Selamat Datang, Kawan!

Salam kenal,...
Selamat datang di blog kawanmu ini. Sebuah blog tentang catatan, memori, cerita, curhat kehidupan. Semoga karya-karya sederhana di sini bisa menghibur kawan-kawan. Enjoy this story, Friends. Thanks :D

ATTENTION

Hai, Kawan...
thanks udah mampir ke blog ini. mhn bantuan Kawan-kawan untuk tidak sembarang COPY/PASTE isi blog ini y. bila ingin mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan di blog ini silakan sertakan LINK-nya saja. Arigatou :)

Rabu, 16 September 2015

MY DREAM: 14

And who do you think you are?
Running round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart

“Bahasa Inggrismu jelek!”

Aku tersentak. Sontak menoleh. Di sampingku, ia tegap berdiri. Bibirnya mengulas senyum. Senyum yang seolah bertahun-tahun tak kulihat. Pun begitu dengan sepasang mata teduhnya. Ah, sejak kapan ia di sini? Kenapa aku tak menyadarinya?

“Aku ‘kan sudah berkali-kali bilang jangan menyanyi di sini dengan suara paraumu itu. Mereka bisa terbangun,” ujarnya seraya menunjuk deretan nisan di hadapan kami. Tangannya sigap meraih gitar yang sedari tadi kumainkan.

Aku mendengus. “Setelah sekian lama tak bertemu, apa itu satu-satunya kalimat yang bisa kau ucapkan?”

Ia tergelak. Sebelah tangannya mengacak rambutku pelan. “Maaf. Perasaanmu sepertinya sedang tidak baik,”

Aku menghela napas. Pasti dia sudah tahu masalah apa yang kubawa kali ini. Dia hanya menungguku bercerita. Sesuatu yang benar-benar kubutuhkan saat ini. Ya karena tak mungkin bercerita kepada ibu. Apalagi Kak Shin. Kakakku itu pasti akan berceramah panjang lebar bahkan sebelum ceritaku usai. Seakan aku ini anak umur enam tahun yang tak tahu apa-apa. Membosankan!

“Apa yang kau lakukan kalau orang yang kau percaya ternyata berbohong bahkan tega mengkhianatimu? Sahabatmu, misalnya.”

Kutatap Embun. Keningnya berkerut. “Hmm… apa, ya? Kau sendiri, apa yang akan kau lakukan?”

Aku cemberut. Selalu begitu. Pertanyaanku akan ia kembalikan padaku. Ia selalu memintaku berpikir atau mungkin itu cara dia agar aku lebih banyak bercerita.

Aku mengembuskan napas.

“Sekali dua kali aku masih bisa menerima sebuah kebohongan. Aku selalu berpikir setiap orang punya alasan hingga mereka bisa berbohong. Mereka pasti punya sesuatu yang ingin dilindungi hingga harus berbohong. Jadi, aku pun memilih diam dan memaafkan kebohongan itu,…”

Embun terdiam. Sepasang mata hitamnya menatapku lembut. “Lalu?”

“Namun, ketika kebohongan itu lagi-lagi terjadi, bahkan dibarengi dengan pengkhianatan, aku tak tahu harus bagaimana menghadapinya? Apa aku masih bisa percaya? Kalau iya, mengapa itu justru terasa menyakitkan?”

Suaraku mendadak serak. Ada yang menyeruak di dadaku. Pedih. Sesak. Aku baru tahu kalau dibohongi sahabatmu jauh lebih mengerikan daripada patah hati karena ditolak orang yang kau suka.

“Melankolis. Kau masih saja begitu.” Tukas Embun dingin.

Aku berdecak sebal. Terserah apa katanya. Saat ini aku hanya ingin bercerita, menumpahkan segala yang kurasakan.

“Cepatlah menjauh! Kalau kau merasa itu menyakitkan, maka cepatlah menjauh! Tak ada gunanya bertahan. Itu hanya akan membuatmu terus hidup dalam kepura-puraan.”

Aku tercengang. “Hei! Apa kau baru saja menyuruhku untuk melarikan diri? Menghindar dari masalah?”

Embun memandangku lekat. “Menjauh tak selalu berarti melarikan diri, Kawan. Apalagi melupakan dia. Anggap saja kau sedang mengambil jeda. Berusaha kembali menata keping hatimu. Entah pada akhirnya kau akan menerima ia lagi atau justru benar-benar pergi dari hidupnya, itu pilihanmu.”

“Kalau aku menerima ia sebagai sahabat lalu ia kembali berbohong dan mngkhianatiku bagaimana?”

Embun tersenyum. Bangkit dari tempatnya.

“Saat itu terjadi, maka kau akan tahu apa jawabannya.” Ujarnya seraya menepuk bahuku perlahan. Detik berikutnya, kaki Embun melangkah. Gegas menyambut Tuan Kabut yang menyapanya dari kejauhan.

Aku tercenung.


“O iya… jangan lupa perbaiki bahasa Inggrismu!” seru Embun sebelum benar-benar menghilang dari hadapanku.

Jumat, 07 Maret 2014

MY DREAM: 13



Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk di sampingku, Kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan

“Hentikan!”

Aku terhenyak. Sontak jemariku berhenti memetik dawai. Mataku yang terpaku pada jejeran nisan serta merta beralih pada sumber suara. Dan di sana, dia berdiri tegap. Setelah berbulan-bulan tak bertemu, kini kulihat lagi sosoknya. Masih sama. Tatap mata juga senyum itu. Gegas dia mendekatiku. Sebelah tangannya sigap meraih gitar yang sedari tadi kumainkan.

Aku cemberut. Pengganggu!

“Bukankah sudah kukatakan berkali-kali, suaramu itu parau. Kau bisa membangunkan mereka dengan suara itu!” serunya seraya menunjuk nisan-nisan di hadapan kami.

Bibirku mengerucut. Suaraku memang buruk, tapi apa dia tak bisa sedikit berpura-pura tak tahu dan membiarkanku menyanyi? Sekali ini saja. Aku ingin melupakan duniaku dan larut dalam nyanyian. Sekali ini saja biarkan aku terlelap dalam selimut kelam malam. Sekali ini saja.

Mataku mulai terpejam. Sesaat hening kurasa.

 “Kau… benar-benar lelah, ya?”

Aku membuka mata. Embun setia di sebelahku. Tatapannya teduh, menyejukkan. Perlahan sebelah tangannya terulur, mengusap lembut kepalaku. Detik berikutnya, tangan itu telah membawaku bersandar di dadanya. Damai menyergapku. Perasaan yang telah sedemikian lama tak kurasakan. Ah, mungkin aku memang tak punya ruang untuk merasakan damai. Ya, makhluk jahat sepertiku memang tidak punya hak untuk itu!

Jahat? Apa maksudmu?” lagi-lagi Embun bertanya. Aku duduk tegak. Dia selalu bisa membaca pikiranku.

“Tanpa kujelaskan pun, kau pasti tahu ‘kan? Aku ini jahat. Aku bukan teman yang baik. Teman yang bisa melindungi temannya, seseorang yang bisa menjaga hubungan orang-orang di sekitarnya. Aku bukan orang seperti itu. Aku....”

Suaraku tercekat. Apa yang terjadi akhir-akhir ini benar-benar membuatku ingin lari, tenggelam, atau bahkan lenyap dari dunia.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”

Aku menoleh. Apa yang akan kulakukan? Rasa bersalah ini, bagaimana caraku menghilangkannya?

“Kalau aku minta maaf, apa dia akan menerimanya? Apa dengan begitu aku tidak akan dianggap jahat lagi?”

Embun menatapku. Bibirnya menyunggingkan senyum. “Tak perlu berpikir begitu.”

Aku mengernyit.

“Kalau kau merasa bersalah, minta maaflah. Tak perlu berpikir apakah dia menerimanya atau tidak. Sejujurnya, yang terpenting, bukanlah apa yang kau ucapkan, tetapi apa yang ada di hatimu. Percuma kau dan dia saling meminta maaf, tapi masih ada dendam dan rasa tak ikhlas di hati kalian. Bukankah begitu?”

Aku menghembuskan nafas keras. Kata-kata Embun barusan benar-benar menohokku. Benar yang ia katakan. Percuma minta maaf kalau hatiku tak ingin melakukannya.

“Satu hal lagi. Berhenti selalu merasa bersalah. Kita ini bukan Tuhan. Tak semua hal berjalan sesuai keinginan kita. Wajar kok kalau sesekali berbuat salah.”

Embun kembali tersenyum. Dari kejauhan, kulihat Tuan Kabut melambaikan tangannya.


Selasa, 04 Maret 2014

Di Akhir Perjalanan


Dear Kawan,
Saya tidak tahu kapan kalian akan membaca surat ini. Saya juga tak ingin membayangkan apakah kalian bersedia membaca tulisan ini hingga selesai atau tidak. Ketika mulai mengetik kata-kata ini, hanya ada satu yang terbersit di hati. Bahwa saya harus memberitahukannya kepada kalian. Ya, setidaknya di sisa usia yang entah sampai kapan. Saya tidak ingin menyesal ketika ajal menjemput. Apalagi belum tentu saya bisa kembali berjumpa dengan kalian.

Kawanku yang baik,
Satu tahun telah berlalu. Ada banyak hal telah kita lewati. Ada banyak cerita yang telah kita ukir. Orang bisa saja menganggap itu sebuah drama atau telenovela. Namun, saya lebih senang menganggapnya sebagai sebuah pengalaman. Pengalaman yang memberi saya banyak pelajaran berharga.

Bersama kalian, saya belajar menjadi seseorang yang lebih ‘bersahabat’. Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang senang mengobrol, bercanda, atau bahkan membicarakan hal-hal sepele. Saya adalah orang yang cenderung mengucilkan diri. Sibuk dengan dunia sendiri. Dunia yang sunyi tanpa tawa. Dunia yang hanya diisi oleh saya dan angan-angan tentang sebuah dunia tanpa perang ataupun pertengkaran.

Namun, perlahan kalian memperkenalkan dunia baru. Dunia yang mengajarkan saya cara tersenyum dari hati. Dunia yang menjadikan saya berpikir lebih praktis, tak rumit seperti yang selama ini terjadi. Dunia penuh warna, tak hanya hitam ataupun putih. Sebuah dunia yang menganggap kesalahan adalah hal wajar bagi setiap insan.

Bersama kalian saya tahu bagaimana cara mengontrol emosi. Saya tahu kapan saat tepat untuk mengeskspresikannya. Ya, meskipun hingga saat ini menejemen emosi saya masih tergolong payah. Nasihat, saran, juga kritik dari kalian adalah anugrah bagi perjalanan meniti impian saya. Kalian juga menyadarkan saya bahwa sesungguhnya sabar tak punya batas. Kita sebagai manusialah yang membatasinya.

Kawanku,
Terima kasih. Betapa banyak yang telah kalian berikan untuk saya. Betapa berharga hari-hari yang saya lalui bersama kalian. Mungkin masa-masa ini tidak akan pernah terulang lagi. Bisa jadi kita tak lagi bersua, bercanda, dan menangis bersama. Walau begitu, kenangan bersama kalian akan menjadi keping berharga yang tersimpan di kotak terindah di hati saya.

Saya sadar, betapa banyak kekurangan dalam diri ini. Betapa saya belum bisa menjadi kawan yang baik untuk kalian, bahkan hingga saat-saat terakhir kita. Betapa keegoisan seringkali menahan saya untuk sekadar menyapa, bertanya apakah hari ini kalian bahagia. Dan, untuk semua itu, saya minta maaf.

Maaf karena sampai detik terakhir perjumpaan, masih saja ada kesalahan yang saya perbuat. Maaf karena belum mampu menjaga lisan ini agar tak menyakiti hati kalian. Maaf karena hati ini terkadang belum begitu lapang menerima curahan hati kalian. Maaf pula karena telinga ini belum cukup terbuka mendengarkan keluh kesah kalian.

Kawanku,
Biarlah saya akhiri surat ini dengan sebaris doa juga harapan. Semoga di manapun berada, kebahagiaan senantiasa menemani hari-hari kalian. Semoga Tuhan senantiasa bersama impian-impian kalian. Semoga senyum senantiasa menghiasi perjalanan kalian. Jangan pernah menyerah, Kawan. Karena menyerah hanya milik mereka yang kalah.

Kawanku,
Takkan ada ucapan selamat tinggal di antara kita karena yang ‘kan kuucapkan hanyalah, “Sampai Jumpa, Kawan.”

Kawanmu selalu,

Dwi


Jumat, 04 Oktober 2013

Aku dan Dirimu

Ada yang hilang
Ketika kita tak lagi saling menyapa
meski waktu
seringkali buat berjumpa

Ada yang lenyap
Saat senyummu tak lagi kudapat
meski ruang
acapkali impikan kita saling tertawa

Ah, Kawan
mungkin naif t'lah jadi
sobat abadi ragaku
hingga penolakanmu seolah sembilu di jiwaku
hingga keterpaksaanmu ibarat racun di sunyinya duniaku

"Kita berbeda!"
ucapmu selalu

Sebuah fakta yang sampai kini
tak jua kuterima

Karena bagiku,
aku, kau, dan mereka
Kita sama

Pilihan kita tentang dunia,
itulah yang berbeda


Sabtu, 28 September 2013

MY DREAM: 12


Dia tersenyum. Seperti biasa. Sepasang mata hitamnya yang sejuk lembut menatapku. Tatapan yang justru membuatku kikuk, serba salah. Ah, aku ini masih saja mengulang kesalahan yang sama. Datang padanya ketika merasa dunia tak lagi peduli padaku. Saat semua orang menganggapku sebagai bayangan yang ‘kan hilang seiring padamnya cahaya.

“Kau ini selalu lupa. Bukankah sudah kukatakan, aku tak pernah peduli alasanmu datang kesini!” serunya seraya memasang raut cemberut. Bibirnya mengerucut. Ekspresi yang baru pertama kali ia tampilkan padaku.

Aku tergelak. Gegas menghampiri bangku panjang di bawah rindang cemara tempatnya bersandar.

“Lucu.” Ujarku di sela tawa. Dia tersenyum. Teduh.

“Yah… setidaknya itu membuatmu merasa lebih santai ‘kan?”

Keningku berkerut. “Maksudmu?”

“Entah benar atau tidak, tapi mungkin saja kau merasa sebuah perubahan besar sedang terjadi dalam dirimu,”

Ekspresiku masih sama.

Perlahan tangannya terulur, mengusap lembut kepalaku.

“Bukankah akhir-akhir ini seseorang membuatmu seringkali menangis? Kau merasa ditinggalkan, kecewa, kesal, bahkan marah karena dia tak pernah mau memahamimu juga orang-orang di sekelilingmu?”

Mataku melebar.

“Tiba-tiba saja kau menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Tanpa senyum, dingin, lebih memilih diam justru ketika orang menginginkan kau berkata-kata.”

Aku menghela napas. Dia selalu tahu tentangku. “Jadi, menurutmu aku pasti salah ‘kan?”

Dia berdecak pelan. “Kekanak-kanakan.”

Aku membisu. Jejeran nisan seolah menertawakanku dalam beku. Sementara tak jauh dari tempatku, Tuan Angin melempar senyum yang bagiku tampak seperti seringai di gulitanya malam. Dan, demi melihat semua itu, mataku berkaca-kaca. Situasi yang sungguh menyebalkan!

Embun kembali mengusap kepalaku. Perlahan.

“Tak ada yang salah. Ketika kau kecewa, kesal, bahkan marah, itu wajar. Kau manusia, punya emosi, punya hati. Jangan disesali.”

“Tapi, tadi kau bilang aku….”

“Yap…. Kekanak-kanakan. Kekanak-kanakan karena kekesalan juga amarah seringkali kau tunjukkan tidak pada waktunya. Kekanak-kanakan karena kau lebih sering mendengarkan suara-suara yang seringkali membawamu pada prasangka yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Satu lagi,  kau juga memilih tempat yang salah. Itu takkan pernah menyelesaikan masalah.” tuturnya lembut.

Aku menatap matanya. “Lalu, menurutmu apa yang harus kulakukan? Berpura-pura tersenyum, menyembunyikan semua emosi yang bergejolak di hati? Atau lebih baik tak usah peduli? Menganggap kalau sumber dari semua sikap kekanak-kanakkanku itu tak ada?”

Dia tergelak. Lantas berdiri seraya menatap semesta yang mulai menggeliat bangun.

“Bukankah hidup itu sandiwara? Jadi, bersandiwaralah di saat dan tempat yang tepat.”

Embun berjalan menjauh, merangkul Tuan Angin, lalu perlahan menghilang.


Tatapanku kabur. 

Kamis, 16 Mei 2013

C-I-N-T-A, 5 Huruf Penuh Inspirasi



Pernahkah engkau sejenak mengingat aku
Pernahkah ingat walau seperti angin berlalu….

Bicara tentang cinta ibarat menghitung debu di tepian pantai. Takkan pernah ada habisnya. Mungkin itu alasan kenapa begitu banyak lagu tentang cinta bertebaran di radio ataupun televisi. Cinta bisa membuat si ceria diliputi kebimbangan, mampu mengubah si kasar jadi lembut tutur bahasanya. Meski tak jarang juga menerbitkan tetesan air mata.

C-I-N-T-A. Lima huruf yang bagi saya penuh cerita. Begitu sering saya mendengar kisah cinta orang-orang di sekitar. Dalam kasus ini, tentu saja cinta kepada seseorang. Banyak yang gundah. Namun, tak sedikit yang tersenyum karenanya. Ragam ekspresi cinta dari mereka tak urung membuat saya bertanya, apa itu cinta? Sebuah pertanyaan yang akhirnya membawa saya pada kenangan tentang seseorang.

Saya pertama bertemu dengannya di awal kelas dua SMA. Sederhana, nggak neko-neko, religius, dan agak idealis. Demikianlah kesan tentang dia. Entah sejak kapan saya jadi kerap mengamatinya. Tersenyum ketika mengingat tingkah lugunya. Apalagi ketika di kelas tiga kami sekelas. Hal-hal sepele seperti piket kebersihan bersamanya menjadi sesuatu yang begitu membahagiakan hati. Sungguh, saya pasti sedikit tak waras saat itu!
Jujur saja saya tak pernah yakin inilah jatuh cinta. Acapkali saya berpikir bila itu hanyalah sebentuk kepedulian. Mungkin pula sekadar kekaguman. Layaknya fans pada sang idola. Namun, ketika saya tak lagi bertemu dengan dia setelah hari kelulusan, sesuatu menyeruak dalam hati. Sesuatu yang membuat saya ingin melihatnya lagi. Sesuatu bernama kerinduan.

Ya… saya merindukan dia. Tidak. Lebih tepat, saya jatuh cinta padanya. Cinta yang indah karena meski telah melintasi separuh cakrawala, bayangnya tak jua menjauh. Walau menutup mata, senyumnya tak lantas memudar. Cinta itu pula yang membawa sebongkah keberanian. Dan, saya melakukan hal paling konyol seperti dalam drama-drama FTV. Tokoh wanita menyatakan perasaan pada tokoh pria lewat sepucuk surat, via jejaring sosial pula. Ah, betapa lucunya!

C-I-N-T-A. Lima huruf penuh inspirasi. Cinta membuat saya tahu betapa berwarna hidup ini. Cinta mengajarkan saya apa itu peduli. Cinta jua yang menuntun saya pada satu kata. Ikhlas. Berusaha menerima sebuah penolakan, berupaya memahami bahwa harapan tak selalu berujung pada sebuah kenyataan. Sakit memang. Namun, dunia tak berakhir hanya karena cinta ‘kan?

Cinta saya padanya, kerinduan selama delapan tahun ini adalah anugerah Tuhan. Tak perlu disesali, hanya butuh direnungkan. Bahwa cinta bukanlah sesuatu yang absurd. Dia nyata. Dia ada untuk membimbing kita pada cinta lain yang jauh lebih agung. Cinta kepada Sang Maha Cinta.

(catatan ini diikutsertakan dalam ajang Cinta#EnF grup Erin n Friends dengan admin Reni Erina dan dimuat dalam blog http://bundaerin.blogspot.com/2013_02_01_archive.html)

Nama Yang Paling Berharga



Saya tercenung menatap layar televisi Senin malam itu. Bukan karena penampilan boys dan girlbands  negeri Gingseng yang tengah mendendangkan lagu-lagu favorit saya. Bukan pula karena kesunyian yang tercipta seiring jarum jam dinding yang merangkak ke angka 12.  

Sebaris tulisan. Ya… tulisan ketika jeda iklan usai dan konser kembali dimulai. Tulisan beserta foto para personel boys dan girlbands dari sebuah agensi ternama.

Apa nama paling berharga di dunia ini?

Sederhana. Hanya satu kalimat. Cukup sebuah pertanyaan. Dan, saya pun acuh. Lebih tertarik pada suguhan konser nan menawan. Namun, ketika tulisan tersebut berkali-kali muncul, mau tak mau saya jadi merenung. Ya…. Apa nama paling berharga di dunia ini?

Saya bahkan mungkin kita pasti punya beragam versi jawaban. Bagi mereka yang tengah jatuh cinta, sang kekasih adalah nama yang paling berharga. Akan tetapi, untuk para fans, idola mereka bisa jadi nama yang paling berharga.

Malam itu, saya melihat jawaban lain. Jawaban yang jujur tak pernah terlintas dalam benak ini.

Apa nama paling berharga di dunia ini?
Nama yang paling berharga adalah….
Keluarga.

Nama yang paling berharga
Adalah…. Teman.

Keluarga. Sederhana memang. Mungkin sebagian dari kita tak menganggapnya sebagai sesuatu yang berharga. Mereka yang notabene hidup di tengah keluarga broken home mungkin akan serta merta menampik pernyataan itu. Bagi mereka, keluarga hanyalah biang keributan. Rumah tak lebih dari sebuah bangunan tanpa nyawa, penuh kisah bertabur air mata atau ketidakpedulian. Saya pribadi pernah beranggapan sama. Namun, pertanyaan di sela konser tersebut justru pada akhirnya memunculkan sederet kenangan tentang apa yang sudah saya dapatkan dari keluarga. Betapa ternyata satu-satunya tempat pulang ketika tak ada lagi yang mau mendengarkan cerita kita hanyalah keluarga. Betapa hanya merekalah yang siap menghapus peluh dan hujan di hati kita tanpa mengharap imbalan apapun. Dan, saya pun tiba-tiba malu. Malu karena belum bisa memberikan apapun untuk orang tua dan saudara-saudara. Malu karena tangan ini seringkali malas menekan angka-angka di handphone untuk sekadar menyapa mereka.

Tentang teman. Ini membuat saya teringat pada ucapan seorang kawan. Dia pernah meminta saya untuk tidak pernah mengucapkan selamat tinggal pada mereka yang entah secara langsung maupun tidak telah menyakiti hati ini. Menurutnya, teman tetaplah teman. Biarpun sedikit,  mereka pernah menjadi sosok-sosok yang mewarnai hari-hari ini. Mereka tanpa kita sadari telah memberi banyak pengalaman sekaligus pelajaran tentang bagaimana menjalani hidup ini. Lebih dari itu, mereka adalah salah satu inspirasi yang menuntun kita pada tangga bernama kedewasaan. 

Kita boleh saja berpikir mampu menjalani hidup ini tanpa teman. Sah-sah saja kalau kita berkata, “Tak ada yang mampu memahamiku selain diriku sendiri.” Namun, pernahkah kita merenung bahwa apa yang kita peroleh hari ini tak lepas dari dukungan teman?

Sekali lagi, saya pun merasa malu. Malu karena ternyata belum bisa menjadi seorang teman yang baik. Malu karena lebih sering meminta teman untuk memahami diri ini daripada berusaha mengerti apa sesungguhnya diinginkan oleh mereka.

Dan, biarlah saya akhiri tulisan ini dengan pertanyaan.

Apa nama yang paling berharga di dunia ini, Kawan?

Jumat, 18 Januari 2013

MY DREAM:11



Aku menggigiti kuku. Entah untuk yang keberapa kali dalam satu jam ini. Kebiasaan buruk bila kegelisahan mulai menyergap. Di sampingku, Embun setia duduk bersedekap. Tatapannya lurus, memandang jejeran nisan dengan ilalang yang kian meninggi.

“Aku sudah membaca suratmu.” Ujarnya memecah kesunyian. Aku menghela napas, sudah menduga kalimatnya. Yah… sebentar lagi dia pasti akan tertawa. Aku memang konyol, bercerita tentang kisah cinta melankolis seperti dalam drama-drama FTV padanya. Kisah cinta yang berakhir pada dua kata. Patah hati.

Huft…aku memang bukan Cinderella si memikat pangeran di pesta topeng. Aku juga bukan Snow White yang dibebaskan pria tampan dari sihir jahat. Bukan pula Dayang Sumbi, gadis cantik nan menawan Bandung Bondowoso. Mungkin benar kata seorang temanku, pria baik memang hanya ada dalam dongeng pengantar tidur.

“Kau ini suka sekali melamunkan hal-hal tak penting!” tegur Embun membuatku tergeragap. Kembali ke dunia nyata. Aku nyengir menatap Embun yang tampak kesal. Ups, jangan-jangan karena terlalu asyik melamun aku tak mendengar kata-kata ataupun pertanyaannya lagi. Seperti biasa.

“Jadi, apa tujuanmu menulis surat itu? Aku yakin bukan sekadar ingin curhat tentang patah hatimu. “ tanya Embun serius.

Aku tergelak. Inilah bedanya Embun dengan kawan-kawanku. Siapapun yang membaca suratku akan berpikir itu tak lebih dari tulisan kesedihan seorang gadis patah hati. Namun, Embun mampu melihat hal lain dari coretanku.

“Banyak yang bilang cinta itu absurd. Aku percaya itu, tapi aku juga yakin kalau cinta itu konkret. Dia nyata, tak hanya dirasakan, bisa pula kita lihat. Dan, cintaku pada orang itu membuatku melihat cinta yang lain. Cinta yang jauh lebih hebat. Cinta yang menjadikan air mata tak semata bentuk emosi. Cinta yang mampu menggetarkan semesta ini. Cinta yang…”

“Cinta yang membuatmu merasa seperti seorang pengkhianat,” tukas Embun cepat. Aku terpana menatapnya. Ya, dia benar. Tepat seperti yang kutulis. Aku memang merasa seperti pengkhianat. Semakin nyata cinta itu, semakin besar rasa bersalah bersarang di hatiku.

“Lupakan tentang pengkhianat atau apapun istilah yang kau ciptakan. Jatuh cinta bukan kesalahan. Kau sendiri menulis bahwa itu fitrah. Jadi, kenapa harus merasa berkhianat?” Embun menggenggam jemariku lembut.

“Kesalahan terbesar manusia ketika ia jatuh cinta adalah dia lupa siapa pencipta cinta sesungguhnya. Dia lupa seperti apa cinta sejati itu. Dia hanya menatap apa yang ada di hadapannya, bukan siapa yang ada di baliknya. Dan, aku yakin hatimu tak memilih jalan itu.”

Aku menghela napas. “Aku hanya perlu belajar. Belajar memaknai cinta dari sudut pandang lain hingga tak perlu merasa seperti pengkhianat. Begitukah?”

Embun tersenyum.

“Kau punya PR lain yang perlu kaupikirkan. Hmm… bagaimana bila dia yang membuatmu patah hati ternyata membaca surat itu?” tanya Embun seraya mengerling jenaka.

Aku tercengang. Samar kulihat Tuan Kabut mulai mendekat.

Sabtu, 29 Desember 2012

MY DREAM:10



Aku patah hati.
Ah, betapa lucunya!

Sungguh aku malu mengakuinya padamu, Kawan. Mungkin itu sebabnya aku hanya berani menulis lewat surat ini. Selembar kertas yang ‘kan penuh dengan coretan bertitel ‘patah hati’.

Aku patah hati.
Masih lekat dalam ingatan, sebongkah keberanian yang susah payah kubangun ketika mengutarakan rasaku padanya. Tentang sebentuk kepedulian juga harapan di masa lampau untuknya. Pun keping-keping kenangan yang t’lah tercipta antara kami.

Aku patah hati.
Sejujurnya, aku tak pernah yakin rasa itu adalah cinta. Bisa jadi hanya setitik kekaguman atau sekadar hasrat yang sekilas melintas. Ibarat badai kecil di tengah kedamaian alam. Bertahun-tahun, aku berpikir. Kucoba merenung, berusaha meyakini apa yang kurasa.

Aku patah hati.
Ketika akhirnya kutemukan satu jawaban, tiba-tiba saja sesal menghantui. Ya, aku memang mencintainya. Cinta yang indah karena meski telah kulintasi separuh cakrawala, bayangnya tak jua menjauh. Walau kututup mata, senyumnya tak serta merta memudar. Ya, aku mencintainya. Dan, cinta itu pula yang membuatku tersiksa. Sejuta sembilu seolah menghujam nadiku tiap mengingatnya.

Aku patah hati.
Sakit ini, mungkinkah karena sebaris maaf yang ia ucapkan? Ataukah karena hatinya tak pernah menggoreskan namaku? Bila memang benar demikian, kenapa kini aku justru tertawa? Ya, aku tertawa. Lebih tepatnya, menertawakan rasa yang bertumpuk delapan tahun ini. Rasa yang berujung pada muara bernama penyesalan.

Aku patah hati.
Bukan cintaku padanya yang kusesali, Kawan. Bukan pula kenangan antara kami. Sesal ini karena Dia. Rasaku padanya, perenunganku, membuatku bertanya, “Bagaimana mungkin aku jauh lebih sering mengingat dia daripada Dia? Bagaimana mungkin air mataku jatuh lebih deras ketika mengucap namanya daripada Dia?Aku tahu rasaku padanya tak salah. Itu fitrah. Namun, mengapa aku malah merasa seperti seorang pengkhianat?

Aku patah hati.
Ah, betapa lucunya!
Salam,
Kawanmu

Embun melipat perlahan selembar kertas di tangannya. Bibirnya mengulas sebentuk senyuman.

“Anak itu benar-benar keterlaluan!”

Satu suara sontak membuat Embun menoleh. Di sebelahnya, Tuan Kabut tahu-tahu sudah duduk seraya melipat kedua tangan.

“Maksudmu?” Embun tak mengerti.

“Ya, keterlaluan! Bukankah biasanya dia datang bercerita padamu, mengeluh dari A sampai Z tentang hidupnya? Lalu sekarang, berani sekali dia hanya mengirimkan surat untukmu. Lewat Tuan Angin pula. Seolah tak lagi membutuhkanmu.”

Embun tergelak. “Bukankah itu bagus? Dia mulai tak terlalu bergantung padaku,”

“Payah kau! Bagus memang bila dia tak tergantung padamu. Dia semakin menapak ke tangga yang lebih tinggi. Akan tetapi, jika dia mulai tak membutuhkanmu, maka kau akan menghilang. Itulah hukum yang ada.”

“Bukankah itu bagus?” lagi-lagi Embun mengulang tanya yang sama. Tuan Kabut menatapnya tak percaya.
“Masih banyak yang harus kuurus selain dia. Lagipula tiap pertemuan pasti berujung pada perpisahan,”

Tuan Kabut membisu.

“Manusia memang senang berkeluh kesah. Dan, kitalah salah satu tempat mereka berkeluh kesah. Entah dengan cara seperti apa. Jadi, kita nikmati saja tugas ini layaknya Bibi Mentari yang setia menyapa Paman Fajar. Pasti itu kalimatmu selanjutnya.” Tebak Tuan Kabut.

Embun tergelak lagi. Perlahan dia bangkit dari bangku kayu. Kedua tangannya terentang menyambut semesta yang mulai memerah.

Kamis, 20 Desember 2012

Malaikat-Malaikat Di Sisi Saya



Ini bukan fiksi tentang seorang gadis yang secara tiba-tiba bertemu malaikat seperti di komik-komik. Bukan pula kisah religius antara manusia dan Tuhan-Nya. Ini hanyalah catatan kecil mengenai orang-orang di sekitar saya. Sosok-sosok di luar ayah, ibu juga keluarga yang mengajarkan hal-hal sederhana, tapi luar biasa berharga. Dan, saya percaya apa yang saya peroleh hari ini tak lepas dari motivasi juga semangat dari mereka.

Pak Teguh Wibowo. Saya mengenal beliau ketika duduk di bangku kelas I SMA. Guru bahasa Indonesia yang awalnya begitu menakutkan (maaf, Pak J). Beliau jarang tersenyum maupun bercanda saat mengajar. Reputasi sebagai guru yang sering memberi tugas, entah PR, kliping, maupun liputan kegiatan di luar sekolah membuat siswa-siswa merasa segan dan cenderung menjauh, termasuk saya. Apalagi ketika suatu hari, beliau dengan wajah kaku meminta saya keluar kelas karena lupa mengerjakan PR. Malu, kesal, bingung jadi satu karena itu kali pertama saya dikeluarkan dari kelas oleh seorang guru. Sebuah hukuman yang lantas membuat saya berjanji untuk menjadi siswa yang bisa lebih dekat dengan beliau.

Sedikit demi sedikit saya pun membangun komunikasi dengan beliau. Sambil mengabaikan rasa takut akan ekpresi kaku beliau. Kerap saya bertanya tentang tugas-tugas yang terkadang membingungkan di kelas. Apalagi secara kebetulan, Pak Teguh juga menjadi pembimbing di ekskul jurnalistik yang saya ikuti. Seiring waktu, saya lebih mengenal sosok beliau. Ternyata beliau yang semula begitu menyeramkan sebenarnya ramah dan punya kepedulian besar terhadap siswa-siswanya. Pak Teguh juga sosok sederhana yang selalu memotivasi kami untuk berjuang meraih mimpi dan menghilangkan rasa iri. Satu kalimat beliau yang tak pernah saya lupa, “Jadikan kelebihan orang lain sebagai sarana untuk menutupi kekurangan kita. Dan, jadikan kekurangan orang lain sebagai sarana untuk membuat kita belajar memperbaiki diri.

Saya seringkali berharap punya kakak laki-laki. Bukan karena kakak perempuan saya terlalu cerewet atau tak asyik diajak mengobrol. Bagi saya, kakak laki-laki bisa menjadi pelindung sekaligus penasihat tentang masalah-masalah yang perlu logika., misalnya saja urusan persahabatan atau cinta. Yah…maklum saja curhat dengan perempuan terkadang membuat masalah makin sentimentil. Keinginan untuk memiliki seorang kakak laki-laki acapkali saya sampaikan pada Allah lewat doa-doa setelah salat. Hal yang sebenarnya konyol J

Sampai suatu ketika, di kelas II SMA saya mengenal dia. Seorang alumni yang juga aktif sebagai pembimbing kawan-kawan putra di kerohanian Islam sekolah. Mas Illal Albab, demikian kawan-kawan biasa menyapanya. Sederhana, idealis, tapi juga humoris begitulah gambaran kakak tingkat saya ini. Dari ngobrol seputar agama lambat laun saya lebih mengenal sosok Mas Illal. Kami pun jadi dekat. Saya bahkan tak segan untuk curhat tentang masalah di rumah. Persoalan yang memang tengah menghantam saya ketika itu.

Saya belajar banyak hal dari Mas Illal dan Mbak Dian, sang istri, tentang kehidupan ini. Mereka yang setia mendengarkan tiap keluh kesah telah mengajarkan arti kesabaran kepada saya. Sebagai suami istri yang memulai kehidupan dari titik nol, mereka juga telah menanamkan semangat pantang menyerah dan kerja keras. Dan, saat ini mereka membuat saya kagum dengan kegigihan dalam membangun pendidikan di tengah segala keterbatasan. Mas Illal dan Mbak Dian bagi saya bukan sekadar teman ataupun sahabat. Mereka telah menjelma menjadi kakak. Sosok saudara yang senantiasa siap mengulurkan tangan di waktu saya terjatuh, butuh afirmasi.

Ummi Ashim Azzahra, Trie Agustina, Retno Nurcahyani, Erna, dan Dwi Purwanti. Sederet nama dari masa SMA yang takkan saya lupa. Teman-teman putra di Rohis seringkali menjuluki kami F4 (seharusnya F6 :D) SMA 2. Alasannya, kami selalu beriringan kemanapun pergi termasuk ke toilet hehe..

Mungkin kami hanya bersama dua tahun, tapi banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan. Dari mereka, saya tahu betapa pentingnya pengendalian emosi. Saya juga belajar tentang aturan agama termasuk batasan pergaulan sesuai syariat. Ketika saya merasa Allah memberikan cobaan begitu berat, mereka senantiasa menguatkan, mengingatkan bahwa selalu ada hikmah tersembunyi di balik semua ini. Bersama Ummi, Trie, Retno, Erna, juga Mbak Pur masa-masa SMA terasa jauh bermakna. Terima kasih, Kawan J

Malaikat-malaikat di sisi saya selanjutnya adalah B-costers dan sahabat-sahabat kuliah (Mbak Niky, Asput, dan mbak Ceskha). B-costers terdiri atas Mbak Dedis, Mbak Riedha, Mbak Niky, Dek Rizka, Dek Dezy, Dek Sekar, dan Dek Listy. Mereka teman-teman kos terbaik yang Allah berikan bagi saya. Selama tiga tahun kami berbagi suka duka, tawa-air mata. Begitu pula ketika bersama sahabat-sahabat kuliah saya. Pertengkaran, perdebatan, bahkan terkadang perseteruan kerap mengisi hari-hari kami. Egoisme berpadu dengan kekonyolan plus kecerobohan bagai warna-warni pelangi. Namun, semua tak lantas membuat kami saling membenci. Justru rasa saling memahami dan menerima-lah yang tumbuh sedikit demi sedikit. Memang ada beberapa kisah tak berakhir indah. Akan tetapi, kenangan tentang manisnya perjuangan masa-masa kos dan kuliah adalah salah satu hal yang memotivasi saya untuk bertahan hidup hingga detik ini. Dari mereka, saya tahu indahnya persahabatan. Dari mereka, saya belajar menekan individualisme diri. Dari mereka juga saya mengerti bahwa masalah tercipta untuk mendewasakan kita, Kawan.

Terakhir, meski bukan paling akhir, satu sosok malaikat dalam hidup saya adalah dia. Ksatria cinta pertama saya. Dia tipe orang sederhana, nggak neko-neko, religius, juga gigih. Selama delapan tahun jujur saja hanya dia yang mengisi hati saya. Bukan bermaksud mellow atau galau, tapi saya menyertakan dia dalam daftar ini karena memang ada inspirasi darinya. Ketika hati ini mulai menorehkan namanya, saya tahu seperti apa indah cinta. Sewaktu berpisah dengannya di hari kelulusan, saya merasakan apa itu hampa. Dan, saat dia dengan tegas menolak perasaan yang sudah mengkristal di hati ini delapan tahun, saya belajar apa itu ikhlas. Akhirnya, kenangan tentang dia menjadi salah satu dari sekian hal berharga dalam hidup.

Itulah malaikat-malaikat di sisi saya. Anugerah Allah yang membuat dunia saya tak hanya putih dan hitam. Masih banyak sosok lain yang juga menginspirasi saya. ada Diah Nur Aini, Mbak Dewi Krisnawati, siswa-siswa saya di SD Lamsujen, dan kawan-kawan seperjuangan. Terima kasih Allah. Penuh cinta untuk kalian, malaikat-malaikat hidup saya.

(ditemani rintik hujan, 19.41, 20-12-2012)