Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Selasa, 31 Juli 2012

MENGEJA R-I-N-D-U



Pernahkah kau merasa merindu?
Hingga kau sangka bumi berhenti berputar
Dan waktu begitu lambat berjalan

Rindu.

Lima huruf, saling berkombinasi memunculkan efek dahsyat bagi siapapun yang tengah merasakannya. Senada dengan cinta, rindu seringkali menjadi ‘hantu’ dalam hari-hari seseorang. Hantu yang membuat sisi melankolis mencuat, tak terbendung ego.

Rindu menjadikan seseorang bisa begitu puitis. Bak pujangga kenamaan, menulis jutaan puisi. Rindu mampu mengubah kepribadian yang sedemikian tegar berurai air mata. Rindu pula yang mampu meluluhkan benci yang tertanam dalam hati.

Lalu, apa sejatinya rindu itu?

Jika sebagian orang sering memaknai rindu sebagai salah satu sinyal lahirnya cinta, maka saya lebih suka menyebutnya dengan rasa ‘ingin’.

Rindu adalah keinginan. Keinginan untuk bertemu. Hasrat bersapa tak peduli terpisahkan jarak ratusan kilometer. Kerinduan tak terbatas dalam lingkup hubungan pria-wanita saja. Justru rasa ini bisa menjangkau siapa saja dan tentang apa saja, termasuk kepada Allah. Tuhan semesta alam.

Menulis tentang kerinduan seperti halnya bercerita tentang cinta. Ada tawa juga air mata di sana. dan, saya pun teringat pesan singkat seorang kawan:

Kalau kita sudah tak lagi punya rasa rindu, artinya hati kita sebagai manusia sudah mati.

Selamat merindu, kawan J

Kamis, 26 Juli 2012

Rabu, 19 Juli 2012



Its meugang days.

Inilah salah satu tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi yang telah ada sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda tersebut menjadi simbol kebersamaan di antara warga. Sedari malam, keluarga angkat saya telah bersiap. Mulai dari mengupas bahan-bahan untuk memasak hingga menyiapkan kerbau yang akan disembelih.

Secara bahasa, meugang merupakan singkatan dari makmeugang. Menurut kisah Amir Hamzah (2009) pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda terdapat gang-gang atau lorong-lorong pasar yang dipenuhi daging-daging berjejeran dan didatangi banyak orang. Oleh sebab itu, munculah istilah makmu that gang nyan (makmur sekali gang itu). Lambat laun, sebutan tersebut disingkat menjadi meugang.

Dalam perayaan meugang, masyarakat Aceh akan memotong lembu atau kerbau secara besar-besaran. Daging lembu atau kerbau kemudian dibawa ke pasar untuk dijual. Ada pula warga yang membagikan daging tersebut kepada fakir miskin yang membutuhkan.

Sementara itu, tata cara menikmati daging pun bermacam-macam. Namun, secara umum, masyarakat Aceh akan mengadakan acara makan bersama seluruh anggota keluarga, entah di rumah ataupun pantai. Hal ini dimaksudkan untuk mempererat silaturahmi di antara mereka.

Meugang dilaksanakan dua hari menjelang bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Sebagai sebuah tradisi, meugang telah menjadi simbol penting dalam tatanan sosial masyarakat Aceh. Bukan sekadar acara makan daging bersama, tapi juga sarana mempererat kekeluargaan.

Jumat, 20 Juli 2012

A Letter For Him



Senja masih setia membiaskan semburat jingganya ketika jari-jariku mulai menari. Coba menyapamu. Apa kabar? Kurasa itu kalimat paling tepat untuk mengawali surat ini. Surat yang sudah lama ingin kutulis untukmu. Namun, egoku selalu saja berhasil mencegahnya. Selalu saja ada suara berdengung di sanubariku, Buat apa kau menulis untuknya? Apa dia akan peduli pada perasaanmu? Lupakan dia! Kau benar-benar bodoh!

Ya, kupikir suara itu benar. Aku bodoh! Tolol karena selama delapan tahun ini hanya memikirkan dirimu. Egois karena tak pernah berpikir tentang perasaan sosok-sosok lain yang berseliweran di sekitarku.

Hanya dirimu.

Tepat sekali! Engkau satu-satunya yang mampu membuatku kehilangan berjuta kata saat kita berjumpa empat tahun lalu. Engkau  yang bisa mengubahku menjadi begitu mudah meneteskan air mata sekaligus tertawa saat mengingatmu. Engkau yang mmebuatku selangkah demi selangkah berusaha memperbaiki diri. Semakin mendekati Allah, Sang Pemilik Jiwaku.

Engkau, ya hanya engkau. Sosok yang tak mungkin bisa kujumpai. Ah, salah! Lebih tepatnya, Allah belum mengizinkanku untuk berjumpa lagi denganmu. Betapa menyakitkannya kenyataan itu. Dan, terasa semakin mengiris sukma ketika kau seolah tak peduli padaku. Sebanyak apapun surat yang akan kukirimkan ke inbox facebook-mu takkan pernah berbalas.

Aku sadar, kita laksana langit dan bumi. Segala yang aku miliki tak memenuhi kualifikasi apapun dalam hidupmu. Duniaku bukanlah duniamu yang sarat nilai-nilai ketuhanan. Duniaku ibarat sirkus alam. Penuh dengan permainan dan kelicikan. Taktik juga ujian.

Aku hanyalah serpihan debu yang ‘kan hilang dihembus sepoinya angin. Diri ini tak lebih dari sekadar pecahan masa lalu yang mungkin t’lah aus dalam memori hatimu. Namun, mengapa jiwaku tak jua memahaminya? Mengapa mengikhlaskanmu seolah mustahil bagiku?

Cinta. Benarkah itu rasaku padamu? Sungguhkah lima huruf itu yang membuatku bertahan delapan tahun ini? Hingga hanya kaulah yang ingin kutemui. Hingga namamulah yang selalu kusisipkan dalam doa-doaku padaNya. Dan, jika memang benar begitulah rasaku padamu, maka jangan biarkan itu mengotori hatimu. Jangan izinkan pertemuan kita tercipta, bila ‘kan menghancurkan hidupmu! Jangan biarkan bayangku hadir meski hanya dalam mimpi-mimpimu, bila itu ‘kan membuatmu menjauh dariNya. Sang Pemilik Cinta Sejati.

Aku mencintaimu dalam diam. Tak masalah delapan, sepuluh, atau bahkan seratus tahun. Biarlah kutanyakan seperti apa hakikatnya cintaku padamu. Dalam hening semesta juga riuhnya cakrawala ini.

Kupersembahkan tulisan ini untuk my Hospital Men: A. Kurnia.  

Rabu, 18 Juli 2012

Monev II (part. 2)


Kamis, 12 Juli 2012

Tiga lelaki paruh baya di podium itu membuatku terpesona. Bukan pada ketampanan mereka. Konyol jika ada yang berpikir begitu. Gaya bicara, cara menanggapi pertanyaan, juga humor-humor sederhana dari mereka memompa adrenalinku menjadi lebih bersemangat.

Ya, bersemangat! Bersemangat menjalani sisa hidupku. Bersemangat menjalankan apa yang telah menjadi tugasku. Bersemangat kembali mengukir senyum. Tak perlu mengingat kejadian semalam. Tak perlu berpikir negatif tentang pesrepsi yang mulai merebak. Jalankan tanggung jawab sepenuh hati. Ikhlas! Itulah yang kuperoleh hari ini.

Jumat, 13 Juli 2012

Toyota hitam ini meluncur cepat di jalanan yang relatif sepi. Maklum, jarum jam masih menunjukkan pukul 07.00 ketika kami mulai berangkat. Lhoong, tempat penugasanku menjadi salah satu tujuan tim pemonev kampus hari ini.  Sesuai kesepakatan kawan-kawan sekecamatan, lokasi monev akan diarahkan ke tiga sekolah, yaitu SD Krueng Kala, SMP 1 Lhoong, dan SMA 1 Lhoong. Pemilihan ketiganya berdasarkan letak juga kondisi sekolah.

Sepanjang perjalanan, Pak Subagyo dan Pak Hardjono (tim pemonev) tak henti memuji keindahan alam menuju Lhoong. Jalanan yang lebar, beraspal mulus, plus barisan pegunungan menghijau di sisi timur. Lautan membiru di sebelah barat dan kawanan sapi yang berkeliaran bebas di sepanjang jalan. Keduanya bahkan sengaja memotret jalan-jalan juga objek yang mereka anggap menarik.

Sekolah pertama yang kami kunjungi adalah SD Krueng Kala. Terletak di desa Tanah Anoe, sekolah ini bisa dikatakan cukup bagus. Ruang-ruang kelasnya berkeramik putih dan berdinding beton. Hasil pembangunan pasca tsunami. Ketika mobil yang saya tumpangi bersama tim pemonev hampir sampai di SD, sebuah pesan singkat masuk ke inbox Hp saya. Guru-guru di sekolahku belum pada datang, gimana nih? Demikian tulis Mas Ari, kawan sesama SM-3T yang bertugas di sekolah tersebut. Padahal, saat itu jam digital di Hp telah menunjukkan pukul 08.01 WIB. Saya pun jujur saja merasa was-was. Walau saya tahu seperti itulah kondisi di Lhoong. Guru bahkan kepala sekolah tak datang tepat waktu. Terkadang malah sengaja absen hanya untuk urusan sepele semacam kenduri.

“Bu Dwi tidak usah khawatir. Kami sudah paham permasalahan di sini. Hari ini kami hanya ingin bersilaturahmi dan menengok kondisi kawan-kawan SM-3T di kecamatan Lhoong,” tutur Pak Subagyo ketika saya menyampaikan SMS dari kawan.

Dan, memang benar. Pak Subagyo dan Pak Hardjono hanya berbincang biasa dengan kawan-kawan SM-3T yang sekolahnya dikunjungi. Selain itu, juga bertanya tentang peran kami, peserta SM-3T selama 6 bulan di lokasi tugas kepada kepala sekolah dan guru-guru. Monitoring dan evaluasi pun ditutup dengan sebuah motivasi dari keduanya agar kami memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya untuk tetap mengabdi sepenuh hati. Terima kasih, Pak Subagyo (Dekan FIS) dan Pak Hardjono (Dekan FIP) yang telah menyempatkan diri berkunjung ke Lhoong  ^_^

Minggu, 15 Juli 2012

Monev II (part 1)


Rabu, 11 Juli 2012
Sekali lagi aku terjebak di antara orang-orang yang bicara hanya dengan emosi  mereka. Tanpa logika, tanpa rasa saling menerima ataupun memiliki. Ingin rasanya aku bangkit dari tempat duduk, berlalu meninggalkan ruang yang beberapa jam lalu masih penuh kedamaian dan canda tawa ini. Namun, demi melihat tatap sayu penuh keletihan dua sosok di podium terdepan aku pun urung melangkah. Ya, mereka yang sedari tadi begitu sabar menghadapi rentetan pertanyaan, sanggahan, bahkan cacian.
Aku tak pernah tahu bila menyatukan hati begitu merepotkan. Aku juga tak jua mengerti, mengapa bersikap sportif seolah ‘hantu’ sebagian orang di ruang ini hingga mereka lebih memilih melawan daripada berkawan untuk sebuah hasil mufakat. Denda, kontribusi, atau apalah namanya.

Satu hal yang kupelajari malam ini. Dari sebuah ruangan dengan spanduk bertuliskan ‘Monitoring dan Evaluasi II SM-3T Aceh Besar 11-13 Juli 2012’. Betapa kita seringkali begitu dangkal melihat sesuatu. Hingga kita menjadi katak dalam tempurung. Bukan seorang fotografer yang mampu merekam indahnya hidup lewat lensanya.