluh bulan apa yang saya dapatkan ketika kembali menjejak pulau
Jawa?
Setidaknya,
ada lima hal yang saya peroleh. Lima hal antara saya dan SM-3T.
1.
Bisa
Naik Pesawat (lagi J)
Yupz, SM-3T membantu
saya sekali lagi mendapat pengalaman luar biasa. Naik pesawat. Yah, meski bukan
untuk yang pertama kali, tapi selalu ada sensasi tersendiri ketika menaiki si
burung besi. Apalagi ketika pesawat mulai take
off. Daratan yang semula begitu dekat perlahan menjauh. Pepohonan, laut,
juga gedung-gedung berubah menjadi titik-titik warna hijau, biru, coklat lalu
semua putih. Damai menyergap.
2.
Belajar
Tentang Hal Baru
Pak Yusran, ayah angkat
saya di Banda Aceh, suatu ketika berkata, “Kalian
ada di sini untuk belajar, bukan mencari-cari masalah.”. Ya, itu benar.
SM-3T adalah ajang untuk belajar. Tentang apa saja. Mulai dari menerima karakter
yang 180 derajat berbeda dari kita, adat-istiadat (seringkali jadi alasan
anak-anak tak hadir di sekolah), hingga belajar untuk lebih peduli kepada
sesama. Intinya, adaptasi. Sulit memang, tapi bukan berarti tak bisa. Justru
dengan belajar tentang hal-hal baru, saya jadi lebih termotivasi. Saya juga
semakin tahu bahwa hidup bukan cuma buat senang-senang, guys J
3.
Kontrol
Emosi
Ada yang bilang kalau
semakin dewasa umur seseorang, seharusnya semakin mampu mengontrol emosinya. Yah…walaupun
seringkali itu hanya teori. Toh, pada kenyataannya banyak orang yang secara
usia lebih tetapi minus dalam mengekspresikan emosinya. Saya sendiri, jujur
saja, punya manajemen emosi yang kurang. Apalagi bila berhadapan dengan
anak-anak. Dan, di SM-3T, kendali emosi saya benar-benar diuji. Pasalnya, saya
harus menekan amarah yang mulai terbit ketika kawan-kawan baru saya yang
berstatus anak SD berulah. Mulai dari berkelahi, lari kesana-kemari, hingga asyik
ngobrol atau bahkan dengan santai keluar masuk kelas ketika saya serius bercuap-cuap.
Bohong besar kalau bilang saya tak marah. Namun, lambat laun saya berusaha
mengontrolnya. Pikir saya, begitulah anak-anak. Anggap saja, persiapan sebelum
menjadi ibu hehe…. Saya juga tanpa sadar, sedikit demi sedikit melatih ekspresi
wajah. Marah bukan berarti harus bertampang seram ‘kan?
4.
Punya
Teman, Keluarga Angkat, dan Tetangga Baru
Masih segar dalam
ingatan wajah-wajah penuh kekhawatiran dari ibu, bulik, hingga mbah ketika
menjelang hari keberangkatan saya ke Aceh.
“Sing
ati-ati yo, Nok. Mugo-mugo wong-wong kono apikan,”
demikian kata bulik. Yah, maklum saja ini pertama kalinya sang keponakan pergi
ke luar Jawa untuk waktu lama. Sendirian pula, tanpa ditemani keluarga. Oya,
sekadar info, ibu saya asli Bulukumba. Salah satu kabupaten di provinsi
Sulawesi Selatan. Sesekali kami sekeluarga berkunjung kesana. Dengan kata lain,
sebenarnya saya tak terlalu asing dengan kehidupan luar Jawa. Meski begitu
khawatir tetap saja ada. Apalagi bagi sebagian besar orang Jawa, mereka yang
ada di Aceh bertemperamen keras. Namun, semuanya sirna ketika saya melihat raut
penuh keramahan dari keluarga angkat, teman alias siswa-siswa, bahkan tetangga
kanan kiri tempat saya tinggal. Dengan senyum terukir, mereka menyapa dan
bercerita tentang apa saja yang ingin saya ketahui.
Yap! Inilah keuntungan
lain ikut SM-3T. Saya memeroleh lingkungan baru yang alhamdulillah begitu
terbuka dan selalu siap menolong. Bukan hanya satu, tapi tiga keluarga angkat
sekaligus saya dapatkan. Pertama, keluarga Ibu Yus, kepala sekolah tempat saya
bertugas pertama kalinya di SMA 1 Indrapuri. Kedua, Bu Win, salah satu guru
yang rumahnya kemudian sering saya singgahi untuk menginap ketika berada di
Banda Aceh. Dan ketiga, Bu Nab, keluarga angkat di Lamsujen, Lhoong, tempat
tugas saya yang kedua setelah Indrapuri. Bersama ketiga keluarga angkat rasanya
kerinduan kepada kampung halaman tak terlalu terasa hehe..
5.
Bisa
Merasakan Gempa :D
Poin terakhir ini
mungkin menyeramkan bagi beberapa orang. Siapa sih yang senang tinggal di
daerah dengan intensitas gempa hampir tiap bulan? Apalagi ancaman tsunami juga seringkali
mengintai.
Itulah yang saya dan kawan-kawan
SM-3T Aceh Besar hadapi. Bulan-bulan awal ketika gempa mengguncang, jujur saja
kepanikan menyergap. Saya masih ingat kali pertama terjadi gempa sekitar bulan
Januari, dini hari. Berbagai pikiran melintas, utamanya tentang nyawa.
Namun. lambat laun saya
bersyukur juga. Terkadang malah bertanya-tanya, “Kapan ya gempa lagi?”. Yah… biar bagaimanapun, ini pengalaman tak
terlupakan. Belum tentu ketika bertugas di daerah lain, saya akan mengalami hal
yang sama. Sensasi kepanikan ketika tanah bergetar, ekpresi campur aduk dari
orang-orang di sekitar menjadi pemandangan menarik bagi diri ini. Dan, di balik semua itu saya semakin menyadari
satu hal. Kematian itu dekat, Kawan.
Nah,
itulah sedikit dari banyak hal yang saya dapatkan dari petualangan selama
kurang lebih 300 hari di kabupaten Aceh Besar. Seru, unik, asyik tapi terkadang
juga sukses membuat diri ini menitikkan air mata. Apapun bentuknya, segala yang
terjadi sepuluh bulan ini benar-benar memberi tak sekadar pengalaman ataupun
motivasi, tapi juga tantangan. SM-3T, saya bangga bisa jadi bagian dari program
ini. Bagian dari usaha merengkuh mimpi-mimpi di daerah terdepan, terluar, dan
tertinggal. Salam maju bersama, Kawan J